Bab 3 (First meet)

1.1K 54 0

Ustad in love

Bab 3.

First meet.
.
.
.

(Warning: Segala hal yang kutulis disini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, typo, absurd, gaje, but this story is mine. So..... happy reading all......)

.
.
.

~Aku mulai kisah kita dengan sebuah kalam, dari susunan beberapa lafadz yang mufid, terkhusus untuk dirimu dengan penuh makna.~

.
.
.

Gadis bercadar dengan pakaian syar'i yang begitu anggun itu melangkah dengan tergesa disepanjang kloridor pesantren  yang nampak sepi. Sesekali manik coklatnya melirik jam di pergelangan tangannya. Langkahnya kian cepat dan pandangannya masih menatap objek yang sama.

'Bruk..'

Kini langkahnya terhenti dengan badan yang menghuyung ke belakang dan mungkin punggungnya sebentar lagi akan merasakan sakit karena terbentur lantai. Matanya terpejam.

1 detik.

2 detik.

5 detik.

Tak ada rasa sakit melainkan tubuhnya seperti tertahan oleh sesuatu. Menarik nafas, Ia membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dilihatnya justru membuat jantungnya berdegub kencang. Mata coklat itu, hidung mancung, bibir tipis dan juga wajah teduh yang selama ini selalu menghantui mimpinya. Sesaat keduanya bergeming, terpesona dengan keindahan manik mata masing-masing sebelum sebuah suara menyadarkan keduanya.

"Neng Najma." Panggil mbok Asih dari kejauhan. Ia adalah wanita paruh baya yang menjadi abdi keluarga kyai Hasim, pengasuh pondok pesantren Al-muqqorobin. Pesantren terbesar di Jawa tengah yang terletak di kota Yogyakarta.

"Afwan ukhti, saya tidak sengaja." Ucap sosok yang kini melepaskan tangan kokoh yang menahan tubuh mungil Najma dan membantunya berdiri.

"Tidak apa-apa akhi, seharusnya saya yang minta maaf." Balas Najma seraya menunduk, menyembunyikan rona merah dipipinya yang tertutupi cadar.

"Neng dicari sama pak kyai,  katanya disuruh ke ruangannya." Kata mbok Asih sesopan mungkin setelah sampai di depan mereka. Matanya melirik ke arah kanan dimana berdiri seorang pemuda dengan baju koko putih yang kini tengah memunduk. Pemuda yang tak lain adalah Fandi yang baru saja kembali ke pesantren tempatnya mengajar.

"Iya mbok, kalau begitu kami permisi dulu ya ustad Fandi, Assalamualaikum." Ucap Najma lembut lalu berjalan diikuti oleh mbok Asih di belakangnya.

"Waalaikumsalam" jawab Fandi.

Bibirnya membentuk senyum tipis melihat dua orang, ah maksudku satu diantara dua orang yang kini mulai menghilang di tikungan kloridor. Hatinya bergetar mengingat manik mata yang memandangnya tanpa berkedip juga kini Ia menatap kedua tangannya yang tadi sempat merengkuh tubuh gadis itu, gadis yang menjadi alasannya berjuang mati-matian agar bisa lolos seleksi saat dirinya mendaftarkan diri untuk menjadi pengajar disini dulu. Andai saja tangan itu bisa lebih lama merengkuhnya, ia akan sangat bersyukur dan berjanji dengan tangan itu Ia akan selalu melindungi gadis tadi, menghapus air matanya kala kala dia  menagis dan mencubit hidung mungilnya saat mereka bersendau gurau.

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!