Prolog

8.1K 222 1
                                          

HAPPY READING

Nama aku Aletta Octaviana. Aku asli orang Jogja, tapi aku gak bisa bahasa Jogja. Aku memang lahir di Jogja, tapi aku sering di bawa bolak balik Jakarta Jogja oleh kedua orang tuaku. Jadi jangan heran, kalau aku enggak terlalu fasih bahasa Jogja.

Untuk Jakarta, aku baru aja datang dan akan menetap disini. Rasanya enggak terlalu asing bagiku. Karna ya.., aku udah sering bolak balik ke Jakarta. Bosan banget jadinya. Tapi satu hal yang harus aku tanamkan mulai sekarang, dimana saat kita berada didalam sebuah lingkungan yang baru, disanalah kita harus mulai membuka lembaran baru dan selalu mengikuti jalan di dalamnya.

Lembaran yang selalu membuat aku tau betapa pentingnya mencatat tanda tanya, seru, koma bahkan titik. Mengapa begitu? Agar saat aku berada di lembaran yang membuatku menuliskan banyaknya tanda tanya dan aku bisa mengubahnya menjadi titik. Bukan karna ingin mengakhirinya, hanya saja membuatnya menjadi tenang tanpa harus terus bertanya apa gunanya dari tanya.

Oh iyaa, soal my life. Btw aku bukan anak tunggal. Aku anak kedua dan aku punya kakak. Namanya Amelita Octaviani, aku biasanya manggil dia kak tata. Kini aku dan juga kakakku tinggal di Jakarta bersama seorang ayah. Kenapa hanya dengan seorang ayah? Karena, ayah dan bundaku udah bercerai saat aku duduk di kelas 2 SMP di semester pertama. Saat mereka memberitahu ku dan juga kakakku bahwa mereka akan bercerai. Aku sangat kesal, sakit hati, bahkan sempat marah dan enggan untuk bicara dengan mereka berdua.

Saat dimana hatiku udah mulai reda akan amarah, aku pun menanyakan kepada ayah dan bunda. Kenapa mereka dengan mudahnya bilang didepanku dan kakakku untuk bercerai. "Kenapa bunda mau cerai sama ayah?" Bunda hanya menjawab "Karena tidak sependapat lagi sama ayah, jadi bunda sama ayah harus bercerai." Lalu aku bertanya sama halnya yang aku tanyakan kepada bunda "Kenapa ayah mau ceria sama bunda?" Ayahku menjawab, "Karena ayah sama bunda udah gak cocok lagi, udah gak jodoh lagi."
Aku cuman diam, diam, dan diam. Rasanya disitu aku mau teriak sekencang-kencangnya,

APAAA?? AAAA!!!!

Jawaban mereka sama sekali enggak masuk di akal. "Karena tidak sependapat lagi sama ayah, jadi bunda sama ayah harus bercerai." Pikir batinku sama ucapan bunda. Lalu apa mereka enggak bisa memutuskan atau bahkan bermusyawarah gitu, agar yang namanya pendapat mereka yang mereka bilang enggak sama bisa jadi utuh lagi? Lantaskah mereka harus memutuskan kata perceraian? Kalau mereka sudah mempunyai seorang anak, lantas semua pemikiran mereka harus benar-benar dewasa. "Karena ayah sama bunda udah gak cocok lagi, udah gak jodoh lagi." Ayah, ayah!! Kenapa dulu ayah lamar bunda kalau sekarang ayah mikir kalau enggak jodoh sama bunda. Apa pemikiran ayah kini terbalik, disaat dulu ayah sangat benar-benar dewasa dan kini ayah menjadi sangat labil. "Jodoh memang ditangan Tuhan.", tapi apa salahnya kalau kita menjalani semua rintangan tersebut dengan suatu kepercayaan dan juga saling menyayangi.

Sudahlah, aku juga sangat bingung dengan pemikiran mereka. Aku dan kak Tata kini hanya diam saat mereka sudah duduk di pengadilan agama untuk memutuskan semua yang mereka anggap sudah benar. Satu tahun berlalu, keadaan rumah yang sangat sepi di bandingkan dulu. Ayah terkadang tinggal di Jogja bersama Bunda, Aku dan juga Kak Tata. Memang mereka masih tetap akur, tapi semuanya berubah dari kata "Keluarga".

Setelah satu tahun tersebut, bunda sering sakit-sakitan, Ayah juga sering bantu merawatnya. Saat akududuk di bangku kelas 9 semester 2 awal, bunda meninggal dunia. Disanalah, aku benar-benar merasakan kehilangan sosok bunda yang sangat pengertian, baik, penyayang melebihi apapun. Setelah beberapa bulan kepergian bunda, aku dan juga kak Tata masih menetap di Jogja. Ayahpun memutuskan untuk tinggal bersama kami. Tetapi saat aku lulus SMP, ia memintaku agar ikut pindah ke Jakarta. Karena ia tidak bisa bekerja dengan kondisi bolak-balik tugas Jogja Jakarta. Begitupun dengan kakakku, ia harus ikut pindah ke Jakarta dan juga pindah dari tempat kuliahnya.

Saat ini, aku sudah memasukki kelulusan, dengan nilai yang sangat memuaskan. Kini aku mengikuti keinginan ayah untuk pindah ke Jakarta. Jakarta yang sangat ramai, banyak gedung-gedung yang menjulang tinggi ke atas, banyaknya tempat-tempat yang ramai dan juga bagus. Sudah lama tak mengunjungi kota Jakarta, setelah hampir dua tahun belakangan. Kini perlahan senyumku terukir, dan kini aku akan benar-benar tinggal dan menetap di Jakarta, kota kelahiran ayahku.


.
.
.
.
.
Welcome To A New Story :)
.
Hope You Like It
.
Jangan Lupa untuk VOTE & COMMENT
.
SEE YOU ;)

Aletta ✔ [ COMPLETE ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang