Bab 3

2.7K 444 28
                                    

Karya ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta no. 28 tahun 2014. Segala bentuk pelanggaran akan diselesaikan menurut hukum yang berlaku di Indonesia.

IG @Benitobonita

Perahu yang ditumpangi Hades bergoyang pelan saat sang Dewa memutuskan untuk turun di tepi daratan. Pria itu mengamati Erebus dengan saksama.

Aroma pengap dan aura mencekam seakan menjalar pada sekujur tubuh Hades. Dia menarik napas dalam-dalam dan tersenyum kecil. Tidak berbau busuk seperti di dalam perut Kronos dan tidak ada suara berisik dari para saudarinya ataupun Poseidon.

Dua cabang besar terlihat di depan mata. Hades terdiam beberapa saat. Dia bisa berjalan lurus untuk menuju pintu ke dunia luar atau pria itu bisa ke kiri, ke daerah gelap yang bahkan jauh lebih sunyi dari tempat ini.

Hades berjalan beberapa langkah ke depan. Namun, ingatan pria itu tiba-tiba kembali saat kericuhan terakhir yang melibatkan Demeter, Poseidon, dan Zeus. Gerakan sang Dewa terhenti seketika sebelum dia memutar tubuh untuk menuju ke tempat asing yang belum pernah dikunjungi olehnya.

*****

Sebuah gua yang tersembunyi di dalam kegelapan berada di sisi kanan jalan yang berbatu. Hades mengamati aliran sungai yang berasal dari tempat itu dengan rasa tertarik.

"Sungai Lethe …," gumam Raja Dunia Bawah merunduk untuk mengamati pantulan wajahnya dari air yang mengalir tenang. "Mungkin aku harus meminumnya agar dapat melupakan seluruh kenangan buruk."

Suara kepakan sayap tidak jauh darinya mencuri perhatian Hades. Pria itu menegakkan tubuh, lalu berbalik untuk mendapati dua orang pemuda yang memiliki wajah serupa. Namun, yang satu bersayap putih dengan rambut hitam pendek dan yan lainnya bersayap hitam dengan rambut hitam sepanjang bahu berdiri bersisian di depan gua dan menatapnya dengan sikap hormat.

"Hades, selamat datang di Dunia Bawah," sambut pemuda berambut pendek sedikit membungkuk.

"Thanatos …." Hades mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah pemuda lain yang juga merunduk. "… dan Hypnos, putra kembar dari Nxy dan Erebus."

"Kharon, kakak kami menceritakan kepada kami bahwa kau ingin melihat-lihat tempat tinggal kami," ucap Thanatos dengan nada ramah. "Aku dapat memandumu."

Hypnos menguap lebar sambil menutup mulut dengan telapak tangan kanan. "Maafkan aku. Aku mudah sekali mengantuk."

Senyum tipis terbentuk pada bibir Hades. "Hypnos, sang Dewa Tidur …."

Mata Hypnos mengerjap dengan ekspresi kebingungan. Namun, Hades tidak mengindahkannya. Raja Dunia Bawah melangkah mendekati pintu gua yang tertutup oleh bsrbagai jenis bunga beraroma memabukkan, lalu berkata, "Tunjukkan rumah kalian …."

Kedua pemuda itu membuka untaian bunga yang digunakan sebagai pintu masuk sebelum Thanatos berkata, "Rumahku ada pada sisi kanan dan milik Hypnos di sisi kiri. Kau mungkin lebih tertarik menjelajah tempat saudaraku karena milikku jauh lebih kecil."

Hades tidak mengeluarkan suara bantahan. Raja Dunia Bawah melangkah masuk semakin dalam ke tempat kediaman Hypnos.

Luar biasa gelap dan hening. Tidak ada setitik cahaya ataupun suara yang berhasil menembus dari luar. Hanya gema langkah Hades dan kedua pemuda yang mengikutinya.

Raja Dunia Bawah melihat sebuah ranjang besar yang terbuat dari kayu hitam berada di tengah ruangan. "Di sinikah tempatmu beristirahat?"

"Di sini aku bisa berhubungan dengan para manusia bahkan dewa lain dalam mimpi mereka," jawab Hypnos dengan ekspresi penuh damba mengamati ranjangnya. "Aku dapat membantu mengirimkan pesan melalui mimpi."

"Bagaimana denganmu, Thanatos?" Hades tiba-tiba berbalik untuk bertanya. "Apakah kau juga sama seperti kembaranmu?"

Thanatos refleks menggeleng. "Hypnos dalam tidurnya juga menolong manusia yang menginginkan  istirahat singkat mereka. Namun, aku lebih memilih untuk membantu mereka yang membutuhkan istirahat abadi …."

"Kematian …," jelas Hades yang disambut dengan anggukan penuh antusias dari Thanatos.

"Maka terjadilah." Hades tersenyum kecil mengamati kedua bawahannya. "Thanatos, Dewa Kematian. Kau memiliki tugas untuk menjemput para arwah manusia dari Dunia Manusia, sedangkan Hypnos … sang Dewa Tidur, pakailah waktumu dalam tidur untuk menyampaikan pesan para dewa."

Kedua pemuda itu merunduk dengan sayap yang terlipat rapi pada balik punggung. Hades melihat sekali lagi tempat sunyi yang sangat menenangkan itu sebelum memutuskan untuk keluar sambil bergumam, "Thanatos, persenjatai dirimu dengan sebilah pedang. Kau mungkin membutuhkannya ketika berada di Dunia Manusia."

"Baik, Hades." Dewa Kematian mengekor keluar, lalu mencari benda yang dapat digunakan sebagai senjata.

*****

Hades membiarkan Thanatos terbang menjauh sebelum dia kembali berjalan. Tidak jauh dari gua milik Hypnos terlihat seorang gadis bersayap yang berjalan anggun dengan menggenggam ranting pohon apel.

Dewi itu menatap Hades dengan pandangan terkejut sebelum merunduk memberikan hormat. "Hades, suatu kehormatan untuk bertemu denganmu di sini."

"Nemesis, Dewi Pembalasan …," sapa Hades sambil mengamati roda kecil yang digenggam oleh tangan kiri sang Dewi. "Mengunjungi orang tuamu? atau saudaramu?"

Nemesis mengangguk kecil. "Aku baru bertemu dengan Kharon. Dia menitip beberapa batang kayu untuk menambal retak pada perahunya akibat harus membawa sapi-sapi milikmu menyeberang."

Hades menutup mulutnya. Dia tidak mau terlibat dalam proses perbaikan perahu, terlebih Kharon sudah mengungkapkan keinginan untuk merenovasi perahu miliknya menjadi dua tingkat lengkap dengan berbagai aksesoris.

Raja Dunia Bawah mencoba mengalihkan pembicaraan. "Di mana kau tinggal? Apakah kau berbagi gua dengan Thanatos atau Hypnos?"

Tubuh Nemesis merinding seketika. Dia menatap ke arah gua tempat tinggal kedua saudaranya sebelum menjawab, "Tidak, aku lebih suka berada di Dunia Manusia … Hypnos selalu mendengkur dan Thanatos …, aku merasa dia membutuhkan pekerjaan …."

"Thanatos telah mendapatkan tugas untuk membimbing arwah manusia menuju Dunia Bawah," potong Hades, "… dan bagaimana denganmu? Apa pekerjaan yang kau inginkan?"

"Apakah kau dapat memberikan jabatan untukku?"  Nemesis membalas pandangan Hades dengan ragu.

"Katakanlah apa keinginanmu?"

Gadis itu menggunakan ranting untuk memutar roda yang berada di dalam genggamannya. "Aku ingin dapat terlibat lebih dalam kehidupan manusia. Aku ingin memberikan keadilan bagi mereka. Tidak ada yang boleh terlalu beruntung dan tidak ada yang boleh terlalu menderita … semua sama di depan mataku …."

"Begitu pula para arwah mereka." Senyum Hades mengembang. Dia menyukai pola pikir dewi yang ada di hadapannya. "Mereka akan mendapatkan keadilan sesuai kebaikan dan dosa yang mereka perbuat."

Nemesis terkikik dan menutup mulut dengan telapak tangan. "Aku menyukainya …. Kau memberikan keadilan bagi arwah manusia yang telah meninggal dan aku memberikan keadilan bagi manusia yang masih hidup."

"Apakah kau akan pergi ke Dunia Manusia sekarang?" tanya Hades penasaran. Dia berharap gadis itu lebih memilih tinggal lama di Dunia Bawah.

"Ya …." Mata Nemesis berkilat jenaka. "Aku telah memiliki banyak rencana yang harus dikerjakan."

"Pergilah," ujar Raja Dunia Bawah sambil menghela napas panjang. Dia juga harus mengurus banyak hal sebelum dapat memerintah Dunia Bawah dengan baik.

Nemesis mengangguk kecil. Gadis itu berbalik, lalu mengepakkan sayap menuju Dunia Manusia.

Pembaca yang baik hati, tolong tekan tanda bintang^^

Mampir juga ke Puerro kisah seorang gadis siluman yang berusaha menggapai Langit.

Sons of Kronos [ Buku 1 Mitologi Yunani ] Telah DiterbitkanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang