02. Yes or No?

5K 868 155
                                                  

"Seongwoo, bangun. Sadarlah."

Samar terdengar panggilan dan guncangan ditubuh Seongwoo, membuat pemuda itu memaksakan diri membuka matanya.

Hal pertama yang ia rasa adalah kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Seperti ia baru saja bermimpi buruk dan melelahkan.

Ia mengerjapkan mata, wajah Paman Lee adalah yang pertama kali ia lihat.

"Paman aku bermimpi buruk."

Seongwoo bangkit, mendudukkan dirinya. Namun saat itu ia melihat map merah persis seperti yang ada didalam mimpinya.

Ia menutup mulut tidak percaya, berarti tadi ia tidak bermimpi?

"Seongwoo, tadi bukan mimpi. Aku tahu kau sangat terkejut." nada suara Paman Lee melembut, berusaha menenangkan Seongwoo yang mulai terlihat panik.

Nafas Seongwoo naik turun, memburu tidak beraturan. "Paman, kenapa dunia begitu kejam pada anak berusia 19 tahun sepertiku?" lirihnya lalu menggenggam erat sprei putih milik rumah sakit.

Seokhoon menepuk lembut bahu Seongwoo, "Inilah hidup nak, sepertinya ini adalah bagian dari proses pendewasaan dirimu."

Seongwoo menggeleng tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Bukankah terlalu kejam bila ia yang harus menanggung semua ini?

Setelah meminum obat-obatan yang diresepkan dokter Seongwoo berjalan menuju kamar perawatan intensif ayah. Disanalah tubuh ayahnya terpasang berbagai macam alat yang hubungkan ke sebuah mesin yang Seongwoo tidak paham kegunaannya.

Hatinya nyeri, apakah beban yang ayah pikul terlalu berat? Hingga tidak sanggup lagi?

Tapi Seongwoo merasa, terpaksa menikah bukanlah solusi terbaik untuk semuanya. Itu hanyalah satu masalah lain yang akan diciptakan.

Ia berjongkok, mengusap wajahnya. Lalu berdoa didalam hati, agar semua masalah ini bisa segera teratasi.

-

Seongwoo pun pulang kerumah sekadar mengambil pakaian untuk menginap dirumah sakit, namun apa yang terlihat lebih membuatnya tercengang.

Sekelompok orang tak dikenal berada didalam rumahnya, menempelkan sticker kecil dengan keterangan 'disita'.

Tak ingin rumahnya disentuh oleh orang lain Seongwoo pun masuk dan mencegah para pria berotot itu menempelkan sticker yang biasa ia lihat di televisi saja.

"Jangan sentuh barang kami." Teriak Seongwoo sekuat tenaga, membuat salah satu dari mereka menoleh.

"Mungkin sebentar lagi ini tidak akan jadi milik kalian lagi." Balas pria berotot itu acuh, lalu ia melanjutkan tugasnya tanpa memeperdulikan Seongwoo.

Tanpa bisa berbuat apapun akhirnya Seongwoo hanya menatap pasrah pada barang-barang dirumahnya yang akan disita.

Semula Seongwoo berniat membawa dua atau tiga potong pakaian saja, namun akhirnya Seongwoo mengemasi kopernya untuk berjaga-jaga bila rumahnya disita.

Sembari menggeret koper Seongwoo menoleh pada rumah tempatnya menghabiskan 19 tahun hidupnya, rumah dimana tempat ia menangis tertawa bahagia dan bermimpi. Akankah akhirnya ia mengucapkan selamat tinggal pada semua kenangannya yang tersisa disana?

-

Sesampainya di rumah sakit, pemuda itu kembali dikejutkan oleh perawat yang bertugas merincikan biaya pengobatan, rawat inap ayahnya, yang apabila tidak segera dilunasi maka ayah tidak dilanjuti penanganannya.

Masalah bertubi-tubi menimpanya seharian ini, yang mampu ia lakukan ialah menangis dan menangis saja. Setelah lelah menangis ia pun mengubungi tuan Lee selaku pengacaranya, setidaknya ia ingin meminta solusi untuk semua ini.

Marriage - OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang