The Devil's Take Me | 1 - Invited to Party

7.2K 234 5

SELAMAT MEMBACA!:*

_______

Barbara kewalahan melayani pesanan pelanggan siang hari ini. Sungguh hari sangat banyak pelanggan yang datang. Well, mungkin karena ini weekend.

Mengecek pasta, mematikan kompor, mengecek masakan yang lainnya agar tidak gosong. Oh, itu membuatnya gila!

"Astaga, Barb! Pelan-pelan!" Emily muncul dari pintu masuk sambil membawa beberapa piring kotor dan gelas.

Barbara terkekeh. "Hari ini sangat ramai, Em. Kalau aku bekerja santai, bisa-bisa gajiku akan dikurangi oleh Mr. Smith." katanya ketika sudah selesai menata pastanya diatas piring dengan cantik.

"Itu tidak akan terjadi. Well, dia tertarik denganmu kalau mau tau." Emily mengerling menggoda. "Dan kalau kau menerimanya, kau hanya perlu bersantai dirumah dan tidak perlu bermain dengan dapur ini. Oh ya, kau juga akan menjadi Mrs. Smith."

Barbara kembali terkekeh. "Jangan berbicara sembarangan Ms. Carter. Kau tau, menjadi koki adalah impianku. Jadi mana mungkin aku meninggalkan ini semua."

Keduanya terbahak.

"Abe, tolong antarkan pasta ini ke meja nomor 6 ya."

"Ok Barb." Barbara kembali menutup pintu setelah Abe keluar.

"Hari ini Mr. Smith sedang berulang tahun Barb." ucap Emily. "Dia mengajak kita semua ke club untuk party. Dan kau harus datang!"

Barbara tampak berpikir. Seumur hidupnya ia memang tidak pernah sekalipun menyentuh tempat terlarang itu.

"Baiklah aku datang." Barbara menghela napas. Ia memutuskan untuk ikut karena dia berpikir akan bosan kalau terus-terusan di dalam apartemen kecilnya.

Emily memekik. "Mr. Smith pasti akan senang sekali. Mengingat kau selalu beralasan ketika dia mengajakmu ke club."

"Kau tau kan, aku tidak suka pergi ke sana."

"Kau terlalu kolot, tahu! Mungkin seisi LA akan menertawaimu ketika mereka tau bahwa kau belum pernah kesana dan... belum pernah merasakan yang namanya bercinta." Emily sedikit berbisik ketika menyebutkan kata terkahirnya.

Barbara memukul lengan Emily hingga Emily meringis. "Aku hanya mengingat kata ibuku, Em. Lagipula aku juga tidak tertarik untuk kesana dan... bercinta."

Keduanya terbahak.

"Ok. I'll pick you at 7, honey."

***

Barbara's Apartment,
06. 50 pm.

Barbara kebingungan memilih dress mana yang akan ia kenakan. Meskipun ia tidak pernah pergi ke club, Barbara masih mempunyai beberapa baju terbuka.

Pilihannya jatuh pada dress berwarna merah pekat dengan sedikit blink-blink di beberapa sisinya dan dipadukan dengan heels berwarna senada.

Pilihannya jatuh pada dress berwarna merah pekat dengan sedikit blink-blink di beberapa sisinya dan dipadukan dengan heels berwarna senada

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Tak lupa Barbara juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Setelah dirasa sempurna, ia mengambil ponselnya untuk menelpon Emily. Tapi sebelum ia memencet tombol call, nama Emily sudah terpampang lebih dulu.

"Barb, aku sudah dibawah. Are you done?" suara Emily diseberang sana menyambur ketika Barbara mengangkat teleponnya.

"Of course. Aku akan segera turun." Barbara menutup sambungannya dan segera menuju ke bawah.

Sesampainya ia dibawah, ia sudah melihat mobil mercedez Emily di depan apartemennya.

Emily memang sebenarnya anak orang kaya, hanya saja ia kabur dari rumah karena tidak terima dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis ayahnya. Ia hanya pergi membawa mobil serta beberapa bajunya.

"GOSH! You're so beautiful, Sweetheart!" pekik Emily ketika Barbara masuk ke dalam mobilnya.

"Well, we're both beautiful."

Keduanya tertawa.

"Are you ready for the party?"

"Yes, Ma'am."

Emily menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas hingga keduanya melesat meninggalkan apartemen.

"Let's go to the party!"

***

"YO Richard!" sapa seorang bartender ketika pria yang masih memakai jas dan celana kerjanya itu duduk di kursi bar.

"Hai, Jack."

Jack terkekeh. "Sepertinya tuan tampan kita sedang suntuk. Mau kubuatkan minuman?"

"Yes, please. Kau tahu, pekerjaanku sangat banyak hari ini." keluh Richard seraya mengambil gelas berisi vodka dari Jack dan menenggaknya hingga habis.

"Begitulah tugas seorang pemilik Adams, Richard. Dan kau harusnya merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga itu karena semua orang menginginkan posisimu sekarang. Ya, walaupun kau seorang bajingan."

Kedua orang itu terbahak.

"Well, aku memang bajingan. Bajingan yang tampan."

"Kemana dua teman bajingan mu itu?" Jack bertanya karena biasanya Richad selalu datang dengan Evan dan Liam.

"Sepertinya mereka sudah sampai. Aku akan ke dalam dulu. Bye, Jack."

Tapi, ketika Richard hendak melangkah, tangan seseorang menahan lengannya.

"Wanna play with me tonight, babe?" bisik wanita itu ditelinganya dan dengan sengaja menambah desahan disuaranya.

Richard terkekeh dan mengecup bibir wanita dengan mini dress itu hingga ia memekik kesenangan. "Sepertinya lain kali, aku harus bertemu dengan temanku dulu, honey."

Wanita itu mengerucutkan bibirnya dan kemudian berkata. "Baiklah, see you later, babe." dan kemudian wankta itu beranjak.

Jack yang melihat adegan itu terkekeh geli. "Sepertinya tentang perkataanku yang mengataimu bajingan itu benar, Richard."

Richard terkekeh.

Yeah, dirinya memang bajingan.

_______

HALLOO!! Maaf bgt baru bisa update, soalnya kemarin mata aku lagi sakit *walaupun sekarang masih* tapi hari ini aku paksain nulis biar ga kelamaan updatenya.
__________________________
Jangan lupa vote and komen.

Kalo kata cewek tadi, see you later, babe. HAHAHA

The Devil's Take MeWhere stories live. Discover now