Kita Bisa Berteman?

23.9K 4.3K 402
                                                  

"Udah baikan?" Tanyanya.

Aku tidak segera menjawab. Separuh pikiranku terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba. Separuh yang lain, aku sibuk memindai penampilanku saat ini. Celana pendek dan kaos kedodoran yang warnanya sudah pudar, rambut dijepit asal-asalan ke atas, sedikit basah oleh keringat hasil kerja keras mencuci, dan ember besar dalam pelukan berisibaju-baju yang harus dijemur. Demi segala macam teori Filsafat Manusia, kenapa aku bisa sesial ini sih?!

"Hah?" Tanyaku, tidak mengerti. "Baikan maksudnya?"

"Kata Lesti kamu sakit?"

Astaga! Kok bisa ya aku sebodoh ini? Kupikir kuliah hampir 4 semester di Filsafat membuatku cukup pintar.

"Oh! Iya iya, udah baikan kok. Udah mendingan. Udah...ng, udah bisa nyuci." Jawabku dengan cengiran kecut. "Dari Saung?"

Langit mengangguk. "Gantiin kamu ngajar."

Aku ber-Oh panjang. "Terus ke sini mau...?"

"Aku bawain obat, sama soto ayam." Katanya. "Kamu nggak balas WhatsAppku. Aku nggak tenang jadinya. Habis ngajar langsung ke sini, dan sekarang aku baru ngeh kalau mungkin..." Langit menggaruk kepalanya sedikit salah tingkah. Aku baru sadar kalau dia membawa plastik putih di tangan kanan. Plastik itu sekarang dia ulurkan padaku. "Itu cuma alasanmu buat nggak datang biar nggak ketemu aku."

Jleb! Rasanya seperti saat sengaja sok sibuk mencatat supaya tidak ditunjuk waktu dosen mulai bertanya-tanya eh ternyata kena juga. Aku tahu Langit itu tidak bodoh. Jenius, malah. Tapi kenapa tebakannya harus sejitu itu sih?

"Hah? Eh, enggak kok." Aku mengelak. "Ngapain juga?" Buru-buru kuterima plastik putih itu. "Makasih lho. Ayo, duduk dulu Kak. Mau minum apa? Bentar ya, aku taruh ini di belakang dulu."

Aku segera ngibrit ke tempat jemuran yang terletak di belakang kosan. Ini sungguh di luar perkiraanku. Bisa-bisanya Langit masih berani datang ke sini, memberiku perhatian, seolah semuanya masih sama seperti semester lalu. Apa memang seperti ini cara main cowok-cowok brengsek?!

Tapi apa tadi katanya? Dia tidak tenang karena aku tidak membalas WhatsApp-nya? Rasanya dia mengucapkan kalimat yang sama saat dia bela-belain datang dari Puncak karena maagku kambuh waktu itu. Kenapa dia harus bersikap seolah kesehatanku sepenting itu?? Aduh, sadar Ra, sadar. Itu trik keji ala cowok brengsek. Pasang pertahanan baik-baik. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama karena cuma keledai yang melakukannya, ingat?

Aku sedikit berharap Langit langsung pulang setelah tahu aku hanya pura-pura sakit. Tapi ternyata dia duduk di bangku panjang depan kamar saat aku kembali. Kepalanya menunduk, sedang tangannya aktif menggulir layar ponsel. Namun saat dia menoleh dan menatapku lalu tersenyum, aku tahu bahwa aku akan sangat kecewa jika mendapati dia tidak ada di sana saat aku kembali dari tempat jemuran.

Sial! Sebenarnya apa sih yang ku inginkan?

"Jadi, gimana Saung?" Tanyaku, mengambil tempat di sebelahnya. Sengaja kuberi jeda beberapa kepalan tangan untuk menghindari persinggungan. Sebenarnya aku ingin ganti baju dan memperbaiki penampilan supaya lebih pantas. Tapi setelah kupikir-pikir, untuk apa juga? Mau aku secantik Chelsea Islan juga tak akan mengubah keadaan!

"Kapan kamu mau datang lagi?"

Aku menelan ludah. "Minggu depan. Kalau nggak ada halangan."

Langit mengangguk-angguk. Sungguh aku tak pernah berpikir bahwa bersama Langit akan jadi momen seawkward ini.

"Tapi karena aku telanjur di sini," Langit menjeda sejenak. "kupikir kita harus bicara."

"Mau jelasin apa sih?" Tanyaku dengan nada geli yang dibuat-buat. "Soal gosip-gosip itu?" Aku tertawa kecil. Tawa terpaksa. Lama-lama aku jadi merasa gila. "Kak Langit nggak punya kewajiban untu jelasin apa-apa. Aku...nggak peduli."

Story of You & Me (SEGERA TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang