You Know Who

45.1K 5.3K 208
                                                  

Aku tak pernah suka jadi pusat perhatian. Saat SMA pun aku pilih ikut ekskul majalah yang tak perlu tampil di depan ketimbang cheerleader yang selalu identik dengan anak-anak populer. Saat dosen mulai mengedarkan pandang untuk mencari kandidat penjawab pertanyaan aku akan buru-buru menundukkan kepala pura-pura sibuk mencatat supaya nggak ditunjuk.

Bagaimana aku bisa bertahan jadi pusat perhatian kalau lupa pakai deodoran saja sudah bisa membuatku parno seharian? Rasanya semua orang menatapku dan menutup hidungnya. Padahal kalau kulihat lebih teliti lagi, orang-orang terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri untuk memperhatikan mahasiswa lusuh yang super B aja sepertiku.

Tapi untuk kali ini, aku yakin bukan hanya perasaanku. Sejak aku keluar dari kelas Filsafat Politik tadi hingga perjalnan menuju kantin, banyak yang menyempatkan diri menoleh menatapku. Lalu berbisik-bisik kepada orang di sebelahnya, dan memasang wajah kasihan. Itu bukan hanya khayalanku.

"Apa gue bilang," Bisik Maya yang duduk di sampingku. "nggak usah makan di kantin dulu."

Aku mendengus. Memangnya mau makan di mana kalau bukan di kantin? Di Mall dekat kampus itu? Akhir bulan begini? Cari mati namanya.

"Mau pindah aja?" Tanya Donna, meminta pendapatku.

Aku menggeleng. "Ngapain sih? Gue kan nggak harus sembunyi dari apa pun."

"Ya nggak gitu, Rara sayang." Tukas Maya sedikit kesal. "Lo nggak harus menghadapi ini sekarang, you know that."

"Oh, gue harus menghadapi ini, May. Karena ini kenyataan, dan gue harus ke mana kalau terus-terusan lari dari kenyataan?" Jawabku. 

Kedua sahabatku memasang ekspresi prihatin, seperti seorang politikus yang mudah terharu atas segala situasi yang terjadi.

"Ck!" Aku berdecak kesal. "Cukup orang-orang aja yang mengasihani gue. Kayaknya kalau gue duduk ngampar sambil bawa cangkir, mereka bakal rela ngasih lima puluh ribu per orang. Lo berdua jangan ikut-ikutan."

Maya dan Donna saling berpandangan. Selanjutnya, Donna menghela napas panjang. Sementara Maya mendengus dan berkata "terserah lo aja deh."

"Gue benci banget dilihat kayak gitu. Dan mereka akan terus ngelihat gue kayak gitu, kalau gue nggak menghadapi ini sekarang. Now or never, May!"

"Ya. Apa kate lo deh."

Kami bertiga memasuki kantin dan mengedarkan pandangan. Eew, bukan tebar pesona ya, melainkan mencari meja kosong yang sungguh langka di jam makan siang begini. Dan pandangan-pandangan penasaran sekaligus kasihan itu masih terus mengikutiku sampai kami mendapat tempat duduk di pojokan, di dekat penjual gado-gado.

Kalau saja bukan aku yang mengalami ini semua, mungkin aku juga akan memasang ekspresi yang sama dengan mereka. Memandang dengan kasihan pada mahasiswi tingkat dua yang selama 6 bulan terakhir hidup seperti tokoh utama Drama Korea. Dekat dengan salah satu cowok yang dianggap grade A di kampus, dan tinggal menunggu waktu saja untuk jadian. Setidaknya begitu alur ceritanya, sebelum mendadak tersiar kabar Langit menghamili cewek lain dari jurusan dan angkatan yang sama dengannya. Pangeran tampan tiba-tiba menghilang setelah berpamitan dengan pelukan hangat di waktu hujan. Lalu, si tokoh utama pun sadar bahwa apa yang ada di Drama Korea hanya ada di Drama Korea.

Bagian yang paling menyebalkan adalah, aku jadi orang terakhir yang tahu soal skandal Langit dengan teman seangkatannya itu. Setelah berbulan-bulan kedekatan kami, Langit datang di suatu sore saat hujan deras setelah dua minggu menghilang. Memelukku singkat dan mengatakan hal-hal yang lebih rumit daripada teori filsafat. Dan keesokan harinya aku harus mendengar kabar itu dari orang lain, seperti orang bodoh. Kalau memang kami harus berakhir seperti ini, tidak bisakah dia mengucapkan perpisahan dengan lebih baik lagi?

Story of You & Me (SEGERA TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang