[17] Try to Understand

84 6 0

Baekhyun menatap gadis berambut pirang yang baru saja ia ketahui namanya beberapa menit yang lalu. Gadis itu sedang berdiri di depannya sambil terus mengusap lengannya dengan gelisah karena sedikit risih dengan tatapan Baekhyun yang terus memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu yakin sekali pria kecil di depannya ini sedang mengatakan sesuatu dalam benaknya,namun Wendy sama sekali tak ingin menebak apa yang dipikirkan lelaki itu.

Selepas mengamati Wendy dengan mata misteriusnya, Baekhyun mengalihkan pandangannya ke ujung gang kecil dari tempat ia berdiri. Di sana terlihat Serin sedang berdiri sambil melipat tangannya, seolah tidak ingin membuka diri terhadap lelaki bertubuh pendek di depannya. Mata Baekhyun kembali mengarah ke tempat lain, ia meraih kedua saku celananya sambil berpura-pura menatap sekeliling agar tampak sedang berjaga.

Di ujung gang kecil itu Serin merapatkan kedua lengannya. Matanya mengarah ke aspal jalan. Ia bahkan enggan sekali menatap lelaki di hadapannya sekarang. Tak ada gunanya bicara dengannya saat ini.

"Kau marah padaku?" tanya Kyungsoo dengan suara yang sangat pelan.

"Bagaimana kau bisa menanyakan sesuatu yang sudah jelas kau ketahui jawabannya?" balas Serin dengan enggan.

"Kau marah soal aku yang jadi trainee atau karena Wendy?"

Serin menaikkan pandangannya. Matanya terlihat berputra-putar ke atas, namun sebisa mungkin tetap menghindari sosok Kyungsoo.

"Aku kecewa padamu, kau tahu?"

Kyungsoo tidak menjawab kalimat Serin. Matanya menatap lurus ke bawah, sementara Serin masih tak ingin menatap wajah Kyungsoo.

"Maafkan aku." ujar Kyungsoo sangat pelan. Matanya ingin menatap Serin tapi ia terlalu ragu.

Serin mulai melirik Kyungsoo pelan-pelan karena takut tangisnya akan pecah jika terlalu memaksakan diri untuk tidak menatap wajah lelaki itu.

"Aku sebenarnya sangat marah padamu. Aku sungguh ingin memaki jika aku bertemu denganmu. Aku bahkan benar-benar ingin menamparmu. Tapi kau mengenalku dengan baik, Kyungsoo-ya, semua pikiran itu tak akan mungkin benar-benar kulakukan."

Kyungsoo akhirnya memeberanikan diri menatap Serin. Wajah Serin yang biasanya selalu cerah dan ceria entah kenapa terlihat sangat suram dan gelap. Kantung matanya terlihat membengkak. Apakah gadis itu banyak memikirkannya selama ini? Apakah tidurnya cukup? Apakah ia makan dengan baik?

"Kalau begitu lakukan saja. Tampar aku sekarang." kata Kyungsoo mendekatkan dirinya pada Serin. Ia mengangkat wajahnya, namun matanya masih belum berani bertemu dengan bola mata gadis itu.

Serin mulai merasakan sesak di dadanya, nafasnya terlihat mulai terengah-engah dan matanya mulai merasa panas. Ia ingin teriak sekencang-kencangnya di telinga Kyungsoo, mengeluarkan semua sesak di dadanya karena lelaki itu sudah berbohong padanya selama ini. Kyungsoo menaikkan pandangannya, dilihatnya mata Serin yang mulai memerah karena menahan tangis.

Kyungsoo meraih tangan Serin dengan gemetar. Ia seperti ingin menangis bersama gadis itu setelah melalu hari-hari yang berat sebagai trainee. Ia ingin mengeluh sebanyak mungkin pada gadis itu. Tapi ia tahu bahwa posisinya saat ini sedang tidak berhak untuk melakukan semuanya.

Hawa panas yang telah memenuhi kelopak mata Serin sejak tadi akhirnya berbuah tetesan air mata. Matanya yang merah karena menahan panas akhirnya berubah basah dengan air mata yang keluar dari sudut matanya dan mengalir melalui kedua pipinya.

"Serin-ah..." ujar Kyungsoo lemah. Raut wajah Serin membuatnya tersadar penuh bahwa gadis itu selalu menahan kecewanya sendiri selama ini. Do Kyungsoo, kau benar-benar pria brengsek.

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang