19

14.5K 756 3

Varrel menatap dengan penuh amarah ke arah pesawat yang sudah lepas landas itu. Sialnya, ia baru menyadari bawahan kepercayaan-nya, Derek, adalah seorang pengkhianat. Begitu juga dengan pengawal keluarga Zacrie itu.

Varrel kembali ke mobilnya dan segera pergi dari tempat itu. Ia akan merencanakan sesuatu. Tunggu saja. Sampai mati pun ia tidak akan membiarkan dua orang itu tenang. Karena, Varrel sangat membenci dengan seorang pengkhianat.

Kini Varrel sudah berada di mansion keluarga Zacrie. Varrel masuk ke dalam mansion itu dan menghampiri William dan Riana yang telah menunggu kedatangannya dan putri mereka.

"Pengawalmu telah membawanya. Dia telah berkhianat." ucap Varrel dengan dingin.

"Kenapa kau tidak mengatakan, bahwa pengawalmu itu ikut, Sir Zacrie?" tanya Varrel dengan pandangan tajam ke arah William.

"Aku hanya ingin putriku benar-benar aman." jawab William.

Varrel tertawa begitu keras dan terdengar mengerikan. Riana mendengar itu bahkan terkejut, tidak menyangka calon menantunya yang selama ini ia kenal sangat sopan, tertawa seperti itu.

"Kenapa kau lakukan ini padaku William? Kenapa kau membiarkan pengawalmu membawa putrimu untuk kedua kalinya? Apa kau pikir aku tidak tahu?"

"Jaga sikapmu Mr. Barnaby. Suamiku tidak mungkin seperti itu." Sergah Riana tidak terima. Pandangannya berubah menjadi bingung saat beberapa pengawal Varrel masuk ke dalam mansion dengan membawa senjata.

William yang melihat itu menatap Varrel berang, "Apa-apaan ini Varrel?"

Pengawal Zacrie yang handal cukup peka akan situasi seperti ini. Mereka segera mempersiapkan senjata handal mereka, untuk melindungi tuan mereka.

"Putrimu memang cantik dan aku menginginkannya. Tapi, yang aku incar selama ini bukan hanya putrimu, tapi hartamu." jelas Varrel cukup membuat William dan Riana terkejut.

"Serang mereka!!!!" perintah William pada pengawalnya yang sudah bersiap lalu menghampiri istrinya dan pergi menjauh dari tempat itu.

Namun, pengawal Varrel semakin banyak memasuki mansion itu dan menyerang lawan mereka dengan profesional. Varrel sangat hebat, mempersiapkan bawahannya dalam hal bertarung dan Varrel terlihat jelas bahwa ia telah merencanakan ini dengan matang. Sehingga banyak pengawal Zacrie tergeletak tewas akibat serangan dari pengawalnya.

***

Maxim menatap Carissa yang tertidur. Ia melepaskan sabuk pengaman pada pinggang gadis itu lalu menyandarkan kepala gadis itu pada bahunya dan mengusapnya dengan lembut. Tiba-tiba ia merasakan tubuh Carissa terperanjat lalu mata terang itu menatap ke arah Maxim dengan raut khawatir.

"Max, orangtuaku..." ucapnya dengan raut cemas. Maxim bisa merasakan sekujur tubuh gadis itu bergetar.

Maxim berusaha untuk menenangkannya, "tidak apa-apa. Mereka baik-baik saja."

"Max," panggil Carissa lagi. Maxim berdeham, menyahutnya. Sepertinya Carissa mulai melupakan kejadian beberapa jam lalu.

Carissa baru saja memimpikan kedua orangtuanya yang berteriak memanggil namanya. Hal itu membuat gelisah dan mulai menangis.

"Max, aku mohon. Aku ingin mengetahui apakah orangtuaku baik-baik saja atau tidak."

Mata biru Carissa yang menangis dan memohon padanya, membuat Maxim tidak tega. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Carissa.

"Baiklah. Aku berjanji mereka akan baik-baik saja." Setelah mengucapkan itu Maxim meraih kepala Carissa agar bersabar di dadanya.

Carissa tidak menolak, ia mendekat dan menutup mata. Ia sudah lelah untuk memberontak atau bahkan berusaha kabur dari hal ini semua. Maxim selalu saja mampu membuatnya merasa nyaman dan kadang membuatnya merasa takut. Carissa seharusnya mengambil sisi positif-nya saja. Karena, tidak ada seorang pun selain Maxim, membuatnya terasa aman seperti ini.

Carissa melingkarkan lengannya pada perut Maxim. Maxim tampak menerimanya dengan tersenyum tipis lalu mencium puncak kepala Carissa. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji."

***

Carissa merasakan guncangan dan terbangun. Ia mengerjapkan matanya lalu mendapat Maxim yang tengah menatapnya.

"Carissa, bangun. Kita sudah sampai." ucap Maxim. Carissa menegakkan tubuhnya lalu menatap sekitar. Mereka sudah sampai di bandara, namun Carissa masih belum tahu di mana mereka sekarang.

Maxim menuntunnya turun dari pesawat. "Kita sekarang berada dimana?" tanya Carissa.

"Los Angeles."

Carissa hanya mengangguk dan tidak menanyakan kenapa Maxim membawanya sampai sejauh ini. "Aku baru kali ini ke tempat ini." ungkap Carissa.

Mereka menghampiri mobil yang telah menunggu. Pengawal membukakan pintu untuk mereka berdua.

"Max, apa orangtuaku baik-baik saja?" tanya Carissa setelah mereka masuk ke dalam mobil.

Maxim menggenggam tangan Carissa dengan erat, lalu menciumnya. "Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja."

Carissa menatap Maxim lekat. Masih begitu banyak pertanyaan yang membingungkan di kepalanya, namun ia memilih untuk bungkam.

***

Mereka telah sampai di sebuah mansion. Lagi-lagi di mansion. Carissa benar-benar sudah muak dengan bangunan kelewat luas itu. Kenapa Maxim membawanya ke tempat ini? Apakah lelaki itu ingin mengurungnya lagi, seperti yang dilakukan oleh ke dua orangtuanya dan Varrel?

Pengawal telah membukakan pintu untuk mereka berdua. Carissa keluar dari mobil dan menatap mansion itu. Bukan ini yang ia inginkan, batinnya frustrasi.

Maxim menggenggam tangan Carissa, membuat Carissa menatap lelaki itu dengan pandangan dingin. "Apa kau ingin mengurungku lagi?" Carissa benar-benar trauma dengan kejadian setahun yang lalu.

Maxim tersenyum dengan tulus. Ia menggengam kedua tangan Carissa dan menatap Carissa lekat. "Menahanmu seperti tahun lalu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan selama hidupku dan aku tidak ingin melakukannya lagi. Apa yang telah kulakukan tahun lalu, itu semua kulakukan karena aku takut kehilanganmu. Kumohon percayalah padaku." Apa saja akan Maxim lakukan, demi mendapatkan kepercayaan Carissa.

Carissa menatap tatapan dalam itu. Ia berusaha mencari kebohongan di sana, namun nyatanya ia tidak menemukannya. Mendengar itu, Carissa menjadi bimbang. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.

"Aku sudah terlanjur di sini dan aku lelah. Tapi, kumohon jangan mengekangku. Kau tahu, kenapa selama ini aku kabur, kan? Karena aku tidak suka dikurung seperti tahanan yang pernah orangtuaku, kau, dan Varrel lakukan. Itu saja." Mata Carissa mulai berkaca-kaca namun ia berusaha untuk tidak menangis.

Maxim membawa Carissa ke dalam pelukannya. "Maafkan, aku." Tanpa ia sadari, air mata mengalir dari matanya. Untuk pertamakalinya, Maxim menyesali perbuatan yang telah ia lakukan. Yaitu, menyakiti Carissa.

***

Terimakasih udah tekan ⭐
Jangan lupa komen yaaa..

Follow ig : capicoree

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang