Epilog

2.3K 104 9

~~~

Empat tahun kemudian...

Sye merapikan meja kerjanya lalu bersiap untuk pulang karena Faldo yang sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu di sofa ruang kerjanya. Mengingat pekerjaan Sye sebagai seorang pengacara yang cukup pilih-pilih dalam menangani kasus yang akan ia terima, itu membuatnya harus merelakan waktunya bersama Faldo untuk bersenang-senang. Lagipula menurutnya, Faldo juga cukup sibuk dengan pekerjaannya sebagai pewaris perusahaan ayahnya yang kini semakin mengalami perkembangan yang cukup pesat semenjak kelulusannya empat tahun yang lalu.

Sye meraih setumpuk dokumen kerja yang tidak terlalu banyak lalu berjalan menghampiri kekasihnya. Lelaki itu tengah memainkan ponselnya malas karena sudah terlalu lama menunggu Sye menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan sebenarnya sampai saat ini pekerjaan Sye belum selesai, tetapi ia memutuskan untuk membawa pulang pekerjaannya dan menyelesaikannya di rumah.

“Do, pulang yuk!” ajak Sye yang sudah mulai lelah dan mulai merasa tak nyaman dengan high heels. Tungkainya memerah karena satu hari penuh berjalan menggunakan sepatu ber-hak cukup tinggi itu.

Faldo menolehkan kepalanya ke arah kekasihnya yang tengah berdiri dengan satu tangan yang memeriksa bagian tungkainya yang terasa perih. Faldo memicingkan matanya ketika melihat gerak-gerik Sye yang seolah merasa sakit pada bagian tungkainya. “Kaki kamu sakit?” tanya Faldo to the point dengan pandangan matanya yang tak lepas dari kekasihnya.

Sye menganggukan kepalanya lalu berdiri tegap seolah kakinya tak sakit lagi bahkan tak terjadi apa-apa pada dirinya. “Iya, gara-gara pake sepatu tinggi seharian deh kayaknya. Ya udah, pulang sekarang yuk,” ucap Sye mengulang ajakannya yang sempat diacuhkan oleh Faldo karena kakinya yang terluka.

Faldo menganggukan kepalanya lalu berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Sye menuju basement. Belum sampai setengah jalan, Sye terlihat kesulitan untuk berjalan sehingga jalannya terlihat pincang. Faldo yang menyadari hal itu pun menghentikan langkahnya tepat di sebelah kekasihnya lalu mengernyitkan keningnya. “Kamu nggak apa-apa? Kok jalannya kayak susah gitu?”

Sye menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya mendahului Faldo yang masih berdiri di tempatnya seraya melihat gaya berjalan Sye yang pincang. Tanpa pikir panjang, Faldo melangkahkan kakinya hingga kini ia berdiri tepat di sebelah Sye seraya memegang lengan Sye seolah menyuruhnya berhenti berjalan. Sye mengernyitkan keningnya bingung dengan sikap kekasihnya itu. Tak peduli dengan Sye yang menatapnya aneh, Faldo langsung menyambar tubuh Sye dalam gendongannya lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Sye membelalak melihat ulah Faldo yang membuatnya terkejut karenanya. “Faldo, what are you doing?” tanya Sye dengan memukul-mukul kecil bahu Faldo yang tak mendapat respon apapun dari lelaki keras kepala itu.

Sesampainya mereka di basement tempat Faldo memarkirkan mobilnya, Faldo menurunkan Sye dari gendongannya lalu membukakan pintu mobil untuk mempersilakan Sye masuk terlebih dulu. Sye yang masih sedikit kesal sekaligus senang dengan tindakan Faldo tadi hanya bisa menurut tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya itu. Setelah Sye masuk ke dalam mobil, Faldo berlari kecil melewati bagian depan mobilnya lalu masuk ke dalam mobil bagian pengemudi. Faldo menoleh sejenak ke arah Sye yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada sebelum akhirnya melajukan mobilnya keluar dari basement lalu membelah jalanan Ibukota yang lengang karena hari sudah malam.

“Kenapa, Neng? Masih kesel sama Abang?” goda Faldo yang hanya mendapat tatapan sinis dari Sye yang kemudian kembali menatap jalanan melalui kaca mobil.

“Geli banget sih,” desis Sye yang bisa di dengar cukup jelas oleh Faldo yang kemudian tersenyum jahil karena tingkah kekasihnya.

“Sayangnya kamu cinta sama cowok menggelikan ini,” goda Faldo yang membuat Sye memalingkan wajahnya lebih dalam lagi untuk menutupi pipinya yang memerah karena ucapan Faldo. “Udah nggak usah ditutupin kayak gitu. Salting bilang aja,” lanjutnya dengan tatapan yang masih terfokuskan pada jalanan di depannya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!