04. Honeymoon

5.3K 774 248
                                                  

"Jangan sembarangan menyentuh milikku."

Ucapan Kang Daniel membuatku tersentak. Seluruh teman terutama Kak Chanyeol yang ada disana juga tak kalah kaget saat mendengar ujaran posesif kepemilikan dari Daniel.

Tangannya yang melingkar ditubuhku juga semakin membuat suasana mendadak tidak enak.

Beruntung tawa Minki pecah, seolah memecah suasana mencekam.

"Wah, kekasih Seongwoo sangat protektif sekali. Rasanya beda ya kalau sudah punya kekasih. Irinya." lanjutnya.

Minhyun hanya menggeleng juga memberikanku tatapan prihatin. "Seongwoo, disana tempat daftarnya. Kami pergi cari makan dulu. Nanti kalian menyusul saja. Kalau Daniel mau." ucapnya, lalu membawa rombongan teman sekelas bergegas dari sana. Bisa kudengar bisik-bisik mereka yang pasti membicarakan hubunganku.

Saat mereka semakin menjauh aku menghentakkan tangan Daniel dari tubuhku. Lalu menginjak sepatunya. Dengan sengaja.

Ia mengaduh kesakitan, lalu menatapku penuh tanya.

"Berlebihan banget sih! Kan tidak perlu rangkul-rangkul didepan umum." Bentakku kemudian.

"Tadi aku bilang kita adalah kekasih, dia masih berani menyentuh mu didepan mataku. Seharusnya, aku katakan saja kita sudah menikah." jawabnya enteng.

"Tidak!" aku mendengus tidak suka menatapnya. "Mereka hanya temanku, dan kini mereka akan menjauhiku karena mu. Akhirnya aku benar-benar kehilangan semuanya."

Aku berbalik, berjalan menuju ruangan pendaftaran mahasiswa baru. Dadaku sesak, penuh amarah tak terlampiaskan juga dengan air mata yang bisa tumpah kapan saja.

"Maaf."

Sebuah suara tertangkap indera pendengaranku. Sangat pelan hingga aku tidak yakin benar-benar mendengarnya atau hanya bayanganku saja. Namun aku masih gengsi untuk berbalik memastikannya. Hanya satu kata maaf tidak akan mengembalikan semuanya bukan?

Sesampainya diruang pendaftaran Daniel lebih banyak mengurusi mulai dari pengisian lembar pendaftaran sampai pelunasan biaya akademik. Aku hanya duduk dan bersedekap, masih merasa kesal dengan kejadian tadi.

Seusai mendaftar dan diberikan jadwal kuliah kami pun beranjak dari sana. Aku berjalan lebih dulu menuju tempat parkir. Ingin segera pulang kerumah, dan mengurung diri didalam kamar.

Tapi sampai didalam mobil, Daniel tak kunjung menghidupkan mesin mobil. Jemarinya mengetuk stir dengan tempo teratur. Ia terlihat sedang berpikir.

"Kau tidak mau menyusul temanmu?" ia pun buka suara, mengingatkanku akan ajakan Minhyun. Namun bergabung bersama mereka sama saja dengan menambah persoalan karena Daniel pasti akan ikut serta.

Aku menggeleng. Masih enggan membuka suara.

"Kenapa? Ayo, aku antar." tawarnya, membuatku semakin geram.

"Buat apa? Bukankah kau tidak suka?"

Sungguh dilubuk hatiku, aku merasa kata-kataku padanya hari ini begitu ketus. Padahal ini bukan kesalahan ia sepenuhnya.

"Aku akan mengantarmu, lalu pulang. Kau habiskanlah waktu bersama temanmu." tuturnya.

Aku terlonjak, menatapnya tidak percaya. "Benarkah?"

"Jangan pulang sebelum gelap. Telepon supir kalau mau pulang. Dan juga ..."

Aku menunggu kalimatnya yang menggantung.

"...aku benar-benar tidak suka bila milikku disentuh oleh sembarang orang."

💌

Marriage - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang