Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dialog senja, 2OOO. . . • ☆
• • •
Ini pasal empatsketsa, yang kulukis bersama, dalam kanvas yang berbeda, namun dengan potlot yang serupa. Lalu kujadikan satu semesta, yang kunamai gerbong senja.
Tempat kecelakaan, dan panti asuhan.
Senja, sapuan jingga dalam cakrawala yang cantik jelita. Sayangnya dia hanya sementara. Yang menuah lara dan melebur tawa. Tetap saja, Lentera suka senja.
"Bentar, belum jam lima. Tunggu sampai jam lima ya?"
Pemuda itu terangguk. Dirogohnya saku celana, berharap meraih sesuatu di sana.
"Nih," selembar tekstil motif polkadot abu-biru singgah di depan hulu. Lentera menggugu tanpa ragu.
Sangkala pukul lima. Pelupuk tak kuat terbendung, tirta jatuh menggelundung. Oh semesta, kapan keadilan berpihak padanya?
Lagi, dirinya meratapi sang kaki yang kini tak dapat menyanggah diri. Lara kembali menyelimuti hati. Gerbong kereta api yang telah membawa orang tuanya pergi, satu-satunya yang dapat disalahi. Ah——kenapa dia tak ikut mati?
"Hey, ayo pulang."
"Ah——iya. Makasih, Arshad."
Arshad, pemuda itu mengerti kondisi Lentera saat ini. Walaupun ia tak tahu pasti, Tapi——bertanya meski sejengkal kata, ia tak berani dengan alasan tak mau menyakiti.
Ya, Lentera serapuh itu.
Didorongnya kursi itu sampai panti. Arshad tak mungkin membiarkannya mendorong sendiri.
"Udah lebih baik?" tanyanya.
Lentera mengusap pipi, "Udah kok."
Plang abu yang menyatu dengan debu itu mulai terpaku, yang dulunya hanya terpikir sebuah tempat untuk singgah, namun kini menjadi rumah. Meski tak megah, namun dapat mengobati resah.
Inilah mereka, yang mengkikis esok dan lusa dalam panti yang jauh dari kata jelita.