INI UNTUK PERTAMA KALINYA

9 5 0

Beberapa hari setelah gerimis di sore itu, tepatnya sehari sebelum ulang tahun Nana yang ke tujuh. Firman begitu senang karena sebentar lagi putri kesayangannya akan berulang tahun namun disaat yang sama di setiap tahunnya Firman juga merasa sedih karena tepat di hari kelahiran Nana juga hari di mana Hanifa menghembuskan nafas terakhirnya.

Di tempat lain, di rumah Fina. Saat itu Fina sedang duduk di atas ayunan yang ada di halaman rumahnya. Ia mengingat saat pertama kali Raihan datang ke rumahnya, ia merasa jika kenangan itu sangat manis ketika Raihan mengatakan rasa sukanya dengan gaya bercandanya sewaktu duduk berhadapan di ayunan itu. Disaat sedang melamun tiba-tiba Fina ingat sesuatu, ia ingat jika hari ini ia harus membeli kertas, tinta dan beberapa perlengkapan lainnya. Hampir semua perlengkapan alat tempur skripsinya habis. Langsung saja Fina berlari ke kamar untuk merapikan diri kemudian menuju ke tempat penjualan alat tulis.

Di sebuah toko alat tulis itu Fina melihat sebuah payung lalu ia ingat jika payung Firman yang pernah ia pakai belum di kembalikan. Seusai membeli perlengkapan ia mencoba menghubungi Firman.

"Kebetulan nih kontaknya Kak Firman tersambung dengan WA. Tapi aku harus menelpon atau di ketik aja yah? Aku kirim pesan WA aja supaya lebih tersusun kata-katanya."

Setelah berpikir merangkai kata Fina mengirim pesan kepada Firman. Di tempat lain Firman yang sedang menyetir mobil mendengar dering dari ponselnya. Kebetulan Firman menepi untuk menelpon Neneknya Nana agar memberitahukan Nana jika hari ini Firman pulangnya malam. Setelah menelpon ia membuka pesan WA yang nampaknya itu nomor yang tidak tertera di kontaknya. Kemudian ia pun membaca pesan yang bertuliskan.

"Assalamu'alaikum, Kak Firman ini Fina. Maaf jika mengganggu kesibukannya kakak. Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih atas segala bantuan dan pertolongannya. Kalau kakak punya waktu aku ingin mengembalikan payung yang pernah aku pinjam beberapa hari yang lalu. Sekali lagi maaf kak jika aku mengganggu kesibukannya."

Membaca pesan itu membuat Firman tertawa. Baginya payung itu tidak masalah walaupun Fina tak mengembalikannya. Agar tidak membuat Fina kecewa dengan kebaikannya ia bermaksud untuk bertemu dengan Fina dan disaat yang sama ia berpikir jika ada baiknya jika ia memberitahukan Fina tentang ulang tahun Nana sekalian meminta bantuan Fina untuk mempersiapkan segala macam kebutuhannya. Firman pun membalas pesan Fina.

"Kalau kamu mau ketemu, aku selalu ada waktu kok buat kamu. Kalau aku maunya hari ini kamu punya waktu tidak?"

Fina yang berjalan menuju rumah yang tak jauh dari toko alat tulis itu mendengar dering ponselnya. Ponsel yang berada dalam genggamannya langsung ditatap dan ia melihat sebuah pesan dari Firman. Ia terkejut dengan ajakan Firman yang seolah ingin bertemu hari ini. Kebetulan hari itu Fina tidak punya rencana atau kegiatan, ia pun menerima ajakan Firman.

"Kalau hari ini aku bisa kok kak, memang kakak mau ketemu dimana? Nanti biar aku saja yang ke sana kak."

Firman yang belum beranjak dari tepi jalanan mendapat balasan dari Fina. Ia berencana untuk mengajak Fina ke sebuah cafe agar lebih leluasa untuk bercerita dan juga ini untuk pertama kalinya Firman mengajak seorang wanita bertemu berdua dengannya.

"Sekitar 30 menit lagi aku jemput di depan lorong waktu itu yah... Kamu siap-siap dulu aku juga masih dalam perjalanan."

Membaca pesan itu membuat Fina mempercepat langkah kakinya menuju ke rumah untuk mengganti pakaian. Bagi Fina ini adalah pertama kalinya ia menerima ajakan seorang pria setelah kepergian Raihan.

Setelah membersihkan wajah Fina membuka lemari dan memilih baju. Setelah berpakaian Fina menatap cermin, ia menyadari jika selama ini ia tak lagi begitu peduli dengan penampilannya. Hari ini untuk pertama kalinya Fina peduli dengan keserasian pakaian dan wangi yang ia gunakan.

Disaat yang sama Raihan datang dan menatap Fina. "Mau kemana cantik, tumben rapi dan wangi." Ejek Raihan yang tak terdengar.

Sementara itu, di rumah Nenek, Nana yang berada di dalam kamar mendapat kabar dari Nenek jika Ayah hari ini pulangnya malam. Nana tidak begitu peduli karena ada Ibunya yang bisa menemani. Hanifa yang mendengar jika Firman akan pulang malam sedikit curiga dan khawatir dan demi memastikan itu ia ingin menuju ke tempat Firman.

"Nana main sama nenek dulu yah nak, kasihan nenek sendiri di luar. Nana temani nenek, ajak nonton tv neneknya nak. Ibu mau ke tempat Ayah dulu." Perintah Hanifa ke Nana.

"Iya bu... Tapi Ibu jangan lama." Bisik Nana yang manja.

Hanifa tersenyum memegang kepala anaknya kemudian mengarahkan Nana ke pintu. Setelah Nana keluar bersama Neneknya ia pun menghilang menuju ke tempat Firman berada.

Tak butuh waktu lama bagi Hanifa untuk bisa menemukan Firman. Ia muncul disaat Firman membalas pesan Fina. Hanifa pun mengerti namun ia tetap ingin mengikuti Firman bukan karena ia cemburu tapi ia takut jika yang cemburu adalah Raihan. Ia akan mencoba memberi Raihan pemahaman. Sebenarnya Hanifa sangat berharap jika Firman bisa menemukan wanita yang baik untuk bisa menjaganya dan juga untuk merawat Nana. Hanifa sempat berpikir bagaimana jika seandainya ia menjodohkan Firman dan Fina saja. Kalau dilihat Fina sangat senang dengan Nana. Fina juga orangnya hampir mirip dengan sifatnya dulu dan juga mereka berdua mempunyai rasa sedih yang sama. Hanifa berharap jika mereka bersama mereka bisa menghapus kesedihan mereka dengan kebahagiaan bersama. Tapi sebelum rencana itu berjalan hal yang paling utama yaitu Raihan. Tidak semudah itu untuk bisa membuat Raihan ikhlas melepas Fina begitu saja.

Waktu terus berlalu, Firman semakin dekat dari tempat tinggal Fina. Hanifa terus memikirkan cara bagaimana untuk bisa melaksanakan rencananya. Sementara itu Fina sudah siap dengan gaya terbaiknya namun Raihan tidak mengetahui kemana tujuan dan siapa yang ingin ditemui Fina. Semua seakan saling berkaitan dengan yang akan terjadi di pertemuan mereka nanti.

1 Kisah 4 Cinta 2 DuniaBaca cerita ini secara GRATIS!