Like Somebody That I Used to Know

28.2K 4.6K 403
                                                  

'Tuhan, cinta ini tak bisa Kau satukan, mengapa perasaan ini masih Kau biarkan bersemayam?'

'Saya tahu bahwa segalanya kini telah berbeda. Apa yang saya kenang-kenang adalah bagian dari pikiran tentang masa lalu yang tak mungkin terulang. Saya juga tidak sedang menipu diri sendiri, segalanya hanya mimpi, dan saat ini dia masih berada di sisi saya. Bahwa kami masih menjalin cinta dengan sejuta bahagia. Saya tahu segalanya sudah berakhir. Saya juga tahu, bahwa saat ini...'

Ah bullshit!

Kututup layar laptopku dengan keras. Meski dua detik kemudian aku menyesali aksi kekerasan yang kulakukan. Buru-buru kunyalakan kembali laptopku yang otomatis berada dalam mode sleep. Laman-laman artikel galau itu kembali tertangkap mataku. Dengan segera aku menutup halaman yang membuat hatiku berdarah-darah itu. Namun laman unduhan jurnal untuk bahan paper Filsafat Ideologi yang langsung terpampang juga membuat otakku berdarah-darah!

Mas Bas, dosen Filsafat Ideologi ini memang anti-mainstream. Dosen lain biasanya menganut prinsip "selow aja dulu, mabok kemudian". Mereka jarang memberi kuis ataupun tugas di awal semester. Namun di akhir semester menjelang UAS, tugas, paper, dan makalah berdatangan. Kalau satu atau dua matkul saja sih tak masalah. Bayangkan bila ada 7 matkul, dan semuanya memberi tugas makalah. Akhir semester menjadi super seru dan sibuk.

Mas Bas berbeda. Mungkin prinsipnya adalah "sakit aja terus mumpung masih mahasiswa". Sejak awal dia sudah memberi tugas yang bikin ngos-ngosan. UAS Mas Bas pun selalu out of the box. Pernah di semester dua kemarin, di mata kuliah Filsafat budaya, saat uas bukannya ditanya kami malah disuruh nanya! Kurang kreatif apa coba?! Ketika diprotes, jawaban beliau sungguh mencengangkan. Katanya inti dari filsafat adalah bertanya. Kalau kami nggak bisa nanya, mending kami segera ikut tes penerimaan mahasiswa baru lagi saja semester depan. Dan percayalah, UAS essay 5 soal dengan minimum jawaban 1000 kata per soal jauh lebih mudah dibanding disuruh nanya.

"Udah kelar, Ra?" Maya melongok ke balik laptopku. "Idih! Apaan kok malah baca artikel gegalauan gitu?"

Aku meringis. "Bahan paper ini juga bikin gue galau, May."

Maya berdecak. "Padahal gue pengin liat tugas lo."

"Jangan sih, May. Lo nggak inget kasusnya Handoko dulu? Ketahuan plagiat langsung dikasih nilai E." Kata Donna. "Mas Bas kan orangnya teliti melek teknologi banget."

"Ya nggak copas dong Donna sayaaaang. Cuma pengin lihat doang. Siapa tahu kan gue terinspirasi dari tulisannya Rara."

Donna membalas argumen Maya. Lalu Maya membalas lagi. Dua sahabatku ini memang hobinya berdebat tentang segala hal. Agaknya mereka sangat menjiwai status mahasiswanya.

Aku? Yah, aku lebih suka hidup dalam kedamaian. Aku tidak suka perdebatan, terlebih sudah terlalu banyak perdebatan yang kudengar. Terutama perdebatan dalam kepalaku sendiri.

Jadi sementara Maya dan Donna berdebat tentang standar plagiarisme, diam-diam aku membuka lagi artikel galau yang kubaca tadi. Artikel yang sangat menonjok bahkan baru dari judulnya saja. Semakin kubaca, semakin terasa penulis menceritakan kisah hidupku. Bagaimana bisa?! Aku tidak kenal sama sekali dengan penulis ini. Kenal pun, bagaimana bisa dia menggambarkan perasaanku dengan begitu tepat dan jleb jleb jleb?

'Berkali-kali saya sempat membaca sebuah pendatan. Bahwa kita hanya membutuhkan waktu dua menit untuk jatuh cinta, tapi barangkali kita membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakannya. Hingga saat ini saya mengalaminya sendiri, saya tak pernah percaya. Saya pikir, jika saya sudah menerima kenyataan bahwa kami sudah berpisah, lantas logika saya akan membuat saya otomatis melupakan dirinya. Tapi Tuhan, kini saya benar-benar paham, bahwa bagian paling sulit dari mencintai seseorang adalah melupakannya.'

Story of You & Me (SEGERA TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang