Virgin

48K 4.3K 1.9K

Aku nggak tahu kenapa aku pengin telepon Dave setelah itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku nggak tahu kenapa aku pengin telepon Dave setelah itu. Aku tahu dia masih kerja. Dia baru sampai di Washington pagi ini. Jadwal di sana padat banget. Aku tahu aku bakal ganggu dia. Tapi, kurasa cuma dia yang ngerti jalan ceritaku sama Heath. Cuma dia yang tahu bagaimana rasanya patah hati yang sepatah-patahnya.

"Glace, aku briefing," bisik Dave di telepon.

"Sori, Dave. Aku cuma mau bilang kalau Heath ... sama cewek lain."

Oke. Aku sebenarnya nggak pengin cengeng. Mau gimana lagi. Aku sudah menangis sejak teleponan sama Archie itu.

"Kok bisa?" tanya Dave lagi setelah diam sebentar.

"Tadi Archie video call. Terus aku lihat Heath sama cewek di resto. Dia sampai rela ninggalin Archie makan sendirian, loh. Padahal setahuku dia nggak kaya gitu."

Dave diam saja.

"Sori ya, Dave. Aku malah telepon kamu. Aku nggak tahu lagi harus telepon siapa. Aku ... aku bingung. Ternyata memang aku nggak ada gunanya buat dia. Kukira dia juga mikirin aku sejak kami pisah. Ternyata, dia benar-benar melupakan aku."

Aku pengin berusaha nggak nangis, tapi nggak bisa. Air mataku tetap ngalir samlai hidungku mampet.

"Glace, maaf ya. Saat kaya gini aku malah jauh dari kamu."

"Nggak apa-apa. Aku cuma pengin ada yang dengar curhatanku aja. Bye, Dave. Kapan-kapan kita ketemu lagi."

"Kamu jadi balik ke Indonesia?"

"Kayanya jadi. Buat apa juga aku di sini?"

"Aaron?"

Aku terdiam. Iya, sih. Seharusnya aku memikirkan Aaron. Kenapa aku harus memikirkan Heath?

Kuembuskan napas keras-keras. "nanti deh kupikirkan."

"Take care, Glace. Kalau ada apa-apa, telepon lagi aku, ya. Nggak apa-apa, kok. Aku pernah ngerasain yang kaya gitu."

Aku tertawa. "Sok bijak lo!"

"Bye!" katanya sambil menutup telepon.

Aku nggak bisa bohong kalau hari itu aku nangis terus lagi. Walau aku sudah pergi ke tempat spa, tetep aja aku nggak bisa berhenti nangis. Mbak-mbak kulit hitam gemuk yang mau mijitin aku sampai bingung.

"Sorry, I'm just ... it just ..." Aku nangis kenceng. "Broken heart."

Nggak kuduga, mbak itu malah memelukku. Dia diam aja sampai lama banget. Kayanya dia sengaja membiarkanku nangis di pelukannya.

"I've been there," katanya dengan suara lembut kaya mamak-mamak. "Aku mencintai seorang laki-laki. Aku punya anak dari dia. Tapi, waktu aku melahirkan, dia pergi untuk menikahi gadis lain di Nevada."

"Kok bangke?" kataku dalam bahasa Indonesia. Pas sadar dia nggak ngerti, kuralat, "sorry. I am from Indonesia. It means ass hole."

Dia tertawa. "Yes, he is. But life must go on, right? I'm with better man right now. He loves me and I love him so much. My girl loves him too. Guess what, we are sooo damn happy right now. Not rich, but happy." Dia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang besar-besar dan putih bersih. "Tepat seperti yang kuinginkan."

Nasty Glacie (Sudah Terbit - Rainbow Books)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang