Bab 1

6.4K 530 192
                                                  

Jangan lupa Vote dan Comment yaa...
Hope you enjoy this chapter...


Bastian baru saja menutup pintu ruang rawat adiknya, ia tengah memberi tatapan tajamnya pada Sendy. Sedangkan adiknya itu hanya duduk beringsut karena takut akan tatapan sang kakak. Ia yakin sekali jika Bastian sangat marah kali ini, karena kakaknya itu tidak akan pernah tinggal diam melihat kondisinya seperti ini. "Ko..." lirih Sendy.

"Apa? Kah koh kah koh... Muka cantik diwarnarna-warnain biru merah. Sebentar ungu muka kamu itu!" sungut Bastian kesal sembari duduk di kursi yang ada di sisi ranjang adiknya.

"Terong atau ubi, Ko?" tanyanya polos dan berhasil membuat Bastias memutar bola matanya malas.

"Koko serius, Mey," desis Bastian memegang luka di wajah cantiknya yang terlihat memprihatinkan.

"Jangan bilang ke Mami sama Papi ya, Ko. Please..." Sendy menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Minggu depan mereka pulang dari Shanghai dan kalau sampai melihat wajahnya yang seperti ini, aduh bisa habis Koko dibikin isian wonton," Bastian mengacak rambutnya frustasi karena tidak tahu harus berkata apa pada kedua orang tuanya nanti.

"Ya berdoa saja luka-luka Amey sudah sembuh," ucap Sendy santai sembari melipat kedua tangan di depan dada.

"Gil---"

"Sen, gue balik dulu ya. Kan sudah ada Kobas nemenin," Fifi memutus ucapan Bastian dan membuat kakak beradik itu berpaling menatapnya.

"Eeh... Apaan lo bilang, Fi? Kobas???" tanya Bastian menaikkan sebelah alisnya dan menatap Fifi tajam.

"Iyalah, Kobas. Biar singkat, padat dan jelas," seloroh Fifi dengan cengiran kudanya.

"Sakit nih anak," decak Bastian sebal karena tidak terima dengan panggilan yang diberikan oleh sahabat adiknya.

"Cuekin aja Koko gue, Fi. Orangnya suka gila emang dasar," kekeh Sendy yang dihadiahi cubitan di pipi oleh Bastian.

"Cepat sehat ya, eh by the way tadi Dio nanyain lo," ucap Fifi sebelum beranjak meninggalkan Sendy dan Bastian.

"Bilangin deh gue lagi dirawat."

"No!!! Ngapain juga kamu nyuruh-nyuruh tuh bocah ke sini?" Bastian menatap adiknya tajam.

"Yee... Jomblo dilarang jealous," ejek Sendy.

"Siapa bilang gue jomblo?"

"Gue lah! Barusan Koko nggak denger?"

"Duh berisiknga lo berdua, gue cabut ya," ucap Fifi melakukan cipika cipiki dengan sahabatnya.

"Gue nggak sekalian, Fi?" tanya Bastian dengan senyuman jenakanya.

"Idih!!! Nggak doyan sama Kobas," jawab Fifi sembari berlalu meninggalkan ruang rawat Sendy.

Sendy memukul lengan kekar kakaknya, ia tidak suka tiap kali melihat Bastian menggoda sahabatnya. Ia tahu benar seperti apa kakaknya ini, banyak gadis yang sudah sering dibuatnya patah hati. Dan Sendy tidak ingin kalau sahabatnya sampai menjadi korban PHP sang kakak. "Ko jangan godain Fifi terus dong. Jangan jadikan dia korban PHP Koko yang kesekian," tegur Sendy ketika Fifi sudah tidak berada di sekitar mereka lagi.

"Fifi lucu, Dek. Pipinya suka merah gitu kalau Koko godain," kekeh Bastian teringat akan wajah bersemu merah Fifi.

"Sen, gimana? Sudah enakan?" suara baritone Angga terdengar bagai angin sejuk di atas hamparan rerumputan hijau bagi Sendy.

SAH!!! Sampai Akhirnya JodohTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang