For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

Karmanelo TIGA BELAS

39.7K 3.1K 206

Karmanelo | TIGA BELAS | 21.08.14|

"Ngapain lo bawa-bawa koper segala? Kabur lo?" tanya Edgar ketika membuka pintu rumahnya.

Arjuna nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Gar, gue bisa nginep di rumah lo nggak? Malam ini aja," kata Arjuna dengan tampang memelas.

Edgar terkekeh lalu merangkul pundak Arjuna dengan akrab. Seperti yang selalu dilakukannya di sekolah. "Bolehlah, tapi lo harus cerita dulu sama gue kenapa lo bawa-bawa koper kayak gini."

"Iya, iya," ucap Arjuna. Ia mengikuti langkah Edgar masuk ke dalam rumah. Ini bukan pertama kalinya Arjuna masuk ke rumah temannya itu, bisa dibilang sebulan sekali ia menginap di sini. Seperti biasa, rumah ini hangat, nyaman, dan ... berisik.

"Edgar! Di mana lo sembunyiin kutang gue yang warna merah polkadot?!" seru seorang cewek berambut cokelat nyaris melewati bahu. Arjuna tahu, itu Niki, kakak kedua Edgar. Cewek itu menghampiri Edgar dengan kedua tangan di pinggang.

"Apaan deh, Kak. Mana gue tau," kata Edgar ogah-ogahan.

"Di mana lo sembunyiin kutang gue! Ngaku hayo ngaku?!" todong Niki dengan mata melotot.

"Kenapa sih, setiap ada kutang yang hilang gue yang disalahin?!" teriak Edgar frustasi.

Niki mencibir lalu dengan seenak hatinya menjambak rambut Edgar. "Nggak usah ngeles, deh! Kemaren yang abu-abu lo sembunyiin di bawah bantal, kan?! Bundaaaa! Edgar mainan barang-barang Niki lagi!"

Arjuna mengernyit mendengar pertengkaran yang sudah biasa itu. Edgar memang aneh. Menurut cerita, katanya, dari kecil Edgar suka banget mainan bra kakak-kakak perempuannya. Entah apa motifnya, yang jelas, kutang di jemuran sering banget hilang. Seminggu kemudian, kutang-kutang itu ditemukan di kolong tempat tidur Edgar.

"Kalian berisik banget, sih? Udah deh, Gar, ngomong yang jujur," kata kakak laki-lakinya sambil lalu.

Edgar melirik Arjuna yang seperti menahan tawa. Dengan dagu terangkat tinggi dan wajah tanpa dosa, dia berkata, "Kemaren udah Edgar jadiin kado buat mantan."

"HAPAAH?!"

***

Bunda menyeka air matanya yang kembali jatuh setiap mengingat wajah Arjuna yang memohon maaf padanya siang tadi. Ia tahu itu suatu kesalahan. Tidak seharusnya ia menyuruh anak itu pergi. Bagaimana pun juga, Arjuna sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

Rasa marah, dan kecewalah yang membuatnya bersikap seperti tadi. Bukan hanya masalah Arjuna yang ternyata memang mendekati Bintang, tapi juga ucapan Arjuna yang mengatakan kalau ia tidak memberi kesempatan pada mamanya dulu. Sungguh, sulit baginya menerima kehadiran wanita lain di dalam rumahnya. Kehadiran orang ketiga adalah hal terburuk dalam rumah tangga seseorang.

"Bunda ...?" Seruan lembut itu membuatnya menoleh ke belakang. Dilihatnya Jevilo tersenyum hangat padanya.

"Hem," sahutnya pelan.

"Ngapain, Bunda? Makan malam, yuk!" ajak Jevilo setelah menyentuh pundaknya.

"Bunda nggak lapar. Kalian aja duluan," kata Bunda, lagi-lagi suaranya terdengar pelan.

"Ini udah mau jam sembilan, Bun." Jevilo menegaskan.

"Bunda nggak lapar," Bunda menyahut tak kalah tegas.

Jevilo diam sebentar. Ia menarik tangannya dari pundak sang bunda lantas bersandar di kusen jendela. "Jevilo tau, Bunda pasti lagi mikiran Juna. Mikirin dia makan apa malam ini, tidur di mana, lagi ngapain, iya kan?" cecar Jevilo.

KarmaneloBaca cerita ini secara GRATIS!