twenty

7.8K 211 1

"Ata!"

Ata menoleh dan menemukan Tari di belakangnya. "Oh, hai Tar!"

Tari berlari menghampiri. "Makasih ya, yang tadi siang"

"Yang sama Vero? Bukan apa-apa itu"

"Kalo bukan karena elo, nggak mungkin gue bisa kabur. Sekali lagi, thank's ya!"

"Anytime Tar!"

"Sore ini ada acara nggak?"

"Nggak sih, kenapa emang?"

"Temennya Kak Oji ulang tahun. Kebetulan dia punya banyak voucher pizza dan udah mau expired. Elo mau ikut nggak?"

Ata terlihat berpikir. Jika orang lain yang mengajaknya mungkin ia akan langsung menerimanya.

"Kenapa? Nggak enak sama Kak Ridho dan Kak Oji ya?"

Ata mengangguk.

"Ini ide Kak Oji kok. Dia beneran ngajak lo untuk makan bareng"

"Hmm... okelah. Gue juga lagi nggak sibuk"

"Yuk kumpul di parkiran. Mereka udah ada disana"

****

Mereka telah berada di dalam resto yang menyajikan masakan italia. Satu loyang pizza bertopping daging keju dan jamur tinggal setengah bagian. Sementara yang satu loyang sebelahnya habis tak tersisa. Di tengah meja satu porsi besar lasagna bahkan hanya tinggal loyang keramiknya saja.

"Makasih lho Dis udah traktir kita semua. Padahal baru kenal" Ridho terkekeh pura-pura menikmati. Padahal pizza bagiannya sudah dingin di atas meja. "Sering-sering aja" sambungnya lagi untuk menutupi ketegangannya. Di antara beberapa orang hanya Ridho yang tidak menyetujui kehadiran Ata. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Itu mah mau lo aja, kuya!" Oji menyela.

Tanda tanya tentang hilangnya Ari masih memenuhi kepala Ridho. Hubungan Ari dengan Ata yang tidak bisa dibilang baik, juga sikap Ata yang tidak transparan membuat dugaan-dugaan buruk muncul dalam otaknya. Berada dalam satu tempat dengan orang yang membuatnya risau seperti ini tak menyisakan keinginan apapun selain mencekal Ata sambil bertanya dimana dan apa yang terjadi pada Ari.

Adis tersenyum lebar. "Enggak apa-apa kok. Aku seneng kalo banyak yang ikut. Vouchernya dua hari lagi expired, kan sayang banget"

"Lo sekolah dimana Dis?" Tanya Tari.

"Sekolah Harapan Bunda" Oji yang jawab. Dengan mulut yang penuh seperti itu Oji yakin Adis sulit berbicara. Dari sudut matanya ia melihat Adis tersenyum sambil mengangguk dan mengunyah.

Ponsel Oji berdering. Sederet nomor yang baru pernah dilihatnya. Resto dalam kondisi ramai. Ia ambil inisiatif untuk keluar agar bisa mendengar lebih jelas.

"Ya. Halo!"

"Elo dimana?" Tanya si penelepon langsung.

"Ng? Lagi makan di luar" jawab Oji bingung. Sudah satu minggu ia tidak mendengar suara ini. Yang membuatnya harus benar-benar yakin bahwa ini bukan kesalahan telinganya. "Bos.."

"Iya Ji. Ini gue. Nomor gue yang biasa enggak ada pulsa"

Lewat suara itu Oji merasa Ari baik-baik saja. Itu cukup melegakan. "Iya Bos. Lo kemana aja? Gue sama.."

"Lo lagi dimana?"

"Ini masih di sekitar sekolah. Di resto itali gitu. Kenapa emangnya?"

"Smsin gue detailnya ya Ji"

Oji takjub. "Lo mau kesini? Oke Boss. Bentar ya!" Oji mematikan telpon dan mengetik pesan dengan cepat. Tak lama ia kembali ke depan teman-temannya dengan senyum lebar. "Si Boss mau kesini!!"

Jingga Untuk MatahariBaca cerita ini secara GRATIS!