10. The Raising Monster

Mulai dari awal

Diantara semua yang hadir, tubuhnya paling mungil. Penampilannya juga paling biasa. Hanya setelan blazer dengan celana panjang krem. Setelan blazer yang dipilihnya saat ada diskon akhir tahun bersama Tiar tahun lalu. Tak ada yang istimewa dengan mereknya yang sudah lama terhapus karena terlalu sering dicuci. Jelas sekali Lily bagai seorang pelayan biasa diantara orang-orang ini.

"And... who is this pretty little girl?" Pertanyaan itu membuat Lily mendongak. Bule Jerman bernama Theo itu tampak tersenyum manis pada Lily, memandanginya dengan kagum.

Tunggu! Tunggu! 

Ternyata, mereka sudah berada di ruang meeting. Lily bahkan tak menyadari kalau mereka sudah berdiri mengelilingi meja meeting, dan mungkin sudah sejak tadi saling memperkenalkan diri.

Li, sudah Li! Berhenti melamun! Ini waktunya menjadi sekretaris profesional seperti biasa. #Sisi Baik menyentil.

Lily menarik dan menghela nafas, memasang senyum paling manis, bersiap menjawab pertanyaan ketika terdengar di belakangnya... 

"She is my wife-to-be soon, Mr. Theo. She is Lily."

Rahang Lily terbuka, nyaris jatuh ke lantai. Ia menoleh, mendongak menatap Ajie yang sudah berdiri di sebelahnya. Saat hendak membantah itu, tangan Ajie sudah merangkul bahunya. Tampak akrab. Tampak telah terbiasa melakukan itu. 

Tawa lebar terlihat di wajah Mr. Theo. "Wow! It's great! Nice to know you, Miss Lily. Congratulation to both of you. This is very... surprising." Bule itu memeluk Ajie dengan akrab. Menepuk-nepuk memberi selamat.

Setelah itu ia menoleh pada Lily. "I know this man for three years, and never expected that he'll be marrying such a pretty girl like you. He is so lucky to have you." Sekali lagi ia menepuk bahu Ajie layaknya seorang sahabat.

Senyum Lily mulai berkembang. Matanya menyipit. Ajie sempat melihat lirikan itu. 

"I tried to refuse his proposal, Sir. But he even kneeled and begged for me. So I can't refuse it anymore."

Mata si Bule membulat besar. "Kneeled and begged?  Waaah." Theo menoleh pada Ajie yang wajahnya sudah merah padam. "You are really a great man! Even do something I never think you'll ever do, Man. Come on! This is awesome! Really awesome!"

Ajie melemparkan tatapan tajam pada Lily yang masih senyum-senyum. 

Weew, biarin! Siapa suruh bohong! Siapa suruh mulai? ejek Lily dalam hati.

"Jess, order wine for us, we must celebrate this!" perintah Theo pada gadis bule bermata biru itu, sambil duduk di salah kursi.

Ajie tersenyum. "We can't, Theo. Our business has to finish first," katanya sambil duduk di kursi di sisi Theo.

Tangan Theo melambai-lambai. "No need! No need! Just give me whatever I should sign. I'll do now. Your... " menunjuk pada Lily dengan satu anggukan, "... love clears everything. That's enough for me to give you this project."

Mereka sama-sama tertawa kecil. Entah apa maksudnya. Lily tak mengerti. Tapi sekarang yang ia pikirkan adalah apa yang dipikirkan Danu. Pria itu tahunya Lily sudah menikah, dan tiba-tiba saja ikut menyaksikan kebohongan yang dilakukan Ajie. Dengan kuatir, Lily menoleh pada Danu.

Tapi tak ada apapun yang bisa dibaca dari wajah Danu. Ia ikut tertawa saat Ajie dan tamunya tertawa. Ia mengangguk penuh senyum pada Lily saat tatapan mereka bertemu. Danu sudah lama bekerja pada Ajie, mungkin ia sudah kenal kebiasaan Ajie.

Saat pembicaraan masih berlangsung, Lily pamit ke toilet sebentar. Ia memperbaiki penampilannya yang mulai terlihat lelah. Semalam karena kuatir pada keadaan Ajie, ia jadi susah tidur. Tidur hanya tiga jam, Danu sudah menelpon membangunkannya untuk bersiap. Sedikit taburan bedak dan lipstik berwarna terang, membuat penampilannya tampak segar lagi.

Kaki Lily baru melangkah satu kali saat keluar dari toilet ketika sebuah tepukan kecil menyentuh bahunya. Ia menoleh. itu Danu. Berdiri dengan tangan terlipat di dadanya.

"Jadi kapan kamu mau terus terang udah berapa lama pacaran sama Ajie?" tanya Danu dengan senyum aneh.

Bahu Lily merosot. "Aduuh, Mas. Beneran Lily gak tau kalau Pak Ajie bakal berani bohong gitu. Lily gak pernah pacaran. Apalagi sama Pak Ajie. Itu cuma sandiwara aja. Bohongan."

"Gue kenal Ajie, Li. Udah lama. Gue tahu bener Ajie gak bakal bohong."

"Ini untuk kepentingan perusahaan aja, Mas. Tanya deh entar sama Bapak kalo gak percaya!"

"Tapi kamu belum menikah kan?'

Lily menunduk, hanya bisa mengangguk. Senyum tipis terlihat lagi di wajah Danu.

"Ajie tahu soal itu kan?"

Lagi-lagi Lily hanya bisa mengangguk lesu.

"Ini pertama kalinya kamu ke Singapur sendirian?" tanya Danu, dengan nada yang makin aneh.

Lily kembali mengangguk.

"Baiklah! Ini saja sudah cukup." Danu menegakkan punggung, meninggalkan Lily yang tak berdaya selain mengikuti langkahnya.

Sebelum masuk ke ruangan, Danu berbisik, "You know Li... You make my life soooo wonderful!" Senyum tipis penuh makna tersungging sekilas sebelum Danu melangkah masuk.

Entah mengapa, Lily kini bisa melihat sosok Danu yang sebenarnya. He is the raising monster. Monster yang diciptakan Ajie karena kebohongannya.

*****





Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!