OKTOBER

201 15 0

Musim sudah berganti lagi. Katanya kemarau akan datang, tapi pelupuk mataku masih saja basah. Aku harap Oktober hanya punya waktu sekarang dan esok. Agar lusa setidaknya aku merasa lega.

Kamu. Untuk sebentar saja, pernah tidak tulus padaku? Sedetik dari banyak penggalan waktu yang kita sebut kemarin itu.

Oh, tidak ya? Seharusnya aku terjaga sedari dulu. Dari mimpi yang kamu ciptakan dengan mata terbuka. Dari rasa yang kusalah artikan maksudnya.

Aku merasa bodoh. Membalas cintaku itu seperti meminta hal yang begitu tidak mungkin. Terlebih aku jauh dari kata sempurna untuk kamu yang begitu memesona.

Oh, ya. Kalau aku boleh tau-sebelum aku pergi- kita ini sebenarnya apa? Hanya dua insan yang di paksa bersama?

Masih boleh, aku meminta waktumu yang berharga itu? Sedikit pesan cinta sederhana dan kalimat pengantar tidur yang mesra?

Bersamamu lebih lama apa akan hanya menjadi sekadar angan yang membumikan luka di dasar jurang kehampaan. Apa begitu, sayang?

Jika aku tau mencitaimu bisa se-menyesika ini. Aku akan lebih memilih di ciptakan tuhan dengan tidak punya hati.

Jika aku tau akan jatuh hati padamu seperti ini, aku aku minta untuk tidak pernah di biarkan berjumpa.

Oktober ini jahat. 7 hari pertamamu ini sering membuatku menangis. Tak tahu kenapa. Mungkin karena dia yang tidak juga peka dengan hati yang tengah di sayatnya dengan sengaja.

Pergi! Sana pergi. Kembalikan bulan-bulan membahagiakan itu. Aku menyalahkan waktu yang terus berjalan. Karena kamu berubah dan aku tidak suka itu.

Kembalikan dia yang dulu hangat seperti perapian musim salju. Atau aku akan merobek bagianmu di kalender kamar.

Biar saja. Gila karena menganggap tahun hanya di isi sebelas bulan tanpa kamu, Oktober. Biar, aku kehilangan 30 waktu yang kamu beri. Aku tidak suka.

lokamedia
mediakita
Gramedia

PERGITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang