9. Telat

460 43 19


“Cinta adalah sebuah perhatian kecil yang selalu ada disetiap harimu.”

🌞🌞🌞

Seorang cewek dengan tubuh dibalut kemeja putih, rok hitam selutut dan jas sekolah yang berwarna hitam itu mengembuskan napas kasar menatap pintu gerbang yang tertutup. Jelas saja, dia tiba di sekolah jam 07.45, lima belas menit lagi tepatnya jam delapan upacara selesai.

"Apes banget dah," gumamnya seraya menendang-nendang pagar pelan. Kepalanya menengok kanan dan kiri, mencari seseorang yang bernasib sama dengannya, tapi sayang tidak seseorang di sana, hanya dirinya.

"PAK BUKAIN DONK!" Teriaknya sambil menarik-narik pagar, mencoba mencari keberadaan satpam yang biasa berjaga dan lagi-lagi hasilnya nihil.

"Gara-gara Luna nih ngirimin drama korea, gue jadi begadang nontonnya, abis seru banget gitu bikin baper," gerutunya.

Suara deru motor membuatnya berhenti dari pergerakannya, dengan cepat dia menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat ada seseorang yang bernasib sama dengannya.

"Kevan?"

Kevan tidak turun dari motor, ia hanya melepas helm fullface-nya dan melihat pergelangan tangan sebelum memakai kembali helmnya--tanpa melihat Ariana-- pergi dari sana.

Secara refleks, Ariana mengejar motor itu dari belakang dan untungnya kecepatan motor itu tidak tinggi sehingga ia bisa menyusul. Ariana membungkuk, memegang kedua lututnya dengan napas putus-putus ketika melihat motor hitam itu berhenti tepat di sebuah warung yang terletak di belakang sekolah.

Ariana mengerutkan keningnya, melihat pengemudi itu turun dan berjalan masuk ke dalam warung berbincang sedikit dengan penjaga warung itu, kemudian keluar menatapnya dengan kedua tangan berada di saku.

"Lo ngikutin gue?!" Ariana tidak menjawab ia hanya cengengesan menatap Kevan.

"Lo mau bolos ya?" Tanyanya menyipitkan mata, menunjuk-nunjuk Kevan dengan jari telunjuk.

"Siapa yang bolos?"

"Lah, trus lo mau ke mana?" Ucapnya seraya memiringkan kepalanya. Kevan menggidikkan dagu ke kanan Ariana, sontak Ariana mengikuti arah pandang cowok itu.

Ariana membelalak, mulutnya terbuka. "Lo mau panjatin dinding belakang sekolah?" Kevan mengangguk dan pergi ke sana. Ariana-pun hanya mengikutinya dari belakang.

"Lo serius?" Celetuk Ariana memandang dinding berwarna putih yang tingginya melewati tubuh kecilnya. "Gimana caranya gue naik?" Ariana mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, kebiasaan ketika sedang berpikir.

Cewek itu memandangi Kevan yang juga memandangnya dengan datar. Senyumnya langsung merekah ketika mendapatkan ide. Sedangkan, Kevan yang sedang di pandangi Ariana dengan senyum misterius, bergidik ngeri.

Sepertinya firasat gue buruk nih, batinnya.

"Kevan yang baik hati dan tidak sombong, bantuin Nana donk, Nana mau sekolah kagak mau bolos, kalau bolos nanti papa Nana bakal marah, nanti kalo papa marah Nana dihukum, Nana takut kalo papa marah," cerocos Ariana seraya mendekat dan memeluk lengan Kevan dengan manja seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.

Tuh kan. "Dasar manja," ucap Kevan, melepaskan tangan Ariana dari lengannya yang membuat Ariana mengerucutkan bibirnya. "Siniin tas lo!" Ariana mengerutkan kening, lalu memberikan ranselnya ke tangan Kevan. "Lo bawa laptop?" Ariana menggeleng. "Handphone lo?" Lagi-lagi Ariana mengerutkan dahi bingung, tapi tetap menunjukkan benda pipih berwarna rose gold yang ia ambil di saku.

Memory Of The PastRead this story for FREE!