Chapter XIX

1.6K 111 44

Hatiku sedang tidak terlalu bersahabat, bahkan Seli pun sampai sama sekali tidak menggodaku hari ini. Dan untungnya, Ali juga tidak masuk tadi.

Untungnya.

Atau sebaliknya? Ah, sudahlah.

Aku sendiri tidak tahu kenapa moodku jadi seperti ini.

Sudah tanggal berapa ini? Aku mengecek kalender di handphone. Sambil mencari-cari tanggal yang aku sudah tandai sebelumnya, aku menghitung kembali sejak terakhir kali aku datang bulan.

Dan ya, benar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari perkiraanku. Mungkin ini penyebabnya.

Aku menutup mata dan menghela nafas. Menatap langit-langit kamar.

Biasanya kalau sedang tidak ada pekerjaan, pikiranku akan mengarah sendiri ke satu hal. Yaitu, tentang identitas kedua orang tua asliku. 

Bukannya aku tidak suka memikirkan kedua orang tuaku ya. Hanya saja, setiap kali aku memikirkan mereka, rasa yang ada di dalam dadaku bercampur aduk. Bahagia, sedih, marah, dan bingung. 

Bahagia karena pada akhirnya, suatu hari nanti, aku bisa mengetahui misteri itu.

Sedih karena aku sudah tidak bisa lagi bertemu ibu biologisku, walapun jika nanti aku mengetahui identitasnya.

Marah karena lama-lama aku tidak sabaran untuk mengetahui semua hal tentang mereka. 

Dan bingung. Bingung karena.. Apakah semua umur orang dengan darah Klan Bulan bisa hidup hingga lama sekali? Kalau iya,

Apakah mungkin kalau saat ini ayahku masih hidup? Dan jika iya,

Apa yang akan aku katakan kepadanya jika kami pada suatu saat nanti kami bertemu?

Aku merasa jika semua pertanyaanku sendiri ini bisa-bisa dijadikan buku, karena sangat banyak jumlahnya. Dan aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Perasaanku menjadi sedikit berat. Rasanya, aku sangat ingin menangis. Entah karena memang fase ini atau karena rasa yang bercampur aduk ini. Kacau rasanya. Aku tahu, mungkin hal ini adalah hal yang normal bagi remaja sepertiku. Pasti akan ada saatnya di mana aku butuh istirahat.

Istirahat dengan cara menangis. Menurut orang-orang, itulah salah satu cara untuk menenangkan hati. Dan aku setuju dengan hal itu karena, aku sudah mulai mengeluarkan air mata sekarang.

Aku berbalik badan, menutup wajah dengan bantal. Takut orang tuaku akan mendengar jika siapa tahu nanti aku sampai terisak-isak.

Lelah, diriku sedang lelah sekarang. 

Aku tahu hal itu. Banyak hal yang membuatku lelah. 

Mulai dari pekerjaan sekolah, hingga urusan di dunia paralel. Tetapi tak apa, sehabis menangis, pasti aku akan kembali tenang. Kedua hal tersebut adalah hal yang sangat penting bagiku yang mana mungkin aku bisa lupakan dari pikiranku. 

"Meoooong~" Putih tiba-tiba bersuara dari bawah kasur. Aku segera menoleh.

Oh, aku hampir lupa kalau ada Si Putih. 

Kakinya terlihat sedang bersiap-siap untuk naik ke kasur. Dan hap! ia mendarat dengan sempurna di dekat kakiku. "Sini, Put." Aku melambaikan tanganku ke arah Si Putih, seakan-akan aku tahu kalau dia akan menurut. Dan benar, dia segera mendekatiku.

Aku terbangun dari posisiku menjadi posisi duduk.

Tanpa disuruh lagi, Putih sudah naik ke pangkuanku. Aku hanya tersenyum sambil mengelusnya. Aku senang Si Putih bisa menghiburku di kala aku sedang dalam situasi seperti ini. Seakan-akan ia tahu kalau aku sedang tidak dalam mood yang baik.

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now