Chapter Ten

23.9K 402 28

Klik bintang, comment. Thanks:)

Karla Carmona (Mona)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Karla Carmona (Mona)

Gimana nih kalau kalian yang ketemu dia? Gebuk atau elus?

"Mau Melamar" Lanjutnya

Nayna menyipitkan matanya, heran melihat wanita yang tengah duduk di sofa tersebut, Mona hanya tersenyum sok-polos.

Dengan kecepatan kilatnya, Bi Mira mencairkan suasana yang mulai tegang,
"Maaf nyonya. Sebelumnya saya pernah kenal sama Mona, dia dulu teman dekat saya, Nyonya" Ucap Bi Mira.

"Serius? Kenapa gak bilang dari tadi? Eh kamu Mona mantan sekretaris suamiku ya?" Tanya Nayna lalu diikuti senyuman manisnya.

Mona membulatkan matanya,berdeham sebentar lalu kembali menatap Nayna
"Engga. Siapa? Suami kamu siapa? Aku aja ga kenal hehe" Ucap Mona.

Bi Mira, adalah saksi kebohongan Mona, sayangnya Nayna adalah tipe orang yang cepat percaya kepada orang lain dan tidak-tegaan dalam artian Nayna adalah orang yang tidak bisa melihat orang yang sedang kesusahan.

Nayna membulatkan bibirnya itu,
"Salah orang hehe. Maaf namanya Mona ternyata engga cuma satu ya" Nayna menyengir lucu
"Iya. Berhubung rumah ini luas dan juga lebar, saya kasihan ngeliat Mira kerja sendirian. Apa boleh saya melamar sebagai asisten rumah tangga? Atau sebagainya lah yang penting membantu meringkankan pekerjaan" Mona tersenyum sok-polos lagi.

Nayna berpikir sebentar, ada benarnya perkataan Mona. Rumahnya bisa dibilang "hampir" menyerupai istana. Ea.

Nayna menggangguk pelan,
"Kalau Bi Mira, setuju atau enggak?"
Bi Mira hanya meneguk ludahnya pelan, sambil menatap Mona dan Nayna bergantian.

Mira, orang yang sempat menjadi teman dekat seorang Mona. Ia mengetahui Mona dari segala sikapnya dan lain-lainnya. Mona adalah seorang yang tak boleh masuk kedalam kehidupan Nayna dan juga Reyhan.

Karena, Mira tau. Mona adalah mantan-sekretaris-Reyhan itu sekarang notabenya.

Mona menatap Bi Mira dengan tatapan sok-imutnya, yang meng artikan ia sedang memohon agar Bi Mira mengganggukan kepalanya menandakan ia setuju.

Lama banget sih, cuman bilang iya doang pake berpikir kayak mau ngapain aja!, omel Mona dalam hati.

"Loh? Terserah Nyonya aja, saya toh tidak keberatan jika mengambil pekerjaan sendirian" Akhirnya Bi Mira angkat bicara.

Mona menggertakan giginya pelan, ia mengetahui bahwa dirinya sebentar lagi akan diusir.

"Aduh, kasian juga Mona nya gaada pekerjaan. Yaudah deh Mona kamu saya terima ya, jadi asisten. Sekalian bantuin Bi Mira tuh" Ucap Nayna sambil tersenyum ikhlas kepada Mona.

DesahanBaca cerita ini secara GRATIS!