Dino × Yeri

202 9 0

Ckrek. Ckrek. Ckrek.

"Sudah?"

"Eh, sekali lagi, dong!"

"Hei, kau pikir aku ini apa? Kau harus bayar aku nanti!"

"Ah, ayolah. Kau hanya akan lulus SMA sekali seumur hidup, kan?"

"Oh? Yerim-ah-"

"Hei, cepat foto aku!"

"I-itu, anu,"

Gadis dengan sebuket bunga di tangan itu mendapati gelagat temannya berubah aneh. Temannya yang memegang kamera itu menunjuk-nunjuk ke arah belakang gadis yang bernama lengkap Kim Yerim ini.

Seketika Yerim menganga sejenak begitu menoleh pada arah yang dimaksud.

"Lee Chan!" sambut Yerim senang saat mengenali siapa yang berada di belakangnya.

Lelaki berambut gelap dengan bentuk seperti mangkuk itu tampak begitu dewasa dan rapi. Dia datang di hari kelulusan Yerim dengan stelan kemeja putih bercorak bordir dan celana abu-abu tua. Lengan panjang kemejanya digulung sepertiga, dan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya di balik punggungnya.

"Wah, tumben sekali kau berpenampilan seperti ini? Ke mana Baby Dinosaur yang dulu selalu membuntuti Jeonghan Sunbae??" ledek Yerim.

"Aish, jangan disebutkan yang itu!" baru juga datang, Chan sudah dibuat jengkel. "Aku sudah dewasa. Paham? Aku sudah menginjak usia sembilan belas tahun. Aku tidak akan bertindak gwiyomi lagi. Titik."

"Wooowww..." sorakan Yerim masih bernada meledek, "Ya, ya, yang baru saja berusia sembilan belas tahun kemarin. Baiklah, Pak."

"Di hari Kedewasaan nanti tanggal 21 Mei aku akan memegang bunga mawar."

Yerim tak sengaja terkikik mendengar setiap ucapan Chan yang berapi-api. Sementara temannya Yerim yang tadi berpamitan meninggalkan mereka berdua saja.

"Selamat atas kelulusanmu, Kim Yerim." Akhirnya Chan mengeluarkan apa yang disembunyikan di balik punggungnya.

Serta merta Yerim menerima pemberian itu : sebuket bunga kelulusan.

"Waw, gak perlu repot-repot lah, tapi makasih, Chan." Tanpa menghirupnya pun Yerim sudah bisa mencium wanginya bunga itu. "Sepertinya kau minta ditemani Seungcheol Oppa untuk beli bunga ini, ya?" dan dia masih meledek.

"Ayolah, Kim Yerim. Tidak bisakah kau lebih dewasa sedikit?" gerutu Chan.

Yerim tak mampu menahan gelak tawanya saat mendengar kata 'dewasa'. "Harusnya kau, Chan. Jadilah dirimu sendiri, jangan fake begitu. Haha."

"Hei, siapa yang fake? Kau saja yang belum sembilan belas tahun."

"Aku mungkin memulai sekolah lebih lambat darimu, tapi Maret ini aku juga akan menyusul sembilan belas tahun, Pak." Ucap Yerim, "Dan bertambah usia menjadi sembilan belas tahun bukan berarti kau harus menjadi dewasa sejak saat itu juga. Kau butuh proses, meskipun kita tahu usia 19 adalah usia kedewasaan. Tapi menjadi dewasa secara instan itu tidak dibenarkan. Bukankah begitu, Pak Lee?"

Chan agaknya malu mendengar ucapan Yerim yang bijak itu. Tumben sekali dia berkata seperti itu. Tapi Chan berusaha jaim.

"Ya, inilah prosesku. Kau lihat? Aku berusaha tampil lebih dewasa dan bersikap lebih dewasa sekarang." Dalih Chan.

"Tapi itu instan sekali, Pak Lee."

"Hei, aku baru 19 kau sudah panggil aku 'Pak'?"

"Kau sendiri yang bilang kalau kau sudah dewasa?"

How do I Kiss YouBaca cerita ini secara GRATIS!