Bab 4

5.3K 535 412
                                                  

Jangan lupa Vote dan Comment yaa...
Hope you enjoy the chapter...
.
.
.
...............................................
Sekilas info buat yang mau ikutan PO The Cold Billionaire, The Billionaire Doctor dan Teman Tapi...??? Bisa langsung kirim format dan berakhir pada 05 November 2018.
...............................................

??? Bisa langsung kirim format dan berakhir pada 05 November 2018

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...............................................


Panasnya cuaca siang ini sama panasnya dengan suasana mobil yang tengah dikendarak Bastian. Lelaki berwajah oriental itu sudah seperti seorang supir bagi Sendy dan Fifi. Belum lagi sejak tadi Fifi mencengkram pundaknya dengan keras. Ia yakin sekali saat ini pundaknya sudah memerah karena kerasnya cengkraman Fifi.

"Dek, kamu beli coklatnya sama Angga saja ya?" tanya Bastian di sela aktifitas mengemudinya.

"Kok begitu? Kan Amey mau beliin coklat buat Kak Angga, kenapa harus beli sama dia?" tanya Sendy dengan matanya yang mengerjap beberapa kali dan membuat Bastian gemas melihatnya.

"Koko mau temenin Fifi dulu, gimana?"

"Ya sudah. Tapi kalau Koko dan Fifi butuh bantuan langsung hubungin Amey ya. Mana tahu Rico butuh tonjokan di wajah lubangnya itu," ucap Sendy pasrah namun berakhir dengan sedikit berapi-api.

"Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?" tanya Bastian penasaran darimana adik polosnya belajar kata kasar seperti itu.

"Waktu itu nggak sengaja ketemu Mbak Sasa sama pacarnya di Mall."

Bastian menepuk kening mendengar jawaban adik polosnya. Pantas saja Sendy bisa mengucapkan kata sekasar itu, rupanya gadis cantik di sampingnya ini mendengar dari sahabatnya. Sepertinya ia harus memperingatkan Angga untuk membuat Sendy tidak terlalu dekat dengan sahabat mereka. Bisa habis adiknya yang polos tapi barbar ini, Bastian tidak ingin adiknya berubah garang seperti Sasa.

"Ko..." lirih Fifi tepat di telinga Bastian yang langsung menggelinjang geli ketika merasakan nafas hangat Fifi mengenai telinga dan lehernya.

"Apa?"

"Nanti Fifi harus bilang apa?"

"Kita pikirin nanti, yang penting sekarang kita ikutin dulu mereka," jawab Bastian sesekali melirik Fifi dari spion tengah.

Ia merasa iba melihat gadis yang selama ini selalu digodanya. Apalagi melihat kekasihnya berciuman dengan perempuan lain. Bastian merasa sedikit dejavu dengan kejadian ini, membuatnya harus berpukur berulang kali di mana pernah melihat dan mengalami kejadian seperti ini. Tapi ia memilih kembali fokus mengendarai mobilnya mengikuti mobil Rico yang sekarang memasuki basement sebuah hotel berbintang di pusat kota.

Lelaki tampan berwajah oriental itu tersenyum sinis ketika mengikuti mobil Rico memasuki basement. Apalagi ia tahu hotel yang menjadi pilihan Rico dan selingkuhannya. Bersyukur sekali ia masih membawa Sendy saat ini, jadi mudah untuk mendapatkan akses data tamu hotel. Ketiga orang itu memilih masih bertahan di dalam mobil sampai Rico dan gadis berpakaian seksi itu memasuki hotel. Dan setelahnya mereka ikut turun, dengan Bastian yang tengah sibuk dengan ponselnya di telinga.

SAH!!! Sampai Akhirnya JodohTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang