• Prolog •

4.5K 723 28

Katanya, waktu bisa memberi bantuan untuk melupakan.

Katanya, waktu bisa menyembuhkan luka meskipun tak instan.

Katanya, waktu bisa menghilangkan rasa sakit walaupun perlahan.

Nyatanya, Genta tak pernah merasakannya. Hatinya tetap sakit. Lukanya tetap menganga lebar. Berdarah. Dan tak kunjung mengering, meskipun bertahun-tahun sudah terlewat.

Ada satu perasaan yang tak kunjung sembuh. Yang tak pernah berkurang meski banyak kejadian yang berlalu lalang di hidupnya. Karena setiap kali Genta mencoba melupakan, rontaan tak terima itu selalu mencabiknya tanpa ampun. Setiap kali Genta mencoba meyakini diri bahwa apa yang sudah terjadi bukan salahnya, teriakan penghakiman itu selalu bergema dalam relungnya. Membuatnya kembali berandai pada sesuatu yang jelas tak akan terulang.

Kembali Genta menundukkan kepalanya. Pada sebuah tempat peristirahatan abadi dari satu sosok yang selalu disayanginya lebih dari apa pun. Yang diharapkannya selalu bahagia tak peduli apa pun yang terjadi.

Rest in Peace

Carolla Biancara

 
Genta menahan napasnya. Menatap dalam diam. Sama sekali tak menunjukkan emosi apa pun. Rasa sakit itu kembali mengalir saat menyadari bahwa di bawah sana, sang adik sedang sendirian. Olla-nya mungkin sedang menangis karena kesepian. Lagi.

Rahang Genta beradu kuat. Genta pikir, dirinya sudah menjaga dengan baik. Berpikir bahwa dirinya sudah menjadi satu-satunya sosok yang akan dicari sang adik jika sendirian. Tapi nyatanya tidak. Jarak dan waktu sudah membuat adiknya itu menjauh lalu akhirnya menghilang bersama abadi.

"Apa kabar, La?"

Hening.

Genta amat sadar bahwa jelas tak akan ada yang menjawab pertanyaannya. Dan kenyataan itu kembali membuat dadanya sesak.

"Gue udah janji nggak bakal sering-sering ke sini." Jeda sejenak. Karena Genta butuh menarik napasnya. "Tapi karena hari ini lo ulang tahun, gue mau ngasih selamat," ujarnya menahan senyum getir. "Di sana, lo harus baik-baik. Lupain apa yang nyakitin selama lo di sini."

Setelah hanya berdiam diri sambil menatap nisan sang adik tanpa melakukan apa pun, akhirnya Genta menarik napasnya panjang-panjang. Tak ingin meninggalkan. Tapi meraung bahkan mengamuk seperti beberapa bulan yang lalu, tak akan pernah bisa mengembalikan Olla. Tak akan pernah. Jadi, begini memang lebih baik. Menahan semua rasa sakitnya sendirian. Karena jelas tak ada yang mau ikut menemaninya.

"Gue balik, La."

Sudah. Hanya itu. Genta berbalik. Kemudian berjalan lambat keluar area pemakaman. Sama sekali tak berniat menoleh ke belakang. Berusaha menerima fakta, bahwa Olla memang hanya akan terpatri pada jejak yang bernama kenangan.

Namun, langkah Genta perlahan memelan. Di sana, di sebuah bangku panjang tak jauh dari motornya terparkir, Genta melihat cewek yang memakai seragam yang sama dengannya. Cewek yang tak pernah benar-benar hilang dalam ingatannya meskipun berkali-kali berusaha tak acuh pada kehadiran cewek itu.

Audri Felisia namanya.

Genta ingin menghampiri, namun sadar bahwa itu bukanlah bagiannya. Jadi akhirnya, Genta memilih kembali berjalan ke arah motornya. Mengabaikan rasa penasarannya akan alasan mengapa Audri bisa berada di sini. Di sebuah pemakaman yang berada di Bogor.

Masalahnya, ternyata Genta memang tak bisa benar-benar abai. Karena saat sudah berada di samping motornya, Genta justru tetap berjalan lurus. Menghampiri Audri yang masih menundukkan kepala. Sama sekali tak menyadari kehadirannya.

Menarik napasnya sesaat, Genta menyamarkan senyuman kecil. Sambil menatap satu-satunya cewek yang berhasil menarik perhatiannya dari awal masuk SMA Nawasena dulu. Karena ternyata, setelah dua tahun lebih berlalu dan juga penyangkalan yang dilakukannya, tetap tak lantas mengaburkan sebuah rasa tertarik pada cewek yang masih menunduk di hadapannya ini.

"Ngapain di sini?"

Dan Genta sontak merasa bodoh. Saat untuk yang kesekian kalinya, sang jantung kembali berdetak lebih kencang ketika kedua mata bening itu menatapnya. Sama seperti dulu.

•○•

haloo.. sesuai janjiku, aku mengembalikan Genta. terima kasih untuk tagihan yang selalu kalian deklarasikan. hehe.

ini alur yang baru. yang lama mari kita tinggalkan. karena setelah aku baca-baca ulang, aku nggak menemukan lagi 'rasa' di dalamnya. dan iya, Limerence akan aku usahakan update rutin. diusahakan juga nggak unpub lagi. haha.

oke, segitu aja. terima kasih buat kalian yang masih nunggu aku, padahal aku kalo update lamanya bisa kayak bang toyib yang nggak pulang-pulang. wkwk.

salam,
yenny marissa

[27 Agustus 2018]

LimerenceBaca cerita ini secara GRATIS!