05. Dating (1)

5.5K 796 294
                                                  

Rasa kantuk datang tanpa diundang, dan lagi aku terlelap didalam dekapan pria Kang yang mengendong dan memelukku erat saat didalam mobil.

Mungkin karena wangi tubuhnya, aroma khas kayu manis, rempah dan bau keringat. Eh? Keringat? Kenapa ia berkeringat padahal suhu selalu dibawah 15 derajat Celcius. Apakah ia berlarian kesana kemari untuk mencariku?

Kuenyahkan pemikiran konyol itu dan mulai memejamkan mata sampai tahu-tahu saat membuka mata aku sudah berada di ranjang mewah sebuah kamar hotel.

Aroma keju yang asing menyeruak didalam kamar. Membuat cacing didalam perutku ikut terjaga.

"Kau sudah bangun? Ayo makan." sebuah suara dari sebelah kiri terdengar. Aku melirik Daniel yang berdiri mengambil piring yang berisikan makanan aneh.

Alisku bertaut, ia menyadarinya. "Hanya ada ini, rasanya lumayan. Dan bisa mengisi perut kosongmu." jelasnya.

Aku mengangguk canggung, saat ini yang dibutuhkan hanyalah makanan untuk mengisi perutku bukan untuk memanjakan lidah.

Tanganku sudah terulur untuk meraih piring yang ada ditangannya. Namun seolah mengacuhkan, ia duduk disamping, dan menyuapkanku sesendok.

Aku menerima dengan wajah merah padam. Makanan itu pun sudah tidak ada rasanya, lebih pekat rasa gugup bercampur malu yang kurasa, saat terbayang perkataan kasar nan egois yang kulontarkan padanya.

Ia dengan wajah datar tanpa ekspresi pun dengan telaten menyendokan sedikit demi sedikit pula, serta menghapus sisa makanan yang menempel. Dan bersamaan itu, makin memerah pula kedua pipiku.

Hampir lima belas menit lamanya, sepiring makanan asing itu berhasil kuhabiskan. Dengan cekatan ia juga mengambilkan minum dan membantuku untuk bisa meneguk dengan baik.

"Mengenai perkataanku tadi,-" ucapku, namun mendadak aku terdiam saat ia membalikan tubuh dan menatapku.

Merasa aku masih tidak melanjutkan pembicaraan ia pun menambahi, "Aku mengerti, aku adalah suamimu. Kau harusnya lebih terbuka padaku. Jangan hanya menyimpan didalam hati."

"Eh?" aku tercengang, bukankah ini terlalu mudah? Kenapa responnya diluar dugaan ku?
Bukankah harusnya ia marah atas sikap kurang ajarku?

Saat pikiranku melayang entah kemana, sebuah tangan menepuk pucuk kepalaku. "Tidurlah, hari ini sangat melelahkan."

"Ka-u tidak tidur?"

"Ada beberapa pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan." jawabnya, lalu membuka dan menghidupkan laptop yang ternyata ikut dibawa.

💕

Tidur selama belasan jam membuat mataku tidak terasa mengantuk sedikitpun. Berkali kucoba memejamkan mata, melamun bahkan menghitung domba pun tak membuat rasa kantukku datang.

Daniel masih berkutat dengan laptopnya, tangannya lincah menari diatas tuts keyboard. Matanya fokus menatap layar, ah ia sedikit memicingkan mata karena kurang jelas melihat mungkin lupa membawa kaca matanya. Hingga ekspresinya terlihat lucu. Eh?

Aku bergerak, mencari posisi yang nyaman. Tapi pria Kang yang sedang fokus itu menoleh, seakan mendengar pergerakanku.

"Belum tidur?" tanyanya, lalu memijit kening. Mungkin sedikit pusing terus-terusan menatap layar laptop.

Aku menggeleng, "Terlalu lama tidur, membuatku tidak mengantuk."

Ia pun mengangguk setuju, lalu berdiri dan berjalan menuju ranjang. "Mau lihat pemandangan dari balkon?" tanyanya, hingga tidak ada pilihan lain selain setuju atau pura-pura mengantuk.

Marriage - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang