~ HANIFA [Tiga]

12 4 0

BAGIAN III
Pertemuan Kami

Tepat pukul 11.00 disaat Firman datang menjemput Nana. Aku melihat Firman dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang kelas. Mungkin dia takut jika anaknya hilang atau ikut dengan orangtua siswa yang lainnya. Andaikan kamu tahu mas kalau ada aku disini.

Tepat pada saat itu juga para siswa berhamburan karena memang sudah jam pulang sekolah. Terlihat Firman gelisah mencari Nana yang berada di sampingku. Aku hanya bisa tertawa melihat Firman gelisah mencari putrinya.

"Nana.. Itu Ayah di sana nak" Bisikku ke Nana sambil menunjuk Firman.

Setelah saling menatap dengan Ayahnya Nana pun berlari menghampirinya dan begitupun Firman menghampiri dan memeluk dan menggendong Nana. Aku merasa terharu dengan mereka berdua. Aku berharap semoga di kehidupan yang akan datang aku dihidupkan kembali bersama mereka yang ku sayangi.

"Ayah rindu deh sama Nana" Kata Firman yang mencium Nana.

"Nana juga rindu Ayah" Peluk Nana ke Ayahnya.

"Ayah sebentar sore Nana mau ke rumah nenek yahh" Kata Nana.

"Iya tuan putri.. Kalau begitu kita pulang dulu yah ganti pakaian dulu" Bujuk Firman.

Merekapun melangkah ke arah mobil yang terparkir di seberang jalan sekolah. Perlahan pun aku mengikuti mereka sambil menatapnya dengan bahagia. Saat itu aku pun ikut ke dalam mobil.

"Nana lapar nak?" Tanya Firman.

"Kita singgah makan dulu yah nak, Ayah lapar nih"

"Iya Nana juga lapar" Jawab Nana.

Firman dan Nana memang sering makan diluar jika tak ada Ibu atau Mertuaku yang datang ke rumah. Terkadang aku merasa kasihan dengan mereka yang selalu merasakan makanan luar rumah. Mereka juga tak pernah merasakan masakan seorang Istri dan Ibu. (Padahal aku ini jago masak loh!) Terkadang aku juga ingin jika Firman mencari Istri namun di satu sisi aku belum merasa begitu siap untuk melihat Firman bersama dengan wanita lain dan juga aku belum siap jika Nana harus membagi kasih dengan wanita lain. Sampai saat ini Firman belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan wanita lain semenjak kepergianku. Aku sangat bangga padanya walaupun terkadang aku melihat banyak kontak wanita di HP nya.

Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di sebuah warung yang tak jauh dari kompleks perumahan kami. Di warung itu dulu kami juga sering makan bahkan sewaktu hamil dulu diam-diam aku makan disana. Mungkin Firman sering makan disini karena masih belum bisa melupakanku dalam pikirannya.

Disaat memesan makanan dari arah belakang tampak seorang wanita berjalan menuju warung dan benar itu adalah wanita yang tadi pagi. Aku juga melihat pria yang selalu mengikutinya. Wanita itu hanya berlalu melewatiku menuju ke dalam warung. Pria yang bersamanya langkahnya terhenti disaat dia menyadari tatapanku. Saat itu aku memberi senyum kepadanya dan lagi-lagi dia tampak sangat heran.

"Apakah Ibu senyum padaku?" Tanya si pria itu padaku.

Benar dugaanku jika dia itu juga makhluk ciptaaNya yang sudah tak bernyawa atau biasa disebut hantu bagi mereka yang masih bernyawa.

Nama Pria itu adalah Raihan. Dia seorang Pria yang telah meninggalkan dunia ini sejak setahun yang lalu. Entah apa yang membuatnya kembali ke dunia ini tapi aku yakin bahwa cinta lah yang membuatnya datang kembali. Dia bercerita tentang masa lalunya padaku dan aku bisa merasakan dan mengerti apa yang dia rasakan. Kurang lebih kisahnya hampir mirip dengan kami namun saja mereka belum sempat menikah dan tinggal bersama.

Raihan berkata dan meminta bantuanku untuk menyampaikan pesannya kepada wanita yang dia cintai. Nama wanita itu adalah Fina dia adalah seorang wanita yang tampak begitu tegar namun pada kenyataannya dia sangat rapuh dan penuh dengan kesedihan yang mendalam.

Di tengah pembicaraanku dengan Raihan tiba-tiba Firman dan Nana selesai makan dan merekapun menuju ke arah mobil tempat dimana aku dan Raihan berbicara. Dengan cepat aku mengakhiri pembicaraan dan segera masuk ke dalam mobil.

Sampai saat ini Raihan belum mengetahui bahwa aku ini juga adalah makhluk seperti dirinya. Mungkin Raihan beranggapan jika aku ini adalah seorang Ibu yang punya kekuatan khusus yang dapat melihat dan berbicara dengannya. Bahkan aku tak pernah bercerita banyak tentang diriku, mungkin ini belum saatnya. Mungkin suatu saat aku akan ceritakan semuanya ke Raihan.

Di siang hari itu disaat kami menuju ke rumah. Aku melihat wanita yang bernama Fina tampak kelelahan akibat panasnya matahari sedang berjalan. Raihan selalu ada setia menemani dan menjaganya meski tak seorang pun yang dapat melihatnya.

"Nana.. Kakak yang di depan itu disuruh ikut di mobil saja nak" Bisikku ke Nana.

Nana paham maksudku dan berbalik menyampaikan ke Ayahnya.

"Ayah.. Itu kan kakak yang tadi? Kita antar saja dia" Kata Nana.

Saat itu Firman tanpa berpikir panjang mencoba menepi dan Nana juga membuka kaca mobil sambil mengeluarkan kepalanya berteriak dan melambaikan tangan memanggil Fina. Tampak dari arah belakang Fina berlari menghampiri Nana. Saat itu Firman mengajak Fina dan menawarkan untuk mengantarnya karena pada saat itu Fina searah dengan kami. Tampaknya Raihan sedikit keberatan jika Fina ikut namun aku mencoba meyakinkannya dan akhirnya Fina ikut bersama kami.

Di mobil aku menatap Fina sambil mencoba merasakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Sekejap aku bisa merasakan perasaan yang begitu sedih juga perasaan yang sangat rindu. Selama ini Fina hanya seolah-olah menunjukkan keceriaannya di depan semua orang. Anak ini belum bisa bangkit sepenuhnya atas kepergian Raihan. Dalam hati ini aku sangat ingin membantunya namun aku harus berbuat apa? Sepertinya aku harus menemui Raihan.

1 Kisah 4 Cinta 2 DuniaBaca cerita ini secara GRATIS!