Page 15

2 2 0
                                                  

Agni telah kembali tepat setelah hari ketujuh kepergian ayah Gara. Kejadian yang memang sangat ditunggu oleh Nala. Tapi itu dulu, sebelum fakta tentang hubungan Gara dan Agni ia ketahui.

Sekarang sepertinya sudah tidak berguna. Ada atau tidak Agni, tetap saja Sagara tidak bisa ia miliki.

Nala menangis, mengasihani dirinya sendiri.

Kebodohannya yang mengatasnamakan persahabatan antara dirinya dan Gara, namun berbuah pada perasaan ingin lebih. Bodoh ketika tak sadar bahwa tiap rasa sesak didalam dadanya adalah cemburu karena cinta.

Terlalu tak berguna ketika cinta datang terlambat.

" Udah jangan nangis, nanti libur natal dan tahun baru aku kesini lagi " Agni memeluk Nala, menenangkan gadis itu yang sesenggukan tanpa tahu penyebab sebenarnya dari air mata yang Nala kekuarkan bukan untuknya.

Nala selalu berharap untuk Agni kembali, namun bukan berarti memberi hak pada Agni untuk memiliki Gara.

" Hati-hati, nggak usah khawatir sama Nala nanti aku yang tenangkan dia " Ujar Gara lembut.

Nala sudah menahan emosinya sejak kemarin, tapi saat melihat bagaimana Gara memberikan pelukan perpisahan pada Agni dan sesekali membelai surainya membuat tangis Nala pecah.

Menyesal...

Penyesalan terbesarnya membawa Agni ditengah persahabatannya dengan Gara.

Penyesalannya karena terlalu bodoh dalam meraba perasaannya sendiri.

Penyesalannya karena menjadi pihak yang kalah dalam cinta.

Penyesalannya karena bersikap terlalu rendah dengan tidak bahagia atas hubungan dua sahabatnya.

Terlalu banyak yang ia sesali, tubuh Nala merosot. Menunduk menyembunyikan wajahnya yang sembab dipenuhi air mata. Sesekali bahunya bergetar sesenggukan.

Gara meraih Nala untuk berdiri.

Lelaki itu menggelengkan kepanya, menganggap bahwa sikap Nala terlalu berdrama. Seakarang zaman sudah canggih, ada banyak jalan untuk saling bersua secara tidak langsung.

" Udah.. ssuhhhss " Gara mengahapus air yang tumpah dari mata Nala.

Nala mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Tidak bisa ia tidak ingin merelakan Sagara begitu saja, Nala bahkan belum membiarkan cintanya tersampaikan. Mengapa dia harus menyerah ketika belum mencoba.

Nala maju menghampiri Agni yang sedang menungggu disebelah mobilnya ketika koper bawaannya dimasukkan dalam bagasi. Gadis itu mencekal lengan Agni, menatapnya lamat-lamat. Bibirnya bergetar meragu dalam keputusannya mengeluarkan suara yang serak.

" Jarak membantu seseorang untuk meraba perasaanya, namun jarak juga mampu membuatnya meragu akan perasaan itu " Nala tersenyum manis.

Kening Agni berkerut dalam, merasa aneh dengan sikap Nala. " Maksud kamu apa? "

" Antara kamu dan Ocean dipisahkan jarak, berhati-hatilah " Nala berkata tenang.

Terbata-bata dengan ucapannya " Na.. Nala, kamu? Tidak mungkin bukan? "

Nala memamerkan senyum cerianya untuk menepis semua pikiran buruk Agni tentang dirinya.

" Kamu mikir apa sih? Aku cuma mengingatkan Agni! "

Agni menggelengkan kepalnya, berdecak pelan " Tadi itu sangat awkward! Menakutiku saja "

" Kita tidak tau apa yang akan terjad selanjutnya, baik antara kamu dan Ocean atau aku dengan Arka. Semua masih abu-abu Agni "

" Aaah "

" Harus waspada, skeptis dan penuh kehati-hatian jika tidak mau kehilangan " Nala memeluk Agni sebagai tanda perpisahan.

Benar-benar perpisahan. Ia juaga tidak tau apa yang akan terjadi antara dirinya dan Agni jika sampai Agni tau hasrat busuk dihatinya. Nala tau dia sangat jahat namun ia juga ingin memperjuangkan perasaannya. Mengesampingkan semua belas kasih, Nala akan mencari tahu jawaban apa yang akan diberikan Sagara saat lelaki itu telah mamp mengenali perasaan Nala pada dirinya.

" Titip Sagara " Ujar Agni melepaskan pelukannya.

Jangan pernah menitipkannya padaku, karena aku takut tidak mampu untuk mengembalikan.

Ya

Daripada tenggelam dalam penyesalan mengapa tidak ubah saja keadaan

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali

***

" Hai gadis " Arka tiba-tiba datang, menumpukan kepalanya pada dua tangan diatas meja. Lelaki itu menaik turunkan alisnya.

" Ish " Nala mencebik memalingkan mukanya kearah lain di ikuti Ratih yang terkikik geli.

" Hai pacar " Ujar Arka lagi, kali ini lelaki itu sudah ada disampingnya, memaksa Nala untuk berbagi tempat duduk yang sama. Mau tak mau Nala menggeser sedikit pantatnya, meberikan sedikit bagian kursi untuk tempat duduk Arka.

" Enggak ya Arka " Nala memberi peringatan.

" Kalian ini pacaran beneran apa cuma pura-pura? " Ratih bertanya penasaran.

" Enggak Ratih! " , " Yaps!" Seru Arka dan Nala kompak.

" Barengan gitu jawabnyaaa " Ratih menggoda Nala.

" Ratih! " Nala menekan dalam ucapannya, seperti memberi perintah pada Ratih untuk diam.

Ratih membuat gerakan mengunci depan bibirnya, kemudian tangan kanannya melempar kosong diudara seolah mebuang kunci.

Nala menghela napas, atensinya kembali pada sosok Arka di sampingnya " Ngapain kesini? " ketus Nala.

" Tadi kenapa nggak minta jemput? " Arka dengan gerakan abstrak jemarinya meraih kertas binder Nala yang beserakan. Menobeknya sedikit di ujung.

" Arka jangan disobek itu! Habis istirahat mau dikumpul ihh! Nulis lagi kan? " Seru Nala kesal.

Arka mendekatkan sobekan kecil kewajahnya, kemudian meringis bersalah saat melihat ada beberapa tulisan rumus yang terpisah dari kertas yang lebih besar.

" Dasar " Seloroh Nala.

" Maafin lah Na "

" Elo itu ya dimaafin bikin ulah lagi, terus aja kayak gitu sampe Sasuke punya rambut warna kuning! "

" Tadi kenapa nggak nge-chat gue minta jemput Na? " Tanya Arka lagi, mengingatkan Nala bahwa gadis itu belum memberikan jawabannya.

" Ocean udah masuk sekolah, gue berangkat sama dia " Jawab Nala.

Arka menepuk jidatnya, wajahnya mengukir ekspresi kaget yang sangat ketara dibuat-buat " Lupa gue, kalo cuma jadi sopir pengganti selama Gara nggak masuk "

Nala berdecak. " Dimana ada Ocean disitu ada Nala, selalu, seterusnya " Nala menerawang kosong pada papan tulis putih di depannya .

Arka berdiri mengacak rambut Nala sebentar. " Tau kok gue, Kalian saling memprioritaskan " usapannya berhenti bersamaan dengan eksistensinya yang berlalu.


TBC

UnfinishedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang