Menembus Ruang

1 1 0


Juni menggengam erat payung biru nya. perlahan menembus jutaan tetes air yang tidak bersahabat. angin ikut berhembus dengan kencang seolah murka dengan atau oleh apa. Ia tidak mengerti, sekumpulan orang berdiri memeluk tubuh masing-masing di bawah halte yang jelas tidak bisa menampung manusia sebanyak itu. 


Gadis berambut cokelat itu pucat. melawan dari arah Juni berjalan, pakaian nya jelas basah, kulit nya mengatakan bahwa perempuan itu kedinginan, namun tidak membuat dirinya berhenti berjalan. sejenak Juni berhenti, ingin menyapa, namun ragu. atau sekedar bertanya sedang apa ia di musim penghujan seperti ini. 


Bingo!


Tepat saat Juni berhenti, gadis itu berhenti, menatap kosong ke arah jalan raya yang lalu lalang pengendara mobil berkecepatan tinggi. pandangan nya mengadah menuntut awan yang menghitam setiap detik. Memaksakan air itu menyapa pori-pori. bukan hanya Juni, beberapa pasang mata ikut menatap nya heran, ketika ia mulai melangkah kedepan, padahal lampu jalan belum berubah menjadi merah.


"Tunggu!!!"


Juni membiarkan payung nya terbawa angin, menyusul gadis aneh itu ke tengah jalan, "Kau ingin mati?" Ia mengerjap sekali, sebelum tersadar dari arah yang sama, seorang supir truk membawa mobil nya melaju kencang dengan jarak pandang tak jauh. Terlambat, bunyi hantaman dua perempuan dengan badan mobil terdengar sebelum sang supir siap menginjak pedal rem nya.


Seketika, genang air menjadi berwarna, hujan yang semakin deras membawa nya ke saluran pembuangan. beberapa orang di halte ikut melingkar di tempat kejadian, sebagian bergidik ngeri, sebagian ada yang mual melihat darah, sebagian lagi sibuk memanggil ambulance dengan telpon genggam nya yang tak kunjung mendapat signal. 


"Kau bisa lebih cepat?"


"Maaf tuan, anda bisa menunggu di luar."


Mugkin kecelakaan tadi sudah masuk breaking news di papan iklan pusat kota. menjadi hiiburan beberapa orang yang tengah menunggu bus atau kereta  tujuan nya datang. Hari sial untuk gadis bernama Juni Atsani. 


Sudah 9 jam sejak dua manusia itu masuk kedalam ruang operasi. beberapa dokter bedah di kerahkan untuk membantu operasi gabungan itu. Pasalnya hanya ada satu ruang operasi yang tersisa dan ada dua orang yang sedang bertaruh nyawa.


Laki-laki yang masih menggunakan mantel itu, setia dengan kursi ruang tunggu, tangan nya masih membekas noda darah, tapi enggan pergi ke toilet untuk membersihkan. pakaian nya basah. hujan benar-benar tidak sama sekali menujukan pertanda berhenti barang sebentar.


"Kami sudah berusaha yang terbaik."


Setidaknya masih bernafas itu sudah cukup. Kelana menjatuhkan kakinya di atas keramik putih rumah sakit. Dari kejauhan, langkah seorang tengah berlari memenuhi telinga nya. "Kau baik-baik saja?"


"Aku baik, tapi tidak dengan mereka."


Juni dan gadis aneh itu tak berdaya di ruang ICU, dengan berbagai alat yang membantu kondisi mereka. Dokter menyatakan koma untuk beberapa waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Lea, maafkan aku. Semua salahku."


Air mata Kelana luruh, dengan cepat ia mengusap nya dengan punggung tangan. harap tidak ada yang melihatnya menangis termasuk kakak nya itu.

To be Continue



KELANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang