03. Mine

4.7K 840 151
                                                  

Sudah dua minggu sejak pertemuan terakhirku dengan pria bernama Daniel. Ia tidak pernah datang menemuiku ataupun ayah. Bahkan ia juga tidak pernah menelepon sekalipun.

Aku menjadi ragu, bukankah pertemuan saat itu hanya mimpi belaka dan semua tidak pernah terjadi?

Aku meng-aminkan isi pikiranku dan berharap semua hanyalah mimpi dan segera setelah ayah sembuh kami bisa menjalani kehidupan yang normal.

Petang itu, Minhyun dan Minkidatang membesuk ayah. Mereka datang setiap dua hari sekali. Menemaniku juga mengajak ayah berbincang.

Namun kedatangan seseorang lainnya membuatku benar-benar tercengang. Ia muncul sore hari saat matahari belum sepenuhnya terbenam, berarti ini bukan mimpi.

Daniel masih berpakaian lengkap dengan Jas yang membalut tubuh tegapnya. Begitu pula dengan seseorang yang berada tepat dibelakangnya.

"Tuan Kang, Tidak perlu repot-repot membesukku seperti ini." ayah memaksakan diri beranjak menyambut Daniel.

Daniel yang baru tiba terlihat merasa tidak nyaman dan menatap temanku satu persatu.

Lalu ia membalas dengan sebuah senyuman, "Tidak tuan, aku harus memastikan anda dalam keadaan baik. Aku juga ingin membicarakan beberapa hal, tapi sepertinya tidak tepat waktunya ya?" Liriknya pada temanku, seolah secara tidak langsung sedang mengusir mereka.

Ayah pun ikut-ikutan menatap tajam padaku, hingga aku mau tak mau mengajak mereka keluar.

"Kurasa Seongwoo juga harus ikut mendengarkan pembicaraan kita Tuan Ong." ucap Daniel saat aku hendak keluar kamar.

Minhyun yang merasa terusik, berbisik "Siapa Woo?" Sepertinya ia jengah atas sikap sembarangan Daniel.

"Dia itu.." belum siap aku menjawab Daniel sudah mendahului.

"Aku calon suami Seongwoo."

Ucapnya dengan wajah santai membuatku ingin menendangnya keluar angkasa. Sialan!

-

Susah payah meyakinkan Minhyun dan teman yang lain tentang jawaban tidak masuk akal Daniel akhirnya mereka pamit pulang.

Tinggalah kami berempat yang tersisa diruangan itu.

Aku masih begitu kesal, mengerucutkan bibir dengan mata menyipit tidak suka.

"Kedatangan kami kemari ingin membicarakan perihal pernikahan Tuan Kang dan Seongwoo." Sekretaris Yoon angkat bicara, dengan senyuman ramah yang mampu melunakkan suasana mencekam di kamar rumah sakit ini.

Sontak mataku membulat, terkejut dengan apa yang diucapkan pria Yoon itu.

"Apa?"

"Benar Seongwoo, keadaan Tuan Ong sudah membaik. Berdasarkan yang tertulis, pernikahan dilakukan segera setelah kondisi tuan Ong membaik." jelasnya, sedang Daniel yang sudah duduk masih betah bungkam.

Mataku bergerak gelisah, aku melirik ayah yang juga terlihat shock dan merasa bersalah, disisi lain aku juga melihat wajah datar dan menyeramkan milik Daniel, calon suamiku.

"Bagaimana Seongwoo? Kita akan mengadakan pernikahan minggu besok. Kami akan membatalkan seluruh jadwal pertemuan tuan Kang, dan mengaturkan acara ini."

Merasa terdesak aku pun gemetar, "Setelah menikah lalu bagaimana?"

Sekretaris Yoon tertawa, "Lucu sekali Seongwoo. Benar-benar tidak tahu ya? Baiklah akan kujelaskan."

Daniel yang sedari tadi diam tidak bergerak, kini mengubah duduknya dan bersedekap.

"Setelah menikah, sama seperti pasangan pada umumnya maka kau akan tinggal di rumah suamimu. Juga walimu ataupun penanggung jawab dirimu berganti dari Tuan Ong menjadi Kang Daniel. Yah, sudah seharusnya suami akan bertanggung jawab bukan?"

Marriage - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang