Budak Hideung

471 89 25

Kab. Bandung

"Neng, hati-hati. Telpon aja kalo mau dijemput pulangnya."

Aku mengangguk sambil lalu, meninggalkan sedan merah milik Paman yang kudengar mulai menderu dan menjauh.

Lengkap dengan kostum putih polos yang terlalu panjang untukku, aku berjalan sendirian di sisa perjalanan. Karena tempat yang ditunjuk panitia acara memang berada di ujung gang.

Terakhir kali kulihat arloji, jarumnya sedang berada di antara angka delapan dan sembilan. Kalau bukan karena anak-anak kampus memaksaku datang ke acara Halloween yang mereka siapkan, aku tak mau berdandan mirip gelandangan.

Belum lagi aku harus berjalan tanpa alas kaki menuju lokasi. Terkutuk lah sifatku yang tak punya rasa tega. Oh, dan jangan tanyakan padaku mengapa mereka memilih villa di atas bukit, bukannya gedung serbaguna di area kampus.

Jika mengingat arahan dari salah satu temanku di telpon tadi, sisa jarak yang harus kutempuh sekitar lima puluh meter lagi. Terus lurus tanpa embel-embel belok kanan atau kiri.

Tetapi terasa lebih jauh karena jalanan yang cuma selebar becak ini benar-benar gelap, sebab lebih banyak kebun singkong dibanding rumah warga.

Tidak ada alat penerangan yang kubawa, hanya mengandalkan lampu bohlam yang dipasang penduduk sekitar. Yang baru kulewati beberapa langkah di belakang.

Dan tersisa satu bohlam yang masih jauh dari tempatku sekarang. Beruntung cahaya bulan malam ini cukup terang.

Walau begitu mataku tidak bisa melihat cukup jelas. Satu-satunya yang bisa diterjemahkan otakku, bahwa di bawah pohon bidara beberapa meter di depan, aku melihat dua anak kecil sedang asyik bermain dalam remang.

Aku tidak habis pikir. Bagaimana kalau ada orang jahat yang lewat dan menculik mereka?

Begitu aku tiba, keduanya serentak menoleh. Membalas tatapanku. Aku tak peduli kalau mereka takut melihat penampilan hantu palsuku. Yang kupikirkan hanya mengantar mereka pulang.

Hanya itu yang terlintas dalam benakku.

"Sudah malam kenapa masih main. Hayu ku teteh dianteurkeun." (Ayo kakak anterin.)

Dua anak yang tak kutahu rupa dan jenis kelaminnya itu menurut tanpa membantah. Tanganku serta merta menggandeng mereka di masing-masing sisi tubuhku.

Sama sekali tidak ada sensasi bulu kuduk yang berdiri. Padahal jelas kurasakan kulit tangan mereka seperti bersisik.

"Rumah kalian yang itu?" Aku bertanya ketika kulihat sebuah rumah panggung khas pedesaan yang sebentar lagi akan kami lewati.

Anak di sebelah kananku menggeleng. Sebelum aku bertanya lagi, tanganku ditarik pelan oleh anak yang kutuntun di sebelah kiri.

"Kunaon?" (Kenapa?)

Lagi-lagi bukan mulut mereka yang menjawab tanyaku. Kali ini tangan anak itu menunjuk ke arah berlawanan dari rumah tadi. Ke sebuah kamar mandi umum yang sepertinya tidak dipakai lagi.

Tapi tidak ada kecurigaan sama sekali saat kutinggalkan anak-anak itu di sana. Dengan santai aku kembali berjalan menuju tujuanku sendiri.

Sebelum menyadari ada cahaya kuning menyerupai sepasang mata mulai bermunculan.

Ya, bermunculan. Karena jelas kulihat cahaya itu semakin bertambah lebih dari satu pasang. Lalu...

"Nuhun neng, tos dianteurkeun. Kahade di jalanna." (Makasih neng, udah dianterin. Hati-hati di jalannya.)

Maksudnya?

Apa maksudnya?!

Siapa yang... Diantar Siapa?!

End

Jumlah kata : 476

Budak Hideung #DiantarSiapaBaca cerita ini secara GRATIS!