Candy Boy (Chapter 9)

877 239 51
                                          


     Dia berada disebuah kamar berukuran kecil yang hanya terdapat satu alas tidur disana –tempat dimana dirinya tengah berbaring saat ini. Eujin baru saja bangun dari tidurnya. Tadinya ia pingsan dan tak sadarkan diri selama 13 jam lamanya. Kini hari sudah malam dan udara semakin terasa dingin.

Apa ini?

     Sesuatu menyelimutinya. Tidak hanya sebuah selimut, ada juga sebuah jaket berukuran kecil berwarna coklat dan sebuah syal yang sudah melingkari lehernya. Sesaat ia sadari lagi, ada handuk di keningnya. Ia temukan juga sebuah baskom berisikan air di sampingnya. Melihat kondisi disana, tentu ia tahu. Seseorang pasti telah merawatnya.

"Yak Yoona! Dimana kau?!!" tiba-tiba saja terdengar teriakan orang dari luar kamarnya. "sini kau! Cepat telepon ibumu!" pria itu baru saja pulang dan kini dalam keadaan mabuk. Ia melempar ponselnya kepada gadis kecil itu—yang ternyata bernama Yoona.

"Tidak aktif." Jawaban itu diiringi isak tangis. Dalam diam Eujin dapat mendengar dengan jelas percakapan itu.

"Apa dia sama sekali tidak peduli padamu? Sudah sebulan lebih aku menculikmu kesini! Kenapa dia tidak datang juga, hah?!!" tubuh Eujin meremang seketika. Kecurigaannya selama ini ternyata benar. Tapi, apa hubungan pria itu dengan ibu gadis kecil itu? Aa, namanya Yoona?


     Sebenarnya ia masih sangat lemah. Ia masih demam dan ketika hendak duduk, rasa pusing langsung menarik tubuhnya untuk segera berbaring. Huh, kumohon. Tidak untuk saat ini. Ujarnya untuk dirinya. Ia kuatkan tubuhnya untuk kembali duduk.

"Aa.. Apa aku harus mengirim video kau kepadanya? Mungkin aku harus lebih kejam padamu."

"Paman, kumohon! Maafkan aku! Paman!" lalu suara erangan pun terdengar. Teriakan hingga tangis. Kecemasan memburu Eujin untuk bergerak cepat. Sialnya, dunia yang tengah ia lihat mendadak berputar, membuatnya pusing hingga kembali tak sadarkan diri.


--


     Saat ini ia tengah mengamati kondisi dirinya. Masih sama seperti pertama kali ia sadarkan diri pada malam itu. Masih dengan sebuah selimut, sebuah jaket yang bertumpu diatas selimut, lalu sebuah syal yang tetap setia berada di lehernya. Cukup menghangatkan tubuhnya, yang syukurnya kini sudah lebih baik. Karena ia berhasil duduk bahkan berdiri dengan tegak.

     Pemandangan diluar rumah terlihat dari balik jendela kamar itu. Pemandangan saat itu hanya salju, yang menumpuk di segala tempat. Bahkan sampai menimbun objek hingga tak terlihat. Benar sekali, ia baru mengingat itu. Kakinya segera melangkah cepat keluar dari kamar itu. Ia cemas bukan main, penasaran dengan keadaan Yoona—si gadis kecil.

"Eonni, kau sudah bangun? Apa kau sudah sehat?" dengan senyum manisnya, Yoona menyapa. Gadis kecil itu sedang memasak bubur? Eujin amati wajah yang tengah memperlihat senyuman itu. Tampak bekas luka disudut bibirnya, dan juga di pelipis mata sebelah kanannya.


     Eujin edarkan matanya ke ruangan itu. Ia tidak menemukan pria itu. Ia melihat sebuah pintu di sudut ruangan itu. Kakinya langsung melangkah cepat lalu membuka pintu itu. Itu sebuah kamar yang sangat berantakan, bau rokok dan alkohol. Tapi pria itu tidak ada disana.

"Dimana dia?" tanya Eujin setelah kembali ke dapur dimana Yoona berada. "katakan padaku, dimana dia!" dan tak sengaja membentak Yoona. Tentu gadis kecil itu tersentak kaget. "mianhae." Eujin menarik nafas sejenak. Ia harus bisa menahan amarahnya. Karena ada yang lebih penting dari pada mencari keberadaan pria brengsek itu.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now