21

14K 815 7

Maxim membuka pintu kamar secara perlahan dan melihat Carissa yang sedang berdiri di balkon. Setelah menutup pintu, ia berjalan menghampiri Carissa dan memeluk gadis itu dari belakang.

Ia merasakan tubuh mungil itu terperanjat. Carissa berbalik dan menatapnya dengan terkejut.

"Kau membuatku terkejut." Carissa mengelus dada. "Ada apa?"

"Varrel telah mengetahui siapa aku. Ia tidak hanya mencarimu, tapi ia juga mencariku dan Derek. Aku sangat mengkhawatirkan Derek." Maxim menghela napas sejenak, lalu melakukan. "Derek sebenarnya orang kepercayaan Varrel, namun ia berkhianat. Derek beserta istri dan anaknya sedang diburu oleh anak buah Varrel."

Mata Carissa seketika membulat, mendengar bahwa Derek telah berkeluarga. Raut wajahnya berubah khawatir, "bawa saja aku ke Varrel, Max. Maka semua masalah akan selesai."

Jika sampai seseorang tidak bersalah menjadi korban, lebih baik Carissa kembali saja. Seketika Maxim menggenggam tangan Carissa dengan erat, seolah Carissa benar-benar akan pergi darinya. Tatapannya berubah tajam, mendengar kalimat itu dari Carissa.

Reaksi berlebihan Maxim, membuat Carissa menatap lelaki itu takut.

Maxim tersadar dan melepas genggamannya. Pandangan takut Carissa membuat emosi Maxim hilang dalam sekejap. Bisa-bisanya emosinya tersulut dengan begitu mudah di depan Carissa.

Maxim menghembuskan napas, lalu menatap Carissa. "Tidak. Aku tidak ingin kau bersamanya."

"Tapi bagaimana dengan Derek?" tanya Carissa khawatir dan tampak frustrasi. Carissa hanya tidak ingin Derek dan keluarganya ikut terlibat karena dirinya.

"Saat kau kembali pulang, itu tidak akan merubah apapun. Varrel akan terus mencari keberadaan kami."

Maxim menunduk, melihat tangan mereka yang bertaut. "Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Jika kau bersama Varrel, hidupku tidak akan tenang, Carissa." Maxim menatap mata hijau itu lekat. "Sekarang, tempatmu yang paling aman di dunia ini hanyalah bersamaku, Carissa."

Maxim dapat melihat keraguan yang terpancarkan di mata gadis itu. Carissa masih belum mempercayainya sepenuhnya. Namun, itu tidak masalah bagi Maxim. Yang terpenting baginya adalah Carissa aman bersamanya.

Maxim mencium kening Carissa dengan lembut, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Carissa yang masih menatapnya.

Tidak lama kemudian, setelah kepergian Maxim, seorang pelayan menyiapkan makanan dan beberapa baju untuknya. "Terimakasih." ucap Carissa, lalu pelayan itu pergi.

***

Derek dan Karen-istrinya sedang mengemasi barang-barang yang penting. Mereka akan berangkat ke Portland secepatnya. Tiba-tiba terdengar tangisan anak mereka dari kamar mereka. Karen langsung menghampiri putra kecil mereka dan menggendongnya. Ia berusaha menenangkan putranya.

"Ansell, kamu kenapa nak? Jangan nangis lagi yaaa.." ucap Karen pada Ansell yang masih berumur tiga tahun itu.

"Karen, kita berangkat sekarang." ucap Derek datang menghampiri mereka, setelah memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil. Karen mengangguk.

Lalu mereka berjalan menuju pintu keluar, namun langkah Derek berhenti dan Karen ikut berhenti di belakangnya.

Derek mengisyaratkan untuk mundur. Karen mundur dan menyadari bahwa beberapa pria berjas hitam telah berdiri di depan mereka. Karen bertindak dengan cepat. Ia segera menuju kamarnya dan menurunkan Ansell di sana.

Karen mensejajarkan wajahnya pada wajah Ansell lalu mengecup kening putra kecilnya itu lama. "Kamu di sini dulu ya, nak. I love you so much." Karen tidak bisa lagi membendung air matanya, ia langsung memeluk tubuh mungil Ansell lalu kembali mencium Ansell dengan sayang.

"Mom," panggil Ansell dengan suara lucunya yang menggemaskan. Karena menatap wajah putranya sekali lagi dan tersenyum.

"Kami menyayangimu." Setelah mengucapkan itu, Karen berdiri dan segera menghubungi seseorang di ponselnya.

"Aku ingin kau ke sini. Namun, kau masuk dari pintu belakang dan bawa Ansell bersamamu." Setelah itu, Karen memutuskan sambungan singkat itu dan keluar kamar. Tidak lupa ia mengunci kamar dari luar, supaya Ansell tidak pergi kemana-mana.

Tidak lama kemudian, ia mendengar Ansell memanggilnya. Karen menarik napas, berusaha menguatkan dirinya. Ia berjalan menghampiri Derek.

Di sana ia melihat suaminya sedang berlutut tak berdaya di depan seorang lelaki tampan yang ia kenal. Varrel David Barnaby.

Saat Varrel menodongkan pistolnya ke arah Derek, Karen berlari ke arah suaminya. Tubuhnya bergerak begitu saja tanpa keraguan dan takut sedikitpun. Yang ia pikirkan hanyalah, ia harus melindungi suaminya.

Dor-dor..

Derek membelalak menatap tubuh istrinya tergeletak tak bernyawa di hadapannya. "Tidaaaaaaaaak!!" Derek menatap berang ke arah Varrel. Rasanya ia ingin membunuh Varrel dengan tangan kosong. Namun, tangannya diborgol oleh pengawal.

Varrel dengan ekspresi tidak bersalahnya, mendengus kesal karena tembakannya tidak tepat sasaran. Kemudian ia menembak Derek tepat di kepalanya. Dor..

Cukup dengan satu tembakan, Derek telah tumbang dan merenggang nyawa. Setelah melakukan hal kejam itu, Varrel menyerahkan pistol kepada anak buahnya. Terlihat sangat jelas, bahwa Varrel sudah biasa melakukan hal ini.

"Bereskan mayat tidak berguna ini." ucap Varrel lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak perlu mengkhawatirkan mayat Derek dan istrinya, karena anak buahnya sudah ahli dalam hal itu. Hal dalam memalsukan kronologis kematian seseorang.

Tak perlu berlama-lama di tempat itu, Varrel memerintahkan supirnya untuk segera berangkat. Masalah yang satu sudah selesai, sekarang tinggal Maxim.

***
Terimakasih udah tekan ⭐
Jangan lupa kasih saran di komentar yaa..

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang