Candy Boy (Chapter 10)

918 265 50
                                          

(Mana tahu mau sekalian dengerin musik. Bisa di play videonya.. ^^)

     Seharian itu Yoona menemani Daniel-yang menjemput paksa Yoona-agar ikut bersamanya. Mulanya Daniel meminta Yoona untuk menemaninya ke rumah sang ayah, karena jika ia pergi ke rumah itu seorang diri, ia hanya akan menjadi bahan omelan ayahnya. Tetapi jika Yoona ikut bersamanya, ayahnya akan lebih fokus pada Yoona dan melupakan amarahnya pada Daniel.

     Sore harinya mereka pergi ke sebuah kafe dan berkumpul bersama teman-teman Daniel. Entah apa maksud Daniel, kenapa juga dia harus membawa Yoona ke perkumpulan para trainee yang tak debut-debut itu. Namun walau begitu, dengan hadir disana cukup membuat Yoona merasa senang. Mereka selalu membuat Yoona tertawa.

     Beberapa dari mereka menceritakan keluh kesah selama menjadi trainee. Bahkan ada yang baru saja memundurkan diri dari sebuah agensi karena tak kuat menghadapi latihan yang super ketat. Tapi hebatnya, mereka tetap tampak ceria. Semangat seorang remaja memang tidak ada batasnya. Yoona merasa dapat memahami kondisi mental mereka. Bagaimanapun juga dulunya ia pernah merasakan kerasnya kehidupan.

     Obrolan mereka berakhir dengan sorakkan kebahagiaan. Itu karena Yoona mentraktir mereka bahkan membungkus mereka sebuah burger combo size untuk per orangnya. Tak hanya itu, Yoona juga membayar tagihan taksi yang akan menghantarkan mereka ke tempat masing-masing-termasuk Daniel yang memilih pulang bersama teman-temannya dan kini tinggal lah Yoona seorang diri dihadapan kafe-tempat dimana tadinya mereka berkumpul. Huh.. Cukup melelahkan. Tetapi senyuman tak hilang dari wajahnya.

     Malam tiba dengan suhu udara yang cukup dingin. Angin perlahan bertiup kencang sembari membawa hawa dingin. Tadinya Yoona tidak memprediksikan itu. Dari awal ia hanya mengenakan rok selutut, kemeja sutra polos, cardigan tipis dan sandal tali. Syukur ia cepat mendapatkan taksi dan bisa segera menghangatkan tubuh didalam sana.

     Berselang beberapa menit ketika taksi melaju, hujan mendadak turun. Butiran airnya menghantam kaca mobil. Usai itu senyuman tak lagi terlihat diwajahnya. Ekspresi apa itu? Yoona sedang bersedih?

     Selama ini Yoona tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu kepada siapapun, mungkin karena dia tidak ingin orang mengasihaninya. Suasana itu membuat kenangan dimasa lampau perlahan muncul di ingatannya, membuat ekspresi asing kembali timbul diwajahnya. Sepertinya selama ini Yoona sudah sangat tersiksa. Ia selalu mementingkan orang lain dan memilih menahan segala perasaan yang timbul lalu menguburnya dalam-dalam.
     "Saya turun disini saja." taksi berhenti didepan sebuah mini market.

     Yoona masuk kedalam mini market lalu keluar dari sana dengan sebuah payung transparan. Inilah tujuannya turun disana. Tidak mempedulikan udara pada saat itu, Yoona melangkah santai menuju rumahnya. Mungkin perjalanan itu akan memakan waktu selama 15 menit dengan berjalan kaki.

     Melewati barisan pepohonan yang daunnya sudah berubah warna menjadi kuning kemerahan. Ia tak sendirian. Ada banyak orang disana. Sama sepertinya, menikmati suasana itu dengan berjalan kaki, tak peduli dengan hujan yang tak juga reda. Karena sangat jarang hujan turun dimusim itu.

     Kini Yoona sudah memasuki sebuah kawasan perumahan-lokasi elit dimana rumahnya berada. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana. Tetapi tetap ada orang yang berjalan kaki disana. Sama sepertinya, menikmati keindahan dari rintik hujan dimalam hari.

     Ada yang melangkah dengan terburu-buru seakan dikejar sesuatu. Ada yang sama sepertinya, melangkah santai menikmati waktu. Tampak juga sepasang kekasih, berbagi payung sembari mengobrol di setiap langkah mereka. Perasaan sedih yang tadinya timbul tak terasa telah hilang dari pikirannya. Yoona bahkan tersenyum melihat semua itu. Tidak. Raut wajahnya mendadak sendu.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now