18

15.1K 888 4

Carissa menatap pintu yang telah tertutup itu. Maxim pergi. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Ia bingung, kenapa ia menerima ciuman itu.

Carissa menyentuh bibirnya. Sampai sekarang ia masih merasakan ciuman lembut itu. Carissa membaringkan tubuhnya di ranjang menunggu lelaki itu kembali. Sekarang ia sudah bebas. Lalu apa yang akan ia rencanakan sekarang? Andrea telah meninggal dan ia tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah dan ibunya.

Maxim kembali dengan membawa pakaian untuknya. Carissa merasa harus mengganti pakaiannya, karena gaun yang dikenakannya sekarang terlalu sesak di tubuhnya.

Setelah mengganti pakaiannya, Carissa keluar dari kamar mandi dan melihat Maxim yang berdiri membelakanginya sedang memakai bajunya.

Carissa melihat tato itu untuk kedua kalinya, lalu teringat kejadian setahun yang lalu. Saat selesai Maxim berbalik dan melihat Carissa. Carissa segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun sepertinya Maxim menyadari bahwa Carissa telah menatapnya.

"Tidurlah, besok kita akan berangkat." ucap Maxim menatap Carissa dari bawah sampai atas dengan lekat.

Carissa menatap Maxim, "kemana?"

"Tidurlah Carissa, ini sudah larut." Maxim menghela napas dan Carissa dapat melihat raut kelelahan di wajah lelaki itu.

"Baiklah. Tapi, sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Tanyalah." ucap Maxim sembari membaringkan tubuhnya di sofa.

"Siapa nama lengkapmu?"

"Maximielo Navvaro Osiel."

Carissa mengangguk. Ia tidak mengenal nama keluarga itu bahkan sama sekali tidak pernah terdengar di media. Tidak seperti nama keluarga Zacrie dan Barnaby.

Carissa membaringkan tubuhnya lalu ia memperhatikan Maxim yang tidur di sofa. "Apa kau nyaman tidur di situ?" tanya Carissa prihatin lalu ia mengubah posisinya menjadi duduk agar bisa menatap Maxim. "Kau bisa tidur di sampingku."

"Apa tidak apa-apa?" tanya Maxim.

Carissa mengangguk, "aku pikir kita sudah pernah.."

"Sudah pernah apa Carissa?" tanya Maxim tersenyum tipis lalu mendekat ke arahnya.

"Tidur bersama. Bukan dalam artian itu.."

Maxim berbaring dan menatap Carissa. Tatapan itu. Astaga, Carissa seperti terhipnotis oleh tatapan dalam itu. Carissa berhenti menatap mata itu dan ikut berbaring.

"Maximielo Navvaro Osiel." ucap Carissa pelan seperti bisikan.

"Ya, Carissa?"

Suara itu. Carissa menyukai suara bariton yang menenangkan itu menyebut namanya. "Aku merasa tidak asing, mendengar nama lengkapmu dan sepertinya aku pernah mendengar suaramu sejak lama." Carissa menatap langit-langit kamar dan berusaha mengingat sesuatu, tentang masa lalunya. Tanpa disadarinya, Maxim menatapnya begitu dalam.

"Mungkin itu hanya perasaanku saja. Good night." Lalu tatapan mereka bertemu. Setelah itu, Carissa segera mengalihkan pandangannya dan mengubah posisinya membelakangi Maxim. Carissa masih merasakan pandangan Maxim tertuju padanya, namun ia menutup matanya dan berpura-pura tidak tahu.

***

Keesokannya, Maxim membawa Carissa ke bandara. Carissa melihat Derek yang telah menyiapkan pesawat pribadi untuk mereka. Carissa mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang tidak beres.

Maxim tidak memberi tahu kemana akan membawanya pergi, lalu mereka akan pergi menaiki pesawat. Sudah pasti Maxim membawanya ke tempat jauh lagi.

Itu membuat Carissa tidak mempercayai lelaki itu sampai detik ini. Carissa tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Maxim berhenti dan menatapnya bingung.

"Aku tidak akan pergi. Aku ingin pulang." ucap Carissa, tiba-tiba ia merasa tidak enak. Ia teringat kedua orangtuanya.

Maxim menatapnya serius, "lalu kau akan menikah dengan Varrel?"

Carissa menatap Maxim begitu lama. Ia teringat kejadian setahun lalu yang begitu mengerikan saat bersama Maxim dan betapa bodohnya ia akan pergi dengan orang yang sama sekarang. Bagaimana ia bisa mempercayai lelaki yang penuh misterius ini

Carissa menggeleng. "Aku pikir, dengan kabur tidak akan menyelesaikan masalah Max."

"Lalu kau akan menikah dengan Varrel?" tanya Maxim dengan pertanyaan yang sama dan penuh emosi yang tertahan. Carissa merasa cekalan di tangannya begitu kuat hingga ia meringis kesakitan.

Carissa menatap mata Maxim yang menatapnya begitu tajam, sama persis seperti kejadian satu tahun yang lalu. Seketika sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Ia menyesal telah meninggalkan pesta semalam. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Kini Maxim menariknya dengan paksa untuk masuk ke dalam pesawat nya. Carissa menatap Derek yang tampak hanya berdiam diri memperhatikan mereka.

Carissa kembali memberontak dengan sekuat tenaganya.

Dor-dor..

Suara tembakan terdengar dan mengarah ke arah mereka dan mengejutkan mereka.

Melihat kehadiran Varrel, membuat Maxim tidak bisa lagi menahan amarahnya. Maxim menoleh ka arah tempat Derek berada. Ternyata lelaki itu sudah pergi.

Carissa juga tidak menyangka Varrel akan mengejarnya sampai sejauh ini.

"Ternyata kau." teriak Varrel menatap Maxim dengan menodong pistolnya ke arah lelaki itu. Sial, Varrel membawa pengawalnya begitu banyak.

Carissa menatap Maxim dan Varrel bergantian, lalu ia menatap Varrel yang menatapnya.

"Pulanglah sayangku. Tidakkah kau tahu, betapa sakitnya hatiku melihat tunanganku bersama pria lain." Varrel menatap Carissa dengan smirk.

Maxim yang mendengar itu, semakin memperkuat cekalannya pada tangan Carissa. Tiba-tiba beberapa polisi datang dan maju membelakangi mereka sembari menodongkan pistol ke arah Varrel dan beberapa pengawalnya.

Maxim tidak ingin membuang-buang waktu, ia segara menggendong Carissa dan membawanya masuk ke dalam pesawat.

"Tidak! Lepaskan Max!! Lepaskan aku!"

Teriakannya tidak digubris sama sekali oleh Maxim. Maxim membawanya masuk dan langsung meletakkan Carissa di bangkuny. Ia memasangkan sabuk pengaman pada Carissa lalu ia duduk di samping gadis itu.

Tidak lama kemudian empat orang berpakaian seperti pengawal masuk ke dalam pesawat. "Mereka sudah pergi, bos dan sebentar lagi kita akan take off." ucap salah satu dari mereka.

Carissa yang mendengar itu menggeleng, "tidak tidak. Turunkan aku sekarang. Aku tidak ingin pergi Max."

Sepertinya ucapan Carissa tidak digubris sama sekali oleh mereka. Para pengawal menuju ruangan yang berbeda dan duduk di sana. Kini hanya Maxim dan Carissa yang berada di ruangan itu.

Carissa duduk gelisah saat pesawat telah lepas landas. "Kenapa kau lakukan ini padaku?" tanyanya menatap Maxim dengan frustrasi.

"Aku melakukan ini, karena kau adalah milikku Carissa. Milikku seorang."

****

Heloooooo
Kasih ⭐ ya guys...
Yuukk follow ig aku: capicoree (Dm for follback)

Thx..

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang