Page 10

1 1 0
                                              

Nala berlari secepatnya dari rumahnya ke rumah Gara.

Dia takut kalau-kalau Gara masih bersedih setelah kehilangan ayahnya. Tapi pemandangan yang di dapatkannya saat ada diruang tamu benar-benar diluar ekspektasi.

Gara sedang tertawa bersama Agni yang membuat ekspresi-ekspresi lucu. Sesekali Gara mengelus puncak kepala Agni.

Hati Nala berdenyut sakit.

Saat semua orang berpendapat Gara terlihat cocok dengan Nala. Tapi begitu Agni datang Nala merasa tersisihkan.

Harusnya Nala yang menghibur Gara.

Tidak, Nala yang seharusnya tidak boleh seperti ini. Sejak dulu Gara selalu berada ditengah Nala dan Agni. Namun dulu semua terasa biasa.

Sekarang Mengapa Nala menjadi tidak rela.

" Seru banget "

Nala bergabung dengan canda tawa kedua sahabatnya.

" Ini tadi Agni cerita momen-momen dia waktu diluar kota. Lucu deh masak dia pernah nabrak kambing sama temennya " Cerita Gara mengulangi apa yang dia dengar dari Agni.

" Kamu balik kapan? "

Nala menghiraukan cerita Gara, hanya memberikan tawa sedikit untuk tanggapannya.

" Setelah tujuh hariannya Om, papa udah izinin aku disekolah "

" Oh "

Berarti masih ada tiga hari lagi waktu Agni disini.

Lebih dari tiga bulan Nala menghabiskan waktunya hanya berdua dengan Gara−tentu saja Ratih juga ikut serta. Tapi Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya hanya dengan Nala. Bukan dengan Gara.

" Sini " Agni menarik lengan Nala, membawanya untuk duduk disebelahnya.

Nala menggeleng, dia mau duduk disisi Gara. Jadi gadis itu langsung menempel pada Gara, membuat Gara menyuruh Agni untuk menggesar duduknya.

" Maunya ditengah, biar pisa dipeluk-peluk kalian berdua. Kangen! " Ujar Nala berkilah.

" Kenapa nanya aku pulang kapan? Takut nangis lagi ya? Takut kangen? Utuk-utuk " Agni menggelitik dagu Nala membuat gadis itu kegelian.

Sebenarnya bukan karena hal tersebut Nala tapi Nala menangguk saja.

Sepertinya dia benar-benar menjadi seorang yang munafik sekarang.

Pasalnya Nala menginginkan Agar Agni segera pulang.

" Agni bakal balik kok pas libur semester " Ujar Gara.

" Udah nggak ada yang melayat ya? " Nala mengalihkan pembicaraan.

Serius dia gerah terus-menerus membahas Agni. Ugh

" Ada satu dua orang "

" Bunda mana? "

" Dikamar, dibangunin pas cuma ada orang yang melayat "

" Kakek sama nenek masih belum pulang? "

" Ada di dalem "

" Kamu kenapa sih Na, kayak mau interogasi Gara gitu " Celetuk Agni pada akhirnya.

Menurutnya Nala hari ini aneh.

Jangan ditanya Nala kenapa, dia sendiri juga bingung karena kehilangan seluruh kata dipikirannya.

Setelah emosi karna kedekatan Agni dengan Gara, sekarang malah dia tidak bisa mengontrol detak jantunngnya jika disebelah Gara.

" Nggak tahu juga " Nala mengendikkan bahunya acuh.

" Dasar nggak jelas " Cibir Agni sembari menggelengkan kepalanya.

" Mau diambilin makan Na? " Tanya Gara kemudian, sedikit merenggangkan tubuhnya yang terlalu dekat dengan Nala.

Bukan apa-apa, Gara hanya merasa sedikit sesak.

" Udah makan sama Arka "

" Oh iya Na dia nganterin kamu pulang kan? "

Nala menangguk " Kan kamu yang suruh, tapi kata Arka tadi aku harus nemenin dia makan selama aku masih nebeng sama dia " Jelas gadis itu.

" Ya berarti enak dong, ditraktir kan? " Sahut Agni menyela.

" Pastinya " Nala menaik turunkan dua alisnya, senyum mengembang diwajahnya.

Sadar atau tidak, kehadiran Arka sekarang tak menjadi masalah untuk Nala sejak lelaki itu membantu menarik Gara dari jurang duka karena kehilangan ayahnya.

***

" Ratih pinjemin gue tugas fisika lo dong " Nala yang baru saja sampai dikelasnya langsung menodong tugas temannya.

Nafasnya masih terengah ketika ia sudah meletakkan pantatnya di kursi.

" Lagi? " Tanya Ratih.

Beberapa hari ini semua tugas yang dikerjakan Nala adalah hasil dari menjiplak milik Ratih.

Sebagian sudah ia tulis dirumah melalui foto yang dikirimkan Ratih. Namun ada beberapa yang tidak bisa ia baca sehingga harus mencontek secara langsung dari sumbernya.

" Lo kan tau sendiri Ocean lagi berduka, nggak mungkin lah gue ngegrebek dan minta ajarin dia. Nggak punya hati namanya "

" Ya mending elo lebih banyak belajar, baca-baca buku. Daripada nggak punya otak "

Nala menyengir mendengar ucapan Ratih. Dia juga tidak sakit hati, mau bagaimana lagi memang kenyataannya seperti itu.

Nala lemah dalam hitungan, apalagi menghafal rumus. Otaknya terlalu bebal untuk diajak berkompromi.

Ratih menghela nafas, tapi ia tetap mengeluarkan bukunya untuk disalin Nala.

Secepat kilat Nala meraih bukunya, matanya berbinar dan sesegera mungkin ia mengisi baris kosong di miliknya.

" Na, gue liat selama Gara nggak masuk elo selalu sama Arka ya? "

" Enggak cuma pas berangkat sama pulang doang kok, anggap aja motor jemputan " Nala mengangkat bahunya acuh.

" Hah dasar, jahat lo! " Memutar bola matanya " Tapi ya Na, kok bisa ya elo akur gitu sama Arka "

" Ya... karena gue lagi nggak pengen ribut " Jawab Nala, jarinya masih bergerak-gerak menambah tulisan dibukunya.

Ingin melumat Nala karena gemas dengan jawaban yang gadis itu berikan " Sini buku gue " Ratih merampas bukunya.

" Ratih! Apaan sih, gue mau pinjem "

" Elo nyebelin, jawab yang serius dong kalau gue tanya " Meletakkan kembali bukunya diatas meja, yang langsung dibuka cepat oleh Nala untuk melanjutkan acara menyalinnya.

" Dia nggak semenyebalkan yang gue kira, di beberapa hal Arka orang baik " Jawab Nala kemudian.

" Gue nggak sangka elo bakal bilang Arka orang baik " Kata Ratih nasih memandang takjub Nala karena kalimat yang baru saja dilontarkan gadis itu.

" Gue juga nggak menduga " Nala menghela napasnya " Tapi, yang harus elo inget adalah cuma dibeberapa hal "

" Anggap saja begitu, biar bagaimanapun elo bisa akur sama Arka adalah sebuah keajaiban buat gue "

" Tidak ada keajaiban Ra, yang ada itu usaha. Usaha gue buat berdamai sama Arka " Nala menutup buku dan meletakkan pensilnya.

Gadis itu sepertinya sudah selesai untuk menyalin tugas Ratih.

" Coba aja otak lo sebijak itu dalam pelajaran " Celetuk Ratih.

Tangannya terulur menerima bukunya yang telah dikembalikan Nala.

" Tidak ada manusia yang sempurna Ratih, seseorang berkata seperti itu "

" Ya, gue tau elo pinter ngeles "

Nala tersenyum.

TBC

UnfinishedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang