[17] Try to Understand

Mulai dari awal

"Aku sangat mengkhawatirkanmu, tahu? Aku bahkan tak mendengar apapun darimu sepanjang libur musim panas ini. Aku... aku sangat merindukanmu..." ujar Serin sambil terisak-isak di tengah tangisnya.

Tak ada hal yang dapat dilakukan Kyungsoo saat ini selain menarik Serin ke dalam pelukannya. Tak ada kalimat yang pantas diucapkannya untuk mengobati rasa kecewa Serin padanya. Kyungsoo tak pernah merasa jadi sebodoh ini sebelumnya.

"Maafkan aku..." bisik Kyungsoo sambil merapatkan tubuhnya pada Serin.

Tak ada reaksi dari gadis itu selain tangisannya yang semakin deras. Kyungsoo bisa merasakan Serin sedang meremas kemeja longgar yang dipakainya, dan air mata gadis itu kini telah merembes sampai ke kaos dalamnya hingga Kyungsoo bisa merasakan air mata hangat Serin yang telah menyentuh kulitnya. Ia membelai kepala Serin dengan lembut agar tangisnya mereda.

"Mianhae, Serin-ah. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjauh darimu. Maaf kalau aku tidak mengatakan apa-apa soal kegiatanku sebagai trainee. Semuanya begitu mendadak dan aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu. Aku sangat egois. Ya Tuhan, maafkan aku..." entah siapa yang sedang Kyungsoo ajak bicara saat ini. Yang jelas, ia benar-benar terdengar sangat menyesal.

Serin melepaskan tautannya dari Kyungsoo. Matanya benar-benar sudah bengkak dan pipinya sangat basah. Ia bisa melihat dengan jelas jejak air matanya di kemeja Kyungsoo, dan mata lelaki itu kini... memerah.

Kyungsoo menangis.

Serin tidak pernah menyangka bahwa seorang Do Kyungsoo bisa menangis sampai hidungnya memerah. Ia tidak tahu bahwa ia dan Kyungsoo sama-sama menyimpan semuanya dalam diri mereka masing-masing. Hati mereka terlalu lemah untuk membiarkan orang yang disayang merasakan apa yang sedang mereka rasakan.

Berkali-kali Serin mengatakan dalam hatinya bahwa Kyungsoo adalah pria yang tidak punya hati, namun setelah melihat lelaki itu ikut menangis dengannya, Serin jadi tidak tega. Ia adalah tipe yang rela menahan unek-uneknya daripada menyesal kemudian karena telah membuat orang lain kecewa. Tak terkecuali saat ini. Dalam sekejap Serin menyesali kalimatnya karena sudah menyinggung Kyungsoo. Ia tak bisa terus memikirkan dirinya sendiri. Apakah ia pernah memposisikan dirinya sebagai Kyungsoo? Ia merasa bahwa Kyungsoo juga tidak kalah punya beban yang sama sepertinya. Kerja keras sebagai trainee dan tekanan yang dihadapinya... pasti tidak mudah juga bagi Kyungsoo.

"Pasti berat sekali untukmu."

Kini keduanya saling memeluk dan saling menenangkan satu sama lain.

Setelah keduanya lebih tenang, Kyungsoo mulai menceritakan dari awal bagaimana ia bisa berakhir dalam situasi saat ini. Dan juga alasan-alasan kenapa ia tidak pernah mencoba menghubungi Serin selama ini.

"Sebenarnya ada hal lain yang ingin kusampaikan..." ujar Kyungsoo sedikit ragu. Serin mencoba menatap mata Kyungsoo namun wajah lelaki itu terlihat sangat serius. Jelas sekali ada sedikit kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya.

"Apa itu?"

Kyungsoo menelan salivanya. Wajahnya terlihat sangat gugup sampai nafasnya sedikit berat. Ia menarik nafas panjang dan mulai menatap Serin dengan serius.

"Aku akan debut dalam waktu dekat."

Serin mematung. Ia baru saja menenangkan hatinya beberapa saat yang lalu. Tapi... apa ini? Ia bahkan tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Entah harus senang karena itu merupakan sebuah pencapaian untuk kerja keras Kyungsoo, dan sedih karena... entahlah. Pikirannya terlalu rumit untuk menggambarkan semuanya.

"Ch-chukhahae." jawab Serin dengan singkat dengan senyum yang dipaksakan. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus merespon.

"Serin-ah, dengarkan aku baik-baik," Kyungsoo memegang kedua bahu Serin dan menatapnya dengan serius. "Karena waktu debutku sudah dekat, kemungkinan untuk kita saling berkomunikasi akan sulit. Aku tidak akan diizinkan untuk memakai ponsel karena harus fokus dengan persiapan debutku. Jadi tunggulah aku, nanti aku yang akan datang padamu, mengerti?"

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang