PROLOGUE

2K 126 405

PROLOGUE

Broken doll

You bought me with your sweet lies and angelic smile

Took me home and shed me out of my skin to your liking

The hands of yours touch me so soft and light

Made me intoxicated and lovesick


You played me

I entertained you

You deceived me

And I acted like a fool


Your fake love what made me bloom and wither at the same time

Pretending you care was how you manipulated me into this chaos

I knew in your life I'm just a mere dime

But you're the reason I can move on


I had foreseen the day you throw me out

And you did

I once was your doll

And now I've been broken

Eleanor B. – The Love of Marionette


London, September 2012

Hujan deras dan petir mendera kota London pada pagi hari. Matahari seakan bersembunyi dari kemarahan alam yang mengamuk. Air yang jatuh ke bumi membuat tanah yang sudah dipenuhi oleh daun musim gugur akan bertambah sulit untuk dibersihkan. Tapi itu masalah kecil dibandingkan harus beraktivitas di tengah cuaca yang buruk.

Musim gugur seharusnya menjadi musim yang paling menyenangkan. Musim dimana udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tidak ada kulit yang terbakar atau memerlukan mantel tebal. Bisa menikmati pemandangan daun yang berguguguran, lalu menumpuknya dan berbaring di atasnya.

Tapi tentu hujan deras selalu merusak segalanya.

Banyak orang yang mengeluhkan cuaca hari itu. Ada yang harus tiba di kantor dengan pakaian basah. Payung yang diterbangkan oleh angin kencang. Udara yang turun beberapa derajat lebih dingin. Merusak sepatu. Dan keluhan demi keluhan akan terus menjadi topik hari itu.

Kecuali seorang pria yang tinggal di area pinggiran London.

Pria itu berpakaian rapi meski sedang berada rumahnya sendiri. Kemeja abu-abu tua, celana dan rompi hitam, serta sepatu kulit. Rambutnya yang hitam lebat di tata ke belakang hingga menampakkan matanya yang indah nan tajam. Pria itu duduk di belakang meja kerjanya yang besar dan terbuat dari kayu kokoh. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya yang elegan, sementara ia membaca sebuah berkas dengan perhatian penuh.

Pecandu rokok itu tidak memusingkan soal cuaca yang sedang melanda. Cuaca adalah hal terakhir yang ada di benaknya. Pria itu lebih mementingkan soal pekerjaannya dibandingkan hanya sekedar hujan dan petir, mungkin sedikit angin kencang. Toh, semakin dingin udaranya, semakin banyak ia memiliki alasan untuk menikmati whiskey kesukaannya. Bukannya ia butuh alasan untuk minum-minum.

Ia menutup berkas di tangannya dan meletakannya di meja. Pada saat itulah ponselnya yang berwarna hitam berdering. Sebagai pemilik, ia sudah pasti meraih alat elektronik tersebut untuk melihat siapa yang menelepon ponsel pribadinya pada pagi hari. Melihat nomor yang tak dikenal membuat pria itu menaikkan salah satu alisnya.

Itu adalah kode nomor telepon Amerika Serikat.

Khususnya New York.

Merasa sedang murah hati, ia menggeser tombol hijau. Entah apa yang membuat nomor tak dikenal itu meneleponnya pada jam3 pagi bagian New York.

"Halo."

Suara berat pria itu membuat siapa pun yang berada di Negara seberang sana menarik napas tajam. Penelepon itu sama sekali tidak menjawab pria itu, hanya bernapas dengan gemetar dan sesekali terdengar seakan ia akan berbicara tapi menghentikan dirinya.

Jika suasana hati pria itu sedang lebih buruk dari saat itu, ia pasti sudah mematikan sambungan dan memblokir nomor tersebut. Malah, ia mungkin tidak akan menjawab telepon itu.

Pria itu sekali lagi bermurah hati dengan menunggu hingga penelepon itu bicara. Tapi ia juga tidak akan memancing dan memilih menunggu dalam diam.

Menunggu bukanlah hal yang suka pria itu lakukan. Namun ia akan memberi kesempatan pada penelepon itu.

Kesempatan bukanlah hal yang juga mudah pria itu berikan. Tapi ia memberikannya secara gratis hari itu.

Karena ia sedang bermurah hati.

"Ethan," bisik suara penelepon itu dengan suara bergetar dan tercekat. Jika ia berbicara lebih dari satu kata itu, penelepon itu pasti akan tersedak.

Mata pria itu melebar beberapa milimeter. Ia tahu suara itu. Dimana pun pria itu berada, ia pasti akan mengenali suara itu. Suara yang sempat mengisi hari-harinya dan mimpi-mimpinya.

Sudah berapa lama ia tidak mendengar suara manis itu? Dua bulan? Enam bulan? Satu tahun? Satu dekade? Satu abad?

Jika memang selama itu, ia tidak tahu apakah memang ingatannya yang tajam atau karena suara itu membekas begitu mendalam hingga ia tahu siapa yang berada di sambungan teleponnya. Meski penelepon itu hanya menghembuskan namanya begitu lirih.

Pria itu menutup matanya sejenak untuk mengatur kembali emosi yang sempat berantakan. Satu panggilan dan ia merasa susunan kontrol dirinya mulai goyah, mengancam akan runtuh.

Ketika ia membuka matanya kembali, ia sudah bisa mengambil alih tubuh dan pikirannya kembali. "Jangan pernah meleponku lagi, Eleanor. Kamu mengganggu pekerjaanku."

Dengan demikian, pria bernama Ethan tersebut menutup sambungan telepon dari Eleanor.

***

MIGHTY MOBSTER & MAD MUSICIAN (SEASON 2)Baca cerita ini secara GRATIS!