Kenyataan

190 15 14
                                        

"Albafica!!! " sang Pope membuka pintu kamar dengan keras.

"Maafkan Albafica Master Lugonis, karena Albafica, Master ... " belum selesai aku mengucapkan kalimat tersebut, sang Pope sudah mengulurkan tangannya untuk memelukku.

"Albafica, kau pasti sangat trauma setelah mengetahui bahwa pilihan yang kau ambil telah membuat gurumu tiada. Kau selalu bermimpi buruk dan selalu terbangun dengan menangis sambil menyalahkan dirimu sendiri. Saya sebagai pemimpin dari para saint, tidak akan membiarkan kamu berlalu dengan kesedihan ini" sang Pope mendekatkan tangannya kearah kepalaku dan mengalirkan cosmonya untuk membuatku kembali terlelap.

"Akan kubawa kau besok kepada Krest, supaya kau bisa melupakan kejadian pahit itu. " direbahkannya kembali diriku dan ditutup nya pintu kamar secara perlahan nyaris tanpa suara.

Sudah lebih dari seminggu aku selalu terbangun dengan menangis sambil menyalahkan diriku sendiri, setelah mendapatkan mimpi buruk karena frustasi mengetahui bahwa aku telah membunuh guru sekaligus ayah bagiku.

Sang Pope yang mengetahui bahwa Lugonis telah mempertaruhkan nyawanya supaya aku menjadi seorang saint gold Pisces, menjemputku untuk tinggal bersamanya di Pope's Chamber sampai aku menjadi seorang saint gold Pisces selanjutnya menggantikan Pisces Lugonis.

-0oo0oo0-

"Sekaran, pilihlah... Jalan untuk menjadi manusia atau jalan menuju racun?. Secara alami kau ketakutan, kau harus segera pergi dari taman ini. "

"Tidak, aku bukan penakut. Master, untukku, seorang yatim piatu, anda dan tanaman inilah satu-satunya dunia untukku! Aku akan tetap disini, jika aku pergi sekarang aku akan merasakan kesendirian dan anda juga sendiri, Master... "

"Albafica. "

"Aku akan dengan senang hati membentuk ikatan merah darah Pisces denganmu! "
.
.
.
.
.
.
"Ugh... Mimpi itu lagi. " aku terbangun dari tidur nyenyakku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pusing dan berat.

"Kenapa kepalaku selalu terasa pusing dan berat ketika memimpikan hal itu? "

"Ah, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. " aku beranjak dari ranjangku dan bersiap untuk mengemban tugas sebagai seorang saint gold Pisces.

Sudah seminggu ini aku selalu memimpikan hal yang sama setiap malamnya. Hingga akhirnya aku mulai berpikir bahwa mimpi itu bukanlah mimpi biasa, melainkan seperti kejadian masa lalu yang tidakku ingat.

Setelah mengenakan cloth Pisces, aku pun segera menuju Pope's Chamber untuk menemui sang Pope yang akan memberitahukannya tentang misiku hari ini.

"Seperti biasanya Albafica, kau selalu datang tepat waktu. " sang Pope tersenyum melihatku datang.

"Tentu saja Pope, saya sebisa mungkin tidak akan terlambat melakukan tugas saya sebagai seorang saint. " aku duduk berlutut dihadapan sang Pope dengan wajah yang sedikit pucat.

"Apa ada yang salah Albafica? kau teiaihat agak pucat. Apa kau sakit? " sang Pope memastikan apakah keadaanku baik-baik saja.

"Ah, tidak kenapa anda menanyakan hal seperti itu? " aku tersentak mendengar pernyataan sang Pope.

"Benarkah? Apa perlu saya minta Degel untuk memeriksamu? "

"Tidak, tidak perlu Pope, saya baik-baik saja. Bisa saya tau apa misi saya Pope? Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah, ada beberapa Specter terlihat di bagian barat Sanctuary. Bisakah kau membereskanya Albafica? " sang Pope menjelaskan tentang misiku meski ia terlihat meragukan keadaanku.

"Tentu saja Pope, kalau begitu saya permisi. " aku segera beranjak meninggalkan Pope's Chamber setelah mendapatkan misiku.

"Aku punya firasat aneh tentang anak itu, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya."

Is my choice wrong? Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang