Shameful*19*

469 22 0


Setiap orang berhak untuk bahagia

*******

Teng! Teng! Teng! Teng!

Bel istirahat berbunyi. Bella dan Daren berjalan beriringan menuju tempat favorit mereka. Tak ada perbincangan diantara mereka, hanya ada kesunyian yang mengiringi keduanya, hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.

Sesampainya mereka disana, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Mereka berdiri agak berjauhan dengan posisi saling membelakangi, membuat situasi semakin canggung.

Sang Bayu menjadi saksi bisu kehening dua insan tersebut. Yang tengah memendam gejolak di hati masing-masing.

15 menit yang lalu...

"Bella! Daren! Cepat kemari!" seru Velixs.

Setelah berlatih sekedarnya dan mempelajari naskah, Bella dan Daren segera menghadap sang guru pembimbing tersebut.

"Baiklah, karna kalian adalah tokoh utama dalam cerita ini. Kalian akan mendapatkan pelatihan khusus" tutur Velixs.

"Pelatihan khusus?" gumam Daren.

Keduanya menatap Velixs heran. Velixs mengerti kebingungan kedua murid SMA Mentari itu, ia pun menjelaskan.

"Iya, pelatihan khusus. Karna kalian tokoh utama di drama ini, maka kalian perlu membangun chemistry untuk menghidupkan cerita ini. Ya kalian taulah di tv-tv, setiap pemeran pasti mempunyai pendalaman karakter yang bagus dan mempunyai chemistry dengan tiap pemeran lainnya, jadi mereka bisa membuat penonton hanyut dalam alur cerita"

"Maka dari itu, kalian akan mendapatkan pelatihan lebih dari yang lainnya. Untuk membangun chemistry yang bagus" jelas Velixs.

Kedua sejoli itu mengangguk paham. Velixs kembali berucap "Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?"

"Oh, tentu dong pak! Kami kan teman dekat" terang Daren spontan merangkul pundak Bella.

Sebuah tatapan tajam dilayangkan pada sang ketos itu, membuat Daren refleks melepaskan rangkulannya.

"Baiklah, karna kalian telah saling mengenal maka akan lebih mudah membangun chemistry-nya. Kalau begitu kita mulai pada bagian dansanya ya" ucap Velixs.

Keduanya tersentak. Bayangan orang berdansa langsung memenuhi pikiran Bella dan Daren. Daren yang tadinya narsis, mendadak menciut. Mendadak ia teringat waktu dimana Bella memeluknya ketika ia berkunjung kerumahnya dulu.

Tuhan.. Itu saja sudah membuat jantungnya mo melompat, apalagi sekarang.

'Jantung, bertahanlah' batin Daren menguatkan diri.

"Ayo mulai!" tihtah guru berpenampilan nyentrik tersebut.

Daren dan Bella berdiri saling berhadapan. Daren mengangkat tangannya ragu, hendak meminta tangan Bella. Bella yang posisinya lebih pendek dari Daren mengangkat kepalanya, mendongak menatap Daren dan perlahan memberikan tangannya.

Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah desiran aneh menjalar di hati mereka masing-masing. Menolak perasaan aneh itu, Daren mengalihkan wajahnya ke arah lain mencoba menyembunyikan rona wajahnya.

Tak berlaku pada hati beku Bella, Bella hanya menganggap desiran tersebut sebagai angin lalu dan kemudian beralih menatap Daren. Walau tak berucap, Bella tau kalau makhluk di hadapannya itu mendadak bersikap aneh, walau biasanya emang udah aneh.

BroSist ComplexsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang