Chapter Twelve

19.9K 423 34

Jangan lupa tekan bintang.

Mona mendongakkan kepalanya, ia meneteskan airmatanya perlahan
"Nyonya.." Ucapnya saat melihat Nayna menghampirinya

"Kamu kenapa?" Tanya Nayna, sebenarnya Nayna tidak bisa melihat darah sebanyak ini, sementara itu Reyhan berdeham di ditempat
"Reyhan, ambilin kotak P3K dong!" Perintah Nayna, ia panik sendiri

"Gak usah Nay, udah ayo lanjutin tidur kita" Acuh Reyhan
"Kamu kok gitu sih? Ayo dong kasihan Mona" Nayna menatap Reyhan dengan tatapan tak biasa
"Ck" Reyhan mencari kotak P3K di lantai dua, saat ingin mengambil ia melihat Mira sedang menelfon di sisi lain.

"Mira?" Reyhan memanggilnya, Mira menoleh lalu tersenyum dan mematikan sambungan telfonnya
"Ngapain disini?" Tanya Reyhan
"Gini tuan, saya mah cuma mau kasih tau Tuan kalau..." Mira menggantungkan kalimatnya

"Kalau?.." Tanya Reyhan penasaran
"Anu... Mona itu, dia, dia itu pura-pura" Jawab Mira dengan terbata-bata
"Maksud kamu dia udah rencanain ini?" Tanya Reyhan memastikan
"I..iya bener Tuan" Jawab Mira tertunduk
"Sudah saya duga. Kamu tau dari mana?" Tanya Reyhan masih dengan penasaran

"Ini.. saya punya videonya, Tuan bisa nge-"

"REYHAN.... CEPETAN DONG" teriak Nayna dari lantai bawah
"Ck.. Mira tolong kamu telfon polisi" Perintah Reyhan cepat lalu berjalan ketempat Nayna berada

"Ini.. saya juga mau nelfon" Ucap Mira tetapi tak terdengar Reyhan.

Reyhan berjalan dengan malas lalu berjongkok dihadapan Mona, seulas senyuman terbentuk diwajah Mona.

Senyuman jahat.

"Aw..ah" Jerit Mona saat luka palsunya diobati
"Tahan ya" Bujuk Nayna
Reyhan sengaja menekan disalah satu luka robek Mona, yang membuat Mona bertambah histeris
"Astaga Reyhan.. Pelan pelan dong, kasian Monanya liat, luka robeknya kamu jangan neken banget disana kasian kan, udah pelan-pelan aja ju-"

Chuup...
Tak disangka, Reyhan melumat bibir Nayna tepat dihadapan Mona.

Reyhan melumat sedikit kasar, Nayna membalasnya sedikit, pemandangan itu malah membuat Mona semakin memanas. Mereka bercumbu sangat seru sampai-sampai Mona yang dihadapannya kini berdiri sambil menggertakan giginya lalu melongos pergi dari pemandangan itu.

Lumatan mereka semakin memanas, Nayna melingkarkan tangannya di leher Reyhan, sementara tangan Reyhan tak tinggal diam ia meremas pinggul Nayna.

"Dasar dua bajingan tak tau diri! Awas ya kalian. Liat aja!" Umpat Mona saat ia menuju kamar tidurnya,
"Brengsek! Gagal lagi" Mona menampar pipinya sendiri.

Nayna memutuskan lumatan mereka, ia menghirup oksigen sebanyak banyaknya
"Nay.. Kamu lupa apa aja yang kita omongin tadi di kamar?" Tanya Reyhan sambil menatap Nayna sedalam-dalamnya
"Mona sekretaris ku. Oh maksudku, mantan sekretaris ku yang bajingan" Ucap Reyhan penuh penekanan.

"Besok kita pecat dia dan usir dari sini" Reyhan tersenyum lepas "dan, dia bakal dipenjara habis ini" Lanjutnya

Nayna mendelikkan matanya,
"Maksud kamu?" Tanya Nayna heran
"Mira udah nelfon polisi atas kejadian tadi" Ucap Reyhan yang masih membuat Nayna bingung.
"Maksud kamu, yang Mona tadi berdarah darah?" Tanya Nayna
"Iya sayang, dia pura-pura. Kamu mau penjelasannya lebih lanjut?" Tanya Reyhan sambil tersenyum gemas menatap Nayna.

"Ayo, Mira punya video nya" Reyhan berdiri dari jongkoknya
"Tunggu.... Aku mau pecat Mona" Ucap Nayna denan pasti "Sekarang juga" Lanjutnya.

***

DesahanBaca cerita ini secara GRATIS!