Chapter XX (Final Chapter)

2.7K 169 101

"Astaga...."

Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku saat ini. Bagaimana tidak?

Bayangkan, kau sedang enak-enaknya meminum coklat panasmu sambil mengelus-elus kucingmu untuk menenangkan diri-

Tetapi sebuah kapsul terbang tiba-tiba muncul di hadapanmu dan pengemudinya hanya tersenyum dan melambaikan tangan dengan santainya.

Di malam hari.

Demi apapun. Kurasa hanya Ali seorang yang bisa melakukan hal tersebut.

Si Putih terlihat kebingungan. Ia tidak tahu apakah harus mempercayai matanya atau tidak.

ALI TIDAK MENGGUNAKAN MODE MENGHILANG ILY.  

Ali kemudian membuka jendela ILY, "Selamat malam, Raib." sahutnya dengan suara agak keras. Aku segera mendekat, "APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!"

"Apa maksudmu? Kau tidak bisa melihat aku sedang mengemudikan ILY?"

Anak ini-

"BUKAN BEGITU. NYALAKAN MODE MENGHILANG ILY. SEKARANG." 

"Baiklah-baiklah." Ali menjawab sambil menyalakan mode menghilang. "Kau senang sekarang?"

"TIDAK." Aku menjawab masih dengan keadaan setengah panik. "Apa yang sedang kau lakukan di jam-jam in?! Seharusnya kau tidur!"

Lalu, Ali menyeringai. Oh tidak.

"Wah, ternyata Tuan Putri Raib peduli dengan pola tidurku ya? Aku sungguh terharu." Ali menyanggah kepalanya dengan lengannya yang berada di setir kemudi, sambil memperhatikan wajahku yang mulai memerah.

"Bukan seperti itu. I-intinya, tidak wajar berkeliaran malam-malam untuk remaja seusia kita,"

Aku menoleh ke ILY, "apalagi dengan kapsul terbang."

Ali hanya tertawa kecil. "Baiklah, apapun katamu, Raib." 

Aku menatap Ali dengan memasang wajah curiga. "Apa?" Tanya Ali.

"Jadi? Apa tujuanmu datang ke sini?" 

"Ah, iya. Aku hanya ingin mencari udara segar. Lalu, kebetulan melewati rumahmu."

Kebetulan ya?

"Lalu? Kau ke sini mau apa?"

"Apakah kau tahu kalau hari ini akan ada hujan meteor di dekat wilayah bagian timur?"

Hujan meteor? "Tidak..?" Aku menjawab dengan nada bingung.

"Nah, aku ingin ke sana. Mau ikut?" tanya Ali. "Tidak."

"Ayolah, temani aku." Ali merayu. Aku hanya terdiam, memikirkan hal ini dengan baik-baik.

"Tidak, Ali. Orang tuaku pasti akan panik habis-habisan ketika mereka mendapati kamarku yang kosong." Aku menjawab kembali. 

"Aku jamin, kau akan kembali sebelum mereka tau kalau kau habis pergi."Ali meyakinkanku.

"Hmm.. Bagaimana dengan Seli? Apa kau sudah mengajaknya?"

"Belum. Mungkin habis dari rumahmu, aku akan mampir ke rumahnya."

Aku kembali berpikir.

Hujan meteor ya? Aku belum pernah melihatnya secara langsung sebelumnya. Terdengar cukup menarik. Tetapi...

"Kau yakin aku bisa kembali sebelum jam 12 malam?" Aku bertanya kepadanya.

"Tentu saja, Raib." Ali menjawab dengan yakin.

Hmm... "Baiklah kalau begitu, aku ikut. Tetapi kita ke rumah Seli dulu."

Wajah Ali terlihat senang ketika aku akhirnya setuju untuk ikut dengannya. "Nah, begitu dong."

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now