Page 11

2 2 0
                                              

Nala berjalan bersisian bersama Ratih, hari ini ada mata pelajaran yang harus dilakukan di lab komputer,

Entah sebuah kebetulan atau rencana dari Tuhan. Nala menangkap sosok Arka di lantai dua gedung lab komputer. Tepatnya di labratorium bahasa.

Ruang lab komputer dan bahasa terpisah dengan gedung dengan ruang kelas. Letaknya dekat dengan gerbang masuk, satu gedung dengan dua tingkat. Lantai satu adalah lab komputer dan lantai dua digunakan sebagai lab bahasa.

" Na, itu yang diatas kelas IPA-3 kan? "

" Maybe, tapi kalo liat Arka dan Dio sih sepertinya emang IPA-3 " Nala melepas sepatu beserta kaos kakinya.

Aturan lab, sepatu dan kaos kaki harus di lepas kalau ingin masuk.

" Nala " Dio, Nala ingat lelaki itu pernah memimpin baris-berbaris ketika ospek beberapa bulan lalu. Seorang konyol yang memerintahkan 'balik kiri' padahal tidak ada perintah seperti itu.

Aish... Nala memberengut ketika Dio memanggilnya, padahal gadis itu mati-matian menundukkan kepalanya agar Arka tak menangkap Nala dalam pengelihatannya.

" Kak Dio kan? " Tanya Ratih disebelahnya.

" Kenapa? " Teriak Nala sebagai jawaban.

" Dicari Arka " Nala menjulurkan lidah, memperlihatkan wajah mualnya, sedang Ratih menahan tawa.

Beberapa teman sekelasnya ber-cie ria.

Hah dasar.

Nala dapat melihat Arka menyikut lengan Dio dan berbicara sesuatu. Tapi telinga Nala tak mampu menangkap apa yang sedang diucapkan Arka.

" Kak Dio nggak usah kayak anak kecil, nggak lucu tau " Seloroh Nala sebal.

" Kak Dio ganteng ya Na, senyum gitu nambah sepuluh kali lipat gantengnya " Ratih berbisik lirih.

" Kak, kata temen aku kakak ganteng. Namanya Ratih disebelah aku anaknya "

Gantian Nala yang membuat Dio malu, beberapa teman sekelas dio tersenyum dan ber-cie ria, sama seperti yang teman-teman Nala lakukan.

Walaupun Nala merasakan sakit karena pinggangnya yang dicubit Ratih, tapi dia cukup puas karena berhasil membalas Dio.

" Kata Arka kangen " Balas Dio kembali.

" Apaan sih yo? " Kali ini Nala cukup bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Arka diatas sana.

" Bilang sama keturunannya sun go kong, gue nggak peduli " Jawab Nala.

Kesal jika terus menerus diledek padahal tak ada hubungan sama sekali dengan Arka.

Mereka cuma berangkat dan pulang bersama, namun kenapa semua orang beitu heboh. Pemikiran pendek Nala, jika ia kembali menunjukkan sikap anti-pati nya pada Arka. Maka orang-orang akan berhenti meledeknya.

" Sun go kong? " Arka menujukkan wajah marahnya.

" Iya, kenapa? "

" Enggak sih, gue nggak ngerti Nala. Elo bilang kita backstreet aja, tapi elo terang-terangan manggil gue dengan panggilan kesayangan gitu "

Nala membelalakkan matanya. Memastikan pendengarannya tidak bermasalah.

Back...

street...

Backstreet???!!

" Kalian pacaran beneran? " Sahut Dio cepat karena penasaran.

" Gimana sayang, harus jawab apa gue? "

S A Y A N G huh?! Nala melongo dibuat tak percaya. Sedang Arka menggigit bibirnya menahan tawa.

Pemikiran pendek Nala benar-benar salah. Bukannya menujukkan bahwa hubungannya dengan Arka hanya sebatas teman berangkat-pulang sekolah. Tapi malah menunjukkan hubungan yang lebih intim dari pada teman.

Pacar misalnya.

" Elo pacaran sama Arka "

" Absolutely not!, Enggak! " Nala menyahuti cepat pertanyaan Ratih disebelahnya.

" Eh.. eh ada pak Yoga udah jalan kesini dri kantor, cepetan masuk " seorang teman dari kelas Nala berbicara, mengingatkan bahwa guru mereka segera datang.

Sial. Nala masih sempat memicingkan matanya melihat Arka yang menyunggingkan senyum miring mengejek dengan sebelah alis yang dinaikkan.

Gadis itu hanya mampu melumat Arka dalam pandangannya. Awas saja!.

Memangnya mau apa? Bukannya Nala selalu kalah dari Arka.

***

Nala berjalan cepat menuju gerbang begitu bel pulang berbunyi. Gadis itu duduk bersama beberapa anak lain yang menunggu angkutan umum. Gila saja, Nala tidak akan mau pulang bersama dengan Arka lagi.

Tidak tau angkutan mana yang harus ditumpangi, Nala bertanya ke beberapa anak yang ada disana.

Nala sedikit bingung saat seorang temannya mengatakan Nala harus naik dua kali angkutan umum untuk sampai di perumahannya. Penjelasan yang diberikan juga mental begitu saja dari otak Nala.

Sepertinya akan lebih baik jika gadis itu naik taksi atau ojek online saja, akan lebih praktis.

Nala segera menginstal aplikasinya.

Maklumi saja, selama ini selalu ada Gara yang mengantarnya kemanapun.

Masih saat sedang menunggu aplikasinya di instal " Ya ampun Nala, gue cariin dari tadi ternyata elo disini " Arka membuka helmnya.

Nala mengabaikan ucapan Arka. Matanya masih asik memandangi jalannya unduhan di ponselnya.

" Pakai " Arka sudah ada di depannya, tangannya terulur memberikan helm berwarna kuning cerah pada gadis itu.

" Gue nggak mau pulang sama elo "

" Cepat pakai terus naik ke motor, gue laper temenin gue makan Nala "

" Ih siapa lo siapa gue, lo nyuruh-nyuruh gue. Males banget! " Masih tidak mau menyerah, Nala tak berpindah satu senti pun dari posisinya.

Sejak tadi mereka bicara Nala sama sekali tak melihat Arka. Pandangannya terus fokus pada ponselnya. Sangat terlihat bahwa ia meremehkan Arka.

Arka menggelengkan kepalanya, mengambil langkah mendekati Nala kemudian memakaikan helm itu secara paksa.

Tentu saja Nala memberontak tidak terima " Apa-apaan Arka! " Bentak gadis itu. Kembali melepaskan pelndung di kepalanya.

" Nggak malu teriak gitu dilihat anak satu sekolah " Ucap Arka santai.

Nala memperhatikan sekitarnya, ia meringis melihat orang-orang yang mengamati mereka.

Bahkan saat ia menajamkan telinga, Nala dapat mendengar bisikan beberapa orang " Ada apa sih " lalu jawabannya " Pertengakaran kekasih "

Hell...

Cepat Nala memakai helmnya. Lalu segera mengikuti Arka yang berjalan ke arah motornya.

Daripada tetap ngotot pada pendiriannya ia akan semakin mempermalukan dirinya. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah mengumpat dalam hati.

Memberikan berbagai kutukan pada Arka.

Monyet

Iblis

Setan..

TBC

UnfinishedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang