The Devil's Take Me | 3 - About Last Night [1.2]

5.7K 217 12

SELAMAT MEMBACA!

JANGAN LUPA KASIH BINTANGNYA YA!!!

Playlist: Charlie Puth - Attention.

_______

Tetapi ketika Barbara hendak bangun, perutnya terasa mual dan ia segera pergi ke kamar mandi untuk membuang isi perutnya.

Emily datang dengan segelas air putih ditangannya. "Are you okay, Barb?"

Barbara yang sudah menengguk air putih hingga habis mengangguk. "I'm survive."

Apa jangan-jangan benar Barbara sudah hamil?! Emily buru-buru mengenyahkan pemikirannya. Tetapi, karena mulutnya gatal untuk menyuarakan pemikirannya, akhirnya ia berucap.

"Atau jangan bilang... kalau kau memang betul-betul hamil, Barb?"

Semoga saja ini hanya mual biasa. Ya Tuhan... tolong aku...

_______

Barbara melotot. "Don't say like that, Em! You make me scared!"

"Aku kan hanya berpendapat, Barb. Why you so freak out?" ujarnya santai membuat Barbara melotot tidak suka.

"Tapi pendapatmu seakan mengatakan kalau itu benar Ms. Mckenzie." jengkelnya. "Lagipula, manabisa baru semalaman langsung hamil?!" lanjut Barbara gemas.

Emily terkekeh sambil menyomot kentang dan mencocolnya di saus. "Kalau bisa pun tak apa, aku akan punya keponakan nanti."

Dan Barbara semakin jengkel dibuatnya. Oh ayolah... "Dan dengan begitu, aku akan punya anak tanpa suami?"

Emily lagi-lagi hanya menanggapi dengan santai. "Yang sepertimu di negara ini banyak, Ms. Watson. Kaunya saja yang terlalu berlebihan." sahabatnya itu kembali melanjutkan acara memakan kentangnya sambil menonton televisi. Tetapi kemudian perkataan Emily selanjutnya membuat Barbara menahan napasnya. "Saran dariku, kau harus mengeceknya dengan testpack, Barb."

***

1  month later...

Ditangan Barbara, sudah ada sebuah testpack yang baru saja ia beli di apotek. Sebenarnya Barbara sudah mulai merasakan gejala mual semenjak 2 minggu yang lalu.

Tapi dirinya terus menerus menepisnya segala pikirannya dengan berpikiran bahwa mualnya hanya mual biasa.

Dan akhirnya ia menyerah hingga baru sekarang ia berani membeli alat tes kehamilan itu.

Barbara ragu, panik, dan takut. Semua pikiran negatif langsung bersarang di dalam kepalanya. Bagaimana kalau hasilnya positif? Ia tidak bisa membayangkan kehidupannya kedepan nanti.

Bagaimana ia merawat bayi ini kalau pekerjaannya saja hanya seorang koki di restoran kecil yang gajinya saja tidak seberapa. Ia hidup sebatang kara dan hanya Emily yang dekat dengannya.

Barbara tetap tidak mau merepotkan sahabatnya itu walaupun tadi Emily sudah berkata... "Jangan khawatir, Barb. Aku yang akan menanggung kebutuhan bayimu dan biaya persalinannya nanti."

Yah, Barbara memang tahu kalau Emily anak orang kaya dan masih menyimpang uang banyak di rekeningnya walaupun ia telah kabur dari rumahnya.

Akhirnya Barbara memutuskan untuk menggunakan alat itu sesuai prosedur yang tertera.

Barbara tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Gara-gara pria sialan itu dia jadi cemas tidak karuan.

Pria yang merenggut keperawanannya.

Bajingan!

Setelah menunggu lima menit, Barbara membuka matanya.

Ku mohon jangan positif.

Jangan positif.

Jangan.

Positif.

Ada dua garis merah tercetak disana. Seperti ditiban langit runtuh, dunianya serasa hancur, kakinya lemas seiring tubuhnya yang merosot menyentuh lantai dingin kamar mandi.

"Oh Tuhan..."

Ayah, Ibu, maafkan aku.

Hidup yang sudah hancur kini semakin hancur. Tangannya tergerak untuk mengelus perut rata yang beberapa bulan ke depan akan membesar. Diperut itu ada janinnya, anaknya.

Semua terlalu tiba-tiba. Dimulai dari Barbara yang sedang di club untuk merayakan ulang tahun rekan kerjanya hingga ia dihampiri oleh pria asing yang sedang mabuk berat.

Pria itu membawanya ke salah satu kamar yang ada di club itu. Walaupun ia berusaha meronta dan minta tolong, tak ada seorang pun yang mau menolongnya.

Hingga ia tiba di kamar itu, hal paling mengerikan terjadi di dalam hidupnya. Keperawanannya di rampas dan ke esokan paginya ia terbangun sendirian dengan tubuh yang tidak terbalut apapun dan ditinggalkan uang layaknya pelacur bayaran.

"Aku akan punya anak? Tanpa suami?" lirihnya.

Digenggamnya testpack itu dan menaruhnya di atas nakas lalu naik ke kasurnya. Kakinya ditekuk dengan tangan yang melingkari kedua lututnya. Pandangannya ke atas, mencoba untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya di hidupnya.

Tentang malam itu. Malam buruk itu, ternyata menghasilkan sebuah janin didalam perutnya.

Ia memang menyesali akan kejadian malam itu. Tapi, Barbara tak menyesali sekalipun anak yang sedang di kandungnya. Ia memang benci lelaki itu, tapi ia tak membenci anaknya.

Anak ini tidak berdosa dan ia harus berusaha untuk merawatnya tanpa bantuan siapapun, bahkan Emily. Dan kalaupun ia bertemu kembali dengan lelaki brengsek itu, ia tidak akan sudi meminta pertanggung jawaban darinya.

"Semangat, Little Boy! Besok waktunya untuk mencari uang!"

________________________

HOLA!!! Niatnya kemaren mau triple update tapi udah keburu ngantuk terus langsung ketiduran HEHEHE SORRY:(
__________________________
Leave vote and comment please:)

The Devil's Take MeWhere stories live. Discover now