"Kalo lo nggak bisa dapat kebahagiaan dirumah, lo bisa cari diluar."
Deru ombak membuat Elena terhanyut dalam pikirannya, bukan itu yang ia mau. Ia punya kebahagiaan, hanya saja semuanya perlahan sirnah.
"Kalo aja kebahagiaan bisa dibeli, gue akan beli semuanya dan gue bagi sama rata kesemua orang biar nggak cuma satu atau dua orang yang ngerasain."
"Tapi nggak semua bisa nerimanya, El."
"Mana ada orang yang nggak bisa nerima kebahagiaan, Ta?"
"Karena mereka tau, kebahagiaan gampang perginya."
"Terus gimana?"
"Kalo gue, lebih baik mereka ngerasa sedih atau bener-bener nggak punya kebahagiaan karena begitu mereka bisa ngobatin dirinya sendiri dan bisa tangguh, nggak gampang ngeluh sama keadaan."
"Lo emang jahat ya, Ta. Masa lo mau mereka terus-terusan tersakiti. Emang lo kuat di sakitin?"
"Cuma itu yang ada dipikiran gue, El. Gue percaya kebahagiaan emang gampang di cari, tapi kebahagiaan juga yang bikin gue lembek, selalu buat gue mikir kalo hari esok itu ada."
"Kenapa?"
"Kalo arti bahagia cuma tertawa atau tersenyum, gue juga bisa lakuin itu sekarang, tapi buat ngerasain maknanya? Banyak orang yang nggak paham dan cuma pura-pura."
"Kayak elo?"
"Gue pura-pura karena emang kebahagiaan kayak nggak berpihak ke gue, juga karena gue udah lama nggak ngerasain itu. Gw nggak pernah ngerasa bahagia setulus orang-orang."
"Tapikan lo bisa cari diluar,"
"Tapi nggak ada yang nyata."
"Terus kenapa lo minta gue buat cari di luar?"
"Karena pasti lo nemu satu, El."
"Lo tau dari mana?"
"Karena lo percaya kebahagiaan itu ada."
Elena termenung, apa iya Atta merasa begitu tersakiti bahkan ucapannya tidak bisa Elena cerna dengan baik.
Makna bahagia, apa itu? Dan nggak semua bisa nerima kebahagiaan? Mana mungkin. Gumam Elena.
Hari semakin sore, duduk berdua di pasir pantai dengan sinar senja membuat Elena merasa begitu sepi. Atta terdiam setelah pembicaraan tadi, mungkin benar ia sedang merasa sedih sekarang tapi wajahnya seperti dibuat-buat tangguh. Mungkin dia benar lagi sedih, seperti ucapannya tadi; orang yang bersedih bisa ngobatin dirinya sendiri.
"Tapi lo percaya cinta itu ada, kan, Ta?"
"Cinta? Cuma buat orang-orang yang siap tersakiti."
"Tapi cinta itu emang ada, ya mungkin kita emang belum beruntung."
"Lo tuh emang seneng percaya sama hal-hal yang cuma fantasi, ya."
"Fantasi gimana? Emang beneran ada kok."
"Elena-elena..."Elena mengerutkan dahinya, "Cinta itu cuma permainan. Awalnya seru, lama-lama negbosenin."
"Gw nggak setuju, siapa bilang ngebosenin?"
"Kalo nggak ngebosenin, nggak akan ada perpisahan, El."
"Itu bukan karena bosen, perpisahan ada kalo keduanya udah saling nggak percaya."
"Salah, perpisahan ada karena yang satunya bangsat."
"Ta!"
"Bilangnya beda pendapat, tapi ternyata ketemu yang lain mereka merapat."
"Udah-udah, yuk pulang. Senja-nya udah habis."
"Lo juga senengnya nungguin yang nggak pasti."
Atta menghadap ke arah langit yang warna orange-nya mulai terbalur kegelapan, "Ya mudah-mudahan, lo selamanya percaya cinta itu ada."
Atta berdiri dan menuju ke tempat parkiran, Elena mengejarnya, "Gw percaya."
"Cinta itu ada?" Aod tertawa.
Elena mengangguk,
"Gw ngerasain itu, Ta. Bahkan sekarang."
"Tapi semua itu akan hilang, kayak yang sebelumnya."
"Enggak. Gw yakin enggak."
"Lo nggak harus percaya kata-katanya, El. Kayak gitu gampang dihapusnya."
"Tapi dia beda, Ta."
"Terserah, asal lo kuat kalo semuanya berakhir."
YOU ARE READING
Teduh
Romance"Nggak semua rasa sakit harus di pendam, El. Aku suka ada diantara kemacetan ibukota, aku suka ngeliat orang-orang yang ngedumel bahkan marah-marah karenanya, bukan orang yang cuma diam tapi dalam hatinya membara." "Dave, kalo cinta benar ada. Aku h...
