5 bulan kemudian

Adrio

Hai. Ketemu lagi.

Jadi, satu hal yang perlu kalian tahu, hari ini adalah 5 bulanan gue sama April. Kenapa 5 bulan? Gue pun nggak tahu alasannya apa mesti ngerayain 5 bulan sama dia, karena, ya, 5 bulan doang? Bukan 5 tahun atau 5 abad. Tapi, tadi setelah bangun tidur gue kepikiran untuk beliin April sebuket bunga. Gue nggak pernah juga beliin dia bunga. Karena seminggu setelah kita jadian--hehe, iya akhirnya jadian. Seminggu setelahnya itu gue langsung sibuk sama ujian gue.

Here I am now, officially an Anesthesiologist! Yeay for me! Tepuk tangan dong!!

Anyway, dalam perjalanan ke rumah sakit gue sempet mampir ke toko bunga yang gue lewatin, gue mikir dulu kira-kira April suka bunga apa, gue nggak mungkin nanya ke dia dulu kan mau bunga apa.

"Mau beli buat cewek, Mas?"
"Iya, pak."
"Ceweknya suka bunga apa?"
"Saya nggak pernah nanyain, pak." Ya iya, mana pernah gue dan April ada obrolan bunga kesukaan, dikira lagi tukeran isi binder. Ini aja ketiga kalinya gue ngasih dia bunga.
"Hmmm, cari aman deh, Mas. Kasih mawar aja?"
"Kalau dia nggak suka mawar gimana?"
"Kalau yang ngasih itu orang yang dia sayang, pasti suka, Mas."
"Ahelah bisa aja dah si bapak, ya udah, mawar yang pink itu aja, pak."
"Dibikin buket gitu, Mas? Mau pake kartu ucapan nggak?"
"Ucapan apa...gak usah, Mas."

**
Gue celingukan mencari April di ruang residen. Gue udah bukan residen lagi, jadi ruang residen udah bukan ruangan gue. Gue bisa melihat beberapa wajah yang familiar, tapi tetep gak ada April-

"Dio, ngapain kamu celingukan gitu?"
"Eheee, Qil, aku nyariin kamu. Nih,"
"Ada bunga! Makasih yaa!"
"Sama-sama,"
"Jadi ini sogokan kamu lupa sama ulang tahun aku kemarin, ya?"

Bagaikan disambar petir siang bolong, gue cuma bisa menatap April yang beberapa kali senyum sambil ciumin bunga. Gue lupa banget kalau kemarin itu ulang tahunnya. Se-lupa itu. Brengsek banget nih, Adrio.

"A-aku.."
"Jangan-jangan kamu baru inget juga ya pas aku ngomong?"
"Q-qil.."

April cuma ketawa, raut wajahnya sama sekali nggak nunjukkin raut kesel, sedih, apalagi marah. Rautnya ya seneng-seneng aja, senyum ke gue, nada bicaranya pun biasa, nggak ada nada tinggi apalagi nada kesel. Dia malah meluk pinggang gue dengan tangan kirinya yang bebas.

"Beneran lupa ya?"
"Iya...maaf ya?"
"Ngapain minta maaf? Gak apa-apa! Lagian kemaren kan kamu tepar banget abis ujian! So it's okay."
"Are you sure? You're not mad at me?"
"Seeing you in this dark blue uniform, is one of the best gift for my birthday. So, no, I'm not mad. Do you want me to mad at you?"
"No, I mean-"
"Selamat ya, Dokter Adrio, spesialis Anestesi. I'm so proud of you! I'm gonna keep this flower until my shift is done, and move it another place later!"

April mencium pipi gue sebelum pergi masuk ke ruang residen. Untung gue keburu nahan lengan dia. She really is not mad at me??

"Qil,"
"Hmm?"
"Kalau gitu, nanti malem-"
"Eh, kamu beres shift jam berapa?"
"Jam 4. Qil, kita-"
"Aku juga jam 4. Abis itu kita belanja mau nggak? Kita masak di tempat aku! To celebrate your graduate and-"
"And to celebrate your birthday, okay?"
"I was going to say it, but you did it already. Okay. Mau ngundang anak-anak?"
"Maunya sih kita berdua aja, but if you feel uncomfortable.."
"Yang pasti ada tuh Abang sih, sama Kaisar dan Bima. Nggak mungkin cuma kita berdua doang.."
"Aku ajak yang lain deh, ya?"
"Okay!"
"Have a nice day, baby girl."
"Bye!"

Gue menatap April yang menaruh bunga yang gue kasih di loker dia, ngobrol sama temennya, ketawa, sampai pergi masuk ke ruang ganti. Gue cuma bisa senyum, kurang apalagi punya pacar yang udah paling ngerti, cantik, dan pinter? Ahay, keberuntungan gue seumur hidup udah abis sama April kayaknya, nih.

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!