Bab 25

11.9K 641 32
                                    

Dev baru saja memasukan satu dus berukuran besar milik gadisnya ke dalam bagasi mobil.

Setelah itu menutupnya kembali lalu duduk dibalik kemudi bersama Ralaya disampingnya.

Gadis itu memakai seatbelt-nya, begitu juga Dev.

“Acaranya dimulai jam berapa?”

“Jam sepuluh,” kata cowok itu singkat. “Udah sarapan, kan?” Dev mulai melajukan mobilnya, keluar dari rumah gadisnya dan mobil hitamnya sudah memasuki jalan raya.

“Udah. Kamu?”

Dev hanya mengangguk sebagai jawaban. “Itu satu dus isinya apa aja?”

Ralaya tertawa. “Berat, ya?”

“Lumayan. Isinya barang semua?”

“Cuma boneka sama baju-baju yang udah gak muat tapi masih layak dipake.”

Dahi Dev mengernyit. “Boneka yang kemarin dibeli?”

Gadis itu memukul bahu Dev. “Enggak lah. Aku masih sayang mereka. Yang mau aku kasih cuma boneka pas aku masih bocah.”

Dev tertawa geli. “Bukannya sekarang juga masih bocah?”

Nope. Aku udah dewasa.”

Cowok itu hanya mendelik gadisnya dengan tatapan menilai—bermaksud bercanda tentunya.

Ralaya yang ditatapan seperti itu jadi kesal sendiri hingga berakhir dengan memukul Dev dengan kedua tangannya hingga cowok itu mengaduh kesakitan.

Disamping karena boneka itu hanya memenuhi kamarnya, dia juga sudah tidak mau melihat boneka itu lagi meskipun benda itu menyimpan sebagian kenangannya dengan sang papa.

Alih-alih menyimpan dan mengenangnya, lebih baik Ralaya menyumbangkannya.

Anggap saja Ralaya sudah tidak mau mengingatnya lagi.

“Sejak kapan kamu suka ke acara charity? Kok aku baru tau?”

Dev tersenyum tipis. “Sejak kemarin, pas bunda ngirim chat.”

Mata bulat gadis itu membelalak kaget. Menatap Dev dengan tatapan tidak percaya.

“B—bunda? Berarti bunda sekarang dateng, dong?”

Dev pun mengangguk sebagai jawaban. Fokus menatap jalanan yang lumayan lenggang.

Jarak dari rumah gadisnya menuju tempat charity kurang lebih satu jam.

“Ih kok gak bilang?!”

“Ini aku bilang.”

Ralaya berdecak kesal. “Kenapa gak bilang dari kemarin?”

“Kan kamu gak nanya, Bub.”

Detik itu juga, Ralaya dibuat gemas.
Gemas karena kesal pada Dev. Tangannya sudah bersiap mencakar wajah Dev.

Kenapa juga cowok itu tidak bilang kalau bunda akan ikut?

Sejujurnya, meskipun ini bukan kali pertama mereka akan bertemu, Ralaya selalu gugup, selalu mati gaya. Mendadak bisu, bingung membuka topik pembicaraan.

Padahal bunda orangnya baik, ramah dan beliau orang yang menyenangkan.

Dev melirik gadisnya. Ralaya terlihat seperti tengah berpikir dan entah kenapa itu jadi hiburan tersendiri untuk Dev. “Grogi huh?”

Ralaya tersenyum canggung. “Dikit.”

“Aku aja gak pernah grogi kalo ketemu orangtua kamu.”

[I] Ralaya ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang