19

676 18 5

"Cinta tak harus datang diawal, yang terpenting adalah kebersamaan hingga akhir."

                              ****

       Dua minggu telah berlalu, tapi ingatan mengenai pembicaraanku bersama Putera, masih selalu segar di ingatan ini. Bahkan, hampir keseluruhannya masih bisa kuingat. Alasan yang dia kemukakan adalah sesuatu yang tak pernah kupikirkan. Kenapa aku lupa kalau Putera memiliki seorang mama yang egois? Kenapa aku lupa kalau Putera selalu mematuhi keinginan mamanya? Tentu saja semenjak ayahnya meninggal dan berpesan untuk selalu menjaga perasaan mamanya. Dan, kenapa aku lupa, kalau Putera tak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan?

       Aku dibutakan oleh rasa sakit karena pengkhianatannya. Aku menyesal, tapi perasaanku sudah tak lagi dapat menerimanya. Tanda tanya dihatiku mungkin telah mendapat jawaban dari semua perubahan Putera, tapi jawaban dari semua hal itu membuatku berpikir untuk memaafkannya.

       Sudah beberapa hari ini Aldan sering datang ke rumah, bukan aku yang dia temui melainkan keluargaku. Entah apa yang dia bicarakan dengan mereka, aku hanya khawatir kalau misalnya Aldan menceritakan masalah Putera pada keluargaku.

       Semenjak pertemuan kami waktu itu, kami memang tak pernah bicara lagi. Hubungan kami sudah terputus semenjak hari itu, tapi bukan berarti karena masalah yang terjadi diantara kami, hubungan keluarga yang telah terjalin sejak lama ikut berakhir.

       Sama seperti saat ini, Aldan tengah mengobrol dengan keluargaku di ruang tengah, suara tawa mereka terdengar samar hingga kamarku. Karena tak pernah ada yang memintaku untuk keluar, aku lebih memilih untuk diam di dalam kamar saja.

       Kubuka novel yang kemarin baru kubeli, dan mulai membacanya. Entah kenapa, aku selalu mencoba menghilangkan penatku dengan membaca buku yang justru membuatku semakin stres.

       "Kak, Aldan mau ngajak kakak pergi. Ayo cepat, siap-siap ya! Dia lagi nunggu kakak di bawah." Nira membuka pintu kamarku tanpa izin dengan penuh semangat. Sikapnya itu yang tidak aku sukai, dia selalu masuk kamarku tanpa izin.

       "Pergi kemana?" tanyaku bingung, Khaira hanya mengendikkan bahunya lalu menutup pintu.

       Sebenarnya apa yang dia inginkan? Apa dia ingin bertanya masalah kami lagi? Aku sudah tak mau membahasnya saat ini.

                              ****

       "Sepertinya sudah cukup lama kita tidak pergi bersama seperti ini!" Aldan mulai mengawali pembicaraan. Suasana didalam mobil yang sepi membuat keadaan menjadi tidak mengenakkan.

       "Sebenarnya kamu mau mengajakku kemana?" tanya Asya datar.

       Aldan tersenyum, dia justru menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan turun. Asya ikut turun, mengikuti Aldan menaiki jembatan penyeberangan, lalu menyandarkan diri disana sambil melihat mobil yang berlalu lalang.

       Asya berdiri disamping Aldan tak mengerti, dia pikir Aldan akan mengajaknya ke restoran atau ke café seperti biasanya, tapi dia malah berdiri disana sambil melihat kendaraan yang lewat. "Jangan memandangku seperti itu. Lihat saja ke depan, dan nikmati angin yang tengah berhembus saat ini." ujar Aldan santai.

       Asya tak banyak protes, dia mengikuti ucapan Aldan. Rasanya beban dipikirannya menjadi lebih ringan, bahkan tanpa sadar Asya mulai memejamkan mata menikmati angin yang berhembus. Seakan-akan angin bisa menerbangkan seluruh masalah yang selama ini selalu membebaninya.

       Disampingnya, Aldan hanya memandangi Asya yang tengah menikmati angin yang berhembus. Rambut Asya yang terhempas angin membuat Aldan terpegun, inilah sisi lain Asya yang selama ini ingin Aldan ketahui. Saat dimana Asya tak lagi penuh dengan kepura-puraan, dia terlihat menjadi dirinya sendiri. Asya sendiri tak sadar akan pandangan Aldan padanya.

       Setelah beberapa saat berlalu, Asya mulai membuka mata dan menoleh pada Aldan. Wajah Aldan tepat berada dihadapannya membuat Asya terkejut hingga mundur selangkah. Aldan kembali tersenyum, "Kenapa sikapmu seperti itu, kamu takut terjadi sesuatu?"

       Asya tak mengatakan apapun, dia tetap bergeming di tempatnya. "Kenapa tidak sejak lama kamu melakukan hal ini. Menutupi kebenaran hanya akan melukai dirimu sendiri." ujar Aldan kemudian.

       "Apa maksudmu?" tanya Asya tak mengerti. Aldan berbalik, menatap Asya serius.

       "Aku sudah tahu apa yang terjadi, aku tahu apa yang selama ini kamu alami. Aku sudah menelaah perasaanku selama ini dan kupikir mungkin kita bisa melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius. Aku bahkan sudah mengatakan hal ini lebih dahulu pada keluargamu. Aku hanya butuh persetujuanmu. Lupakan saja masa lalu, kamu bisa memulainya lagi dari awal denganku." Aldan mulai mendekati Asya, dan berdiri tepat dihadapannya. "A-apa ya-ng sedang kamu bicarakan?"

       "Aku punya prinsip dimana menjalin hubungan dengan ikatan suci seperti pernikahan harus memiliki alasan yang kuat juga komitmen. Pernikahan tak bisa selalu dilandaskan hanya karena cinta, karena aku tahu cinta bisa saja pudar seiring berjalannya waktu. Kita bisa sama - sama memulai sesuatu, seperti meninggalkan masa lalu dan memulai masa depan. Aku punya alasan yang kuat mengatakan ini. Jadi...." Aldan mulai mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan balutan beludru hitam, lalu menggenggamkannya di tangan Asya. "...bisakah kita mengawali semuanya bersama-sama?"

       Asya tak percaya dengan pernyataan Aldan yang mendadak. Matanya tak bisa lepas dari kotak kecil di tangannya. "Aldan, aku...."

       "Aku tahu kamu pasti terkejut, tapi kupikir ini yang terbaik untuk kita berdua. Lupakan tentang Putera dan Naila. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri." potong Aldan, senyumnya masih terukir di wajahnya.

       Ingatan Asya kembali berputar saat Aldan memberikan perhatian lebih padanya selama ini, dia sadar kalau Aldan memang pria yang baik. Dia memang ingin mengawali semuanya lagi dari awal dan sekarang, Aldan memberinya kesempatan itu.

       "Apa kamu bisa menerimaku apa adanya?" tanya Asya ragu. Aldan mengangguk, "Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan mencoba menerima dirimu apa adanya."

       "Kalau begitu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan memulainya denganmu." ungkap Asya.

       Aldan senang mendengar keputusan Asya, dia segera memakaikan cincin yang tersimpan di kotak yang Asya pegang ke jari manisnya. Setelah itu, Aldan merangkul pundak Asya dan mengelus rambutnya.

Inilah pilihanku, aku memilih untuk mengawali semuanya bersama Aldan. Sejujurnya aku masih ragu, tapi keseriusan Aldan membuatku sadar kalau selama ini hidupku dipenuhi oleh malam hari yang gelap. Aku ingin melihat cahaya matahari dan menikmati sisa hidupku dengan baik. Apapun yang terjadi nanti, hanya Dia yang tahu. Batin Asya

-Selesai-

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!