Chapter Nine

Mulai dari awal

Nayna yang memperhatikan itu menelan salivanya susah, meskipun tak dapat mendengar dengan jelas tetapi Nayna tahu gerak-gerik Reyhan, Reyhan sedang marah sekarang. Nayna hanya terdiam sambil memperhatikan Reyhan.

"Sudah ya, aku mau melanjutkan aktivitasku, dan berhenti mengganggu" Reyhan memutuskan sambungan telfon, lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.

Reyhan menoleh ke Nayna yang sedari tadi memperhatikannya,
"Jangan terkejut. Wajahmu sangat lucu jika seperti itu" Reyhan mencubit pipi Nayna gemas
"Tadi kenapa? Kamu ada masalah apa sama sekretaris kamu?" Tanya Nayna penasaran.

Nayna menunggu jawaban dari Reyhan, menatapnya penuh arti. Tetapi Reyhan malah mengalihkan pembicaraan mereka,
"Udah gak usah dibahas. Yuk lanjut aja" Reyhan duduk tepat di sebelah Nayna.

"Uh, Reyhan" Nayna cemberut lalu meletakkan kepala nya di perut Reyhan, menatap Reyhan dari bawah.
"Reyhan..." panggil Nayna pelan,
"Ada apa?" Tanya Reyhan sambil mengelus rambut milik Nayna.

"Kamu gak nyesel nikah sama aku?" Tanya Nayna, tanpa disadari Nayna menggigit bibir bawahnya

"Nyesel kenapa? Yang ada aku malah bersyukur, aku dapet istri kayak kamu, Nay. Aku sayang kamu" Reyhan tersenyum kembali
"Tapi aku belum bisa ngasih kamu keturunan" Nayna kembali menatap Reyhan penuh sesal,
"Mungkin belum waktunya sayang, hanya Tuhan yang tau. Kamu jangan nyerah dong, sehabis datang bulan yuk rajinin olahraga kasur" Reyhan tersenyum jahil

"Ish, mesumnyaa" Nayna terkekeh kecil, tak kuat menahan nafsunya Reyhan langsung saja menyosor bibir Nayna yang dari tadi menggodanya.

"Hmmphh..." Nayna sangat menikmati sentuhan Reyhan, ia tak membalas cumbuan itu ia hanya menikmati itu.
Reyhan sangat pandai bermain bibir, ah rasanya Nayna sangat ketagihan.

Tak lama, Nayna mendorong kecil tubuh Reyhan yang membuat cumbuan mereka terlepas, di kesempatan itu Nayna menghirup oksigen, Reyhan yang melihat itu tersenyum manis sesekali mencubit hidung Nayna.

"Aku juga sayang kamu, Reyhan" Nayna membalas senyumnya.

***

Nayna sudah duduk di kursi meja makan dengan pakaiannya yang rapi, sambil menatap layar ponselnya, sesekali tersenyum sendiri.

"Nyonya, yuk kita sarapan dulu" Bi Mira menyadarkan Nayna dari dunia maya nya,
"Eh iya Bi. Tunggu Reyhan ya" Nayna meletakkan ponselnya diatas meja makan, pandangannya teralihkan kepada satu malaikat tampan yang sedang menuruni anak tangga.

Reyhan menuruni satu-persatu anak tangga sambil memperbaiki letak jam tangannya,
"Kalau turun tangga jangan mainin jam, entar kalau jatuh bahaya tau" Omel Nayna,
Reyhan hanya tersenyum jahil.

"Isteriku pagi pagi udah ngedumel" Reyhan mengecup dahi Nayna lalu duduk di hadapan Nayna
"Mau kemana kok rapi banget?" Tanya Reyhan penasaran.

"Mau pergi bareng Chaira, boleh kan? Hehe" Jawab Nayna sambil tersenyum penuh arti,
"Boleh, tapi inget waktu. Kan biasanya kalau mama mama muda di mall lupa segalanya, lupa dunia" Sindir Reyhan
"Iya, bapak tua. Janji deh ga lama-lama" Nayna mencerucutkan bibirnya.

Reyhan hanya terkekeh kecil,
"Inget waktu, kalau mulesnya muncul lagi langsung pulang jangan nyusahin Chaira ya" Pesan Reyhan,
"Iya. Ga bakal kok sayanggkuuuu" Nayna tersenyum bahagia.

DesahanBaca cerita ini secara GRATIS!